Surat dari Darmaga | 07 Oktober 2019

Ilmu Kehutanan Ketinggalan Zaman?

Harus kita akui ilmu kehutanan gagal membuat hutan kita lestari. Perlu paradigma baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Hariadi Kartodihardjo

Guru Besar Kebijakan Kehutanan Fakultas Kehutanan IPB

SEJAUH ini, aturan mengelola hutan ditetapkan berdasarkan sifat-sifat bio-fisik hutan. Itu terlihat, misalnya, dalam inventarisasi, pemanenan, konservasi, maupun reboisasi. Cara itu mengakibatkan kebijakan kehutanan seperti punya diskursus tersendiri, tidak memiliki relasi kuat dengan ilmu lain seperti ilmu institusi maupun rumpun ilmu-ilmu sosial-politik umumnya.

Dengan begitu, kebijakan kehutanan tidak cukup memperhatikan perilaku mereka yang terlibat di sektor ini sebagai dasar pengambilan keputusan sehari-hari. Padahal keputusan mereka banyak dipengaruhi pilihan rasional (rational choice) maupun ekonomi perilaku (behavioral economics). Para pembuat kebijakan pada umumnya menganggap pengusaha, masyarakat maupun pegawai pemerintah sebagai pelaku pasif dan harus tunduk pada sanksi dalam peraturan-peraturan tersebut, yang banyak jumlahnya. 

Ada tiga buku yang menyangkal cara berpikir seperti itu.

Buku pertama disusun oleh Shashi Kant dan Albert Berry, berjudul “Institutions, Sustainability, and Natural Resources: Institutions for Sustainable Forest Management“ yang terbit tahun 2005. Secara umum buku ini mengulas bagaimana perspektif teori institusi—segala bentuk perlakuan yang menentukan perilaku dalam mewujudkan pengelolaan hutan lestari. Di sana secara jelas diterangkan kelemahan-kelemahan kebijakan pengelolaan hutan yang menganggap para subjek di dalamnya berlaku pasif.

Shashi Kant lalu menerbitkan buku kedua pada 2013. Judulnya “Post-Fautsmann Forest Resources Economic”. Di dalamnya membicarakan pergeseran paradigma ekonomi kehutanan yang didasarkan pada formulasi Faustmann, nilai harapan lahan yang diajukan seorang rimbawan Jerman, Martin Faustmann, pada 1849. Formulasi itu mengajukan rumusan dengan menangkap beberapa ciri dasar ekonomi, seperti teori kapital yang tidak diakui oleh ekonom besar pada saat itu.

Para penganut pendekatan Faustmann telah terjebak masa lalu, menyebabkan paradigma pengelolaan hutan saat ini cenderung menerapkan pendekatan tunggal untuk semua situasi. Akibatnya, sudut pandang ekonomi dituangkan dalam kebijakan kehutanan mengikuti kelemahan idealistik ekonomi neoklasik, yang berakibat inefisiensi ekonomi di sektor kehutanan. Dalam ekonomi neoklasik, inefisiensi disebabkan oleh posisi “terkunci” cara pikir ekonomi rasional (rational economic), sementara inefisiensi ekonomi kehutanan disebabkan oleh posisi “terkunci” cara pikir Faustmann.


Selama 163 tahun (1849-2012), faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pengelolaan hutan telah berubah sangat pesat, tidak lagi sekadar konsep manajemen hutan (baca: kayu). Selama periode panjang itu, banyak aliran ekonomi baru, seperti ekonomi berbasis agen (agent-based economics), ekonomi perilaku (behavioral economics), teori kompleksitas (complexity theory), ekonomi ekologi (ecological economics), teori permainan evolusioner (evolutionary game theory), teori pilihan sosial (social choice theory) serta teori pilihan publik (public choice theory), yang memperluas cakrawala pemikiran ekonomi jauh melampaui ekonomi neoklasik yang mendasari formulasi Faustmann.

Buku ketiga memformulasikan cara pikir dua buku sebelumnya: “Tropical Forestry Handbook” yang disunting Laslo Pancel dan Michael Kohl (ed), terbit tahun 2016. Di sini disebutkan bahwa di negara-negara tropis kerusakan hutan disebabkan oleh ketidakpatuhan para subjek itu terhadap undang-undang dan akibat tata kelola yang buruk. 

Problem ketidakpatuhan ini juga dipicu oleh korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Dalam bab mengenai Forest Crime in the Tropic pada halaman 3.525 dijelaskan bahwa penyebab korupsi umumnya karena tiadanya transparansi dan konflik kepentingan.

Jika buku ketiga ini menjadi acuan maka tata-kelola kehutanan yang baik (good forestry governance) harus menjadi prasyarat terwujudnya kelestarian hutan. Dengan kata lain, sejak awal pendidik kehutanan mesti memasukkan kurikulum antikorupsi. Agaknya, soal ini sudah ditangkap pemerintah sekarang. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menerbitkan aturan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi.

Sejauh ini, memang, kebijakan kehutanan di Indonesia belum mengikuti perkembangan teori-teori baru ataupun memperluas lingkup konseptualisasi kehutanan maupun tingkat praksisnya. Ilmu kehutanan melupakan konteks zaman yang menuntut adanya penyesuaian instrumen ekonomi dan institusi serta memperhatikan faktor anti-korupsi sebagai syarat kelestarian hutan. Juga luasnya cakupan ruang politik kehutanan yang harus dilihat dari berbagai perspektif keilmuan.

Kita bisa memulainya dengan mengakui bahwa cara pikir mengelola hutan saat ini telah gagal mewujudkan tujuan utama ilmu ini dibangun, yakni membuat hutan lestari. Setelah itu kita mesti mengonsolidasikan berbagai disiplin ilmu untuk mengupas persoalan-persoalan kehutanan. 

Dalam hal ini, nasihat Charles Darwin, bapak evolusi yang meninggal pada 1882 itu, layak didengar dan dipertimbangkan karena relevan: It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change”. Mempertahankan kehidupan bukan soal kekuatan atau kecerdasan, tetapi bagaimana kita merespons perubahan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Risiko Hibah Norwegia dalam Mencegah Pemanasan Global

    Pemerintah Norwegia mengucurkan hibah Rp 813 miliar. Indonesia makin terikat pada target program menurunkan emisi dalam mitigasi pemanasan global.

  • Kabar Baru

    Benarkah Menanam Pohon Tak Mencegah Pemanasan Global?

    Ada studi terbaru yang menyebutkan menanam pohon tak banyak berguna mencegah pemanasan global. Apa itu pengertian pemanasan global?

  • Surat dari Darmaga

    Masa Depan Pembangunan Papua

    Jika aktor-aktor pembangunan Papua tidak berubah dalam melihatnya sebagai ekoregion, wilayah ini akan jalan di tempat. Masa depan pembangunan Papua tak akan ke mana-mana, sementara kredibilitas negara akan semakin melorot.

  • Surat dari Darmaga

    New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

    Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.