Surat dari Darmaga | 05 Agustus 2019

Trembesi vs Lidah Mertua: Mana Lebih Kuat Menyerap Polusi?

Kelebihan dan kekurangan trembesi dan lidah mertua dalam menyerap polusi. Tak sepadan membandingkannya.

Endes N. Dahlan

Dosen Hutan Kota dan Jasa Lingkungan Fakultas Kehutanan IPB

PEMERINTAH DKI Jakarta hendak mengurangi polusi udara Jakarta yang dilaporkan semakin tidak sehat akibat asap kendaraan bermotor, pabrik, dan aktivitas manusia. Salah satu dari delapan cara mengatasinya melalui penanaman pohon. Pemerintah hendak membagikan tanaman hias lidah mertua. Untuk jangka panjang sebaiknya menimbang trembesi yang punya nama Latin Albizia saman atau sinonim dengan Samanea saman.

Trembesi disebut juga pohon hujan atau Ki Hujan. Orang Inggris menyebutnya rain tree karena daunnya meneteskan air ketika hujan. Trembesi merupakan pohon besar dengan ketinggian bisa mencapai 20 meter bahkan 30 meter dengan percabangan tajuk yang sangat lebar. Ki Hujan mempunyai jaringan akar yang luas, sehingga kurang cocok ditanam di pekarangan karena bisa merusak bangunan.

Ketika pemerintahan dipimpin oleh Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, dalam rangka gerakan one man one tree, ia menggalakan penanaman pohon trembesi di seluruh wilayah Indonesia karena satu batang trembesi dewasa, dengan percabangan lebih dari 15 meter, mampu menyerap 28,5 ton gas setara karbon dioksida (CO2) per tahun. Di lingkungan Istana Negara terdapat dua batang pohon trembesi yang ditanam oleh presiden pertama Ir. Soekarno yang masih terpelihara dengan baik hingga kini.

Di beberapa daerah di Indonesia, pohon ini sering disebut Kayu Ambon (Melayu), TrembesiMunggurPunggurMeh (Jawa), Ki Hujan (Sunda). Dalam bahasa Inggris pohon ini mempunyai beberapa nama seperti, East Indian Walnut, Rain TreeSaman TreeAcacia Preta, dan False Powder Puff. Di beberapa negara Pohon Trembesi disebut Pukul Lima (Malaysia), Jamjuree (Thailand), Cay Mura (Vietnam),Vilaiti Siris (India), Bhagaya Mara (Kanada), Algarrobo (Kuba), Campano (Kolombia), Regenbaum (Jerman), Chorona (Portugis).

Tumbuhan ini diperkirakan berasal dari Meksiko, Peru, dan Brazil. Sekarang telah tersebar ke seluruh daerah beriklim tropis termasuk Indonesia. Trembesi pada mulanya diketahui tumbuh di savana yang minim air. Kemampuan tumbuh di savana menunjukkan, pohon ini tidak memiliki evaporasi yang tinggi. Jadi sangat salah kalau ada orang yang mengatakan pohon ini sebagai penguras air tanah yang kuat.

Perbandingan emisi karbon sebelum dan sesudah aturan ganjil-genap nomor mobil di Jakarta (Sumber: BPTJ)

Saya pernah diundang Presiden Yudhoyono untuk memberikan pembekalan penanaman trembesi pada 13 Januari 2010 di Istana Negara. Jenis pohon utama untuk memerangi global warming adalah trembesi karena berdasarkan penelitian, dibandingkan 43 jenis tanaman pada 2008, trembesi yang memiliki daya serap polusi tertinggi, bahkan jika ditambah 26 jenis tanaman lain, daya serap karbon dioksida trembesi tetap terbesar.

Trembesi termasuk jenis yang "die hard". Di tanah kering kurang hujan (savana) dia mampu hidup, namun di daerah banyak air, dasar sungai yang becek, dia juga bisa hidup. Trembesi juga memiliki sistem perakaran yang mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium untuk mengikat nitrogen dari udara, sehingga pertumbuhannya dapat subur walaupun kurang mendapatkan pupuk nitrogen. Dengan demikian Trembesi bisa hidup di lahan-lahan marginal dan kritis, seperti bekas tambang, bahkan mampu bertahan pada keasaman tanah yang tinggi. Pohon ini bisa mencapai usia 300-500 tahun.

Dengan “daya teduh” yang bagus dan kemampuan penyerapan karbon dioksida yang sangat besar—terlepas dari segala kekurangannya—maka pohon seperti trembesi cocok dijadikan pilihan pohon andalan untuk mengisi ruang terbuka hijau yang semakin lama semakin berkurang di lingkungan sekitar kita, tergantikan oleh “hutan beton”.  Tidak mengherankan bila sejak tahun 2006 Organisasi Kesehatan Dunia menilai bahwa kualitas udara Jakarta terburuk ketiga setelah Kota Meksiko dan Bangkok.

Perbandingan daya serap lidah mertua dan trembesi setara CO2

Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007. Salah satu unsurnya adalah bahwa dalam kawasan perkotaan harus tersedia RTH sebesar 10% RTH privat dan 20% RTH publik. RTH privat adalah RTH yang berada dalam ruang terbangun seperti lingkungan perumahan, sementara RTH publik adalah RTH yang berada dalam ruang terbuka (publik) di kawasan perkotaan. Diperlukan sekali hadirnya 30% RTH di kawasan kota-kota di Indonesia. Keberadaan RTH sebesar 30 persen nantinya akan mengurangi kadar konsentrasi sulfur dioksida (SO2) sebesar 70 persen, dan nitrogen (NO2) sebesar 67 persen.

Lalu bagaimana dengan gas CO (karbon monoksida)? Gas ini sangat beracun. Afinitas gas CO jika bergabung Hb menjadi HB-CO sebanyak 200 kali lebih kuat dibandingkan dengan Hb-O2. Oleh sebab itu, walaupun konsentrasinya hanya 10-20 ppm di dalam mobil bisa meracuni penumpang. Pengendara bisa menderita pusing, kelelahan bahkan kematian. Pernah terjadi seorang ibu yang membawa anaknya berbelanja meninggalkan anaknya di mobil karena tertidur. Mesin mobil tetap menyala sepanjang ia berbelanja. Ketika kembali si anak sudah meninggal.

Tidak seperti gas polutan, gas CO kurang bisa diserap oleh cairan plasma daun. Jadi sebaiknya ketika mengendarai mobil kecil dengan penumpang banyak, pengendaranya harus sering membuka jendela agar gas CO yang ada dalam mobil ke luar berganti dengan udara relatif bersih.

Allah sayang dengan sifat "rahman dan rahim”, kasih sayang pada manusia menciptakan mekanisme penyerap gas CO melalui mikroorganisme yang ada pada humus dan serasah pada tanah. Dalam dunia penelitian, pernah diuji dua sungkup kaca tertutup rapat yang berisi tanah. Satu sungkup diberi desinfektan dan lainnya tidak. Ternyata tanah yang diberi desinfektan konsentrasi gas karbon monoksidanya tetap, sedangkan yang tidak diberi desinfektan konsentrasi CO menjadi 0 ppm.

Jadi daun yang jatuh jangan dibakar. Serasah yang berasal dari dedaunan yang jatuh serta humusnya harus dibiarkan sebagai penyerap gas CO yang kemudian bisa kita jadikan humus, pupuk penyubur tanaman.

PT Djarum pernah melakukan banyak penanaman trembesi di Jawa, Bali dan Lombok. Baik di kiri kanan jalan maupun di berbagai kawasan perkotaan, agar nanti sekitar 10-15 tahun setelah penanaman, pepohonan tersebut dapat menyerap gas CO2 melalui proses fotosintesis yang tentunya berperan dalam mengurangi dampak buruk global warming.

Pohon paling kuat menyerap emisi

Lalu bagaimana dengan lidah mertua (Sansevieria)? Tumbuhan ini tinggi maksimalnya sekitar 75 sentimeter dan lebar daunnya sekitar 3 sentimeter. Jadi jika dibandingkan dengan trembesi, luasan daunnya sangat kalah. Sehingga kemampuan serapan gas polutannya juga rendah. Trembesi bisa menjadi tumbuhan peneduh juga untuk habitat satwa liar.

Marilah kita menanam pohon yang banyak, termasuk trembesi, di area terbuka. Selain untuk kesejukan dan keteduhan, juga menjadi "paru-paru" untuk kita wariskan kepada anak, cucu, dan generasi penerus kita.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.