Kabar Baru | 01 Agustus 2019

Cara Cina Menurunkan Polusi Beijing

Pemerintah Cina membuat kebijakan berlapis untuk menurunkan polusi di Ibu Kota Beijing. Dari kebijakan proteksi lingkungan, energi, industri, transportasi, hingga kampanye masif agar penduduk andil mengurangi polusi.

Redaksi

Redaksi

PADA mulanya adalah keterbukaan pemerintah pada keadaan. Kendati gaya kekuasaan Tiongkok otoriter dan otoritatif, pemerintah Cina melakukan hal radikal dan berbeda ketika mereduksi polusi di Ibu Kota Beijing sejak 1998. Mereka membuka data polusi di ruang-ruang publik untuk menumbuhkan kesadaran penduduk ikut andil dalam mereduksi polusi.

Tak hanya di baliho di tengah kota dan jalan utama, pemerintah memakai telepon seluler dan media massa ketika mengumumkan peringatan dini serta data polusi secara real time. Senyampang dengan itu, pemerintah mengumumkan kebijakan dan cara mereka mengurangi polusi. Dua-puluh tahun kemudian, PBB menerbitkan laporan keberhasilan pemerintah Cina menurunkan polusi hingga 35 persen di Beijing.

“Tak ada kota lain di planet ini yang berhasil mengurangi polusi sedrastis itu,” kata Joyce Msuya, akting Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB, dalam laporan yang diterbitkan pekan lalu. “Pencapaian itu bukan aksidental, tentu saja. Ini adalah hasil dari investasi besar jangka panjang dan visi pemerintah Cina dalam ‘perang melawan polusi’.”

Seperti terlihat dari laporan ini, kota-kota lain di dunia bisa meniru cara Beijing mengurangi polusi, terutama Jakarta yang hari-hari ini indeks kualitas udaranya semakin membahayakan. Bahkan pada 1 Agustus 2019, indeks PM2,5 (particular matter, polutan yang lebih kecil dari 2,5 mikrometer) Jakarta mencapai 72,5 mikrogram per meter kubik, sangat berbahaya karena indeks polutan ini masih bisa ditoleransi, menurut WHO, jika masih di bawah 25 mikrogram per meter kubik.

Cara Tiongkok ini mengingatkan bagaimana Jepang dulu membersihkan polusi di provinsi Kitakyushu. Mereka juga berkolaborasi antara pemerintah dan swasta, serta kesadaran masyarakat akan bahaya polusi bagi masa depan mereka.

Ada tiga tahap pembersihan polusi Beijing yang dibagi dalam tiga periode: 1998-2008, 2009-2012, 2013-2017. Pemerintah fokus pada mengubah sumber energi di tiga sektor: industri, transportasi, dan perumahan. Perubahan struktur energi ini digenjot secara paralel dalam tiga fase strategi mereduksi polusi itu.

Periode 1998-2008 adalah periode awal mengidentifikasi masalah dan menerapkan target-target selama satu dekade itu. Target paling besar adalah menghentikan operasional pabrik-pabrik besar yang memakai batu bara sebagai sumber energinya dan mengubah sumber energi pabrik kecil ke energi yang lebih ramah lingkungan. Juga mengganti ribuan bus yang memakai bensin menjadi gas di pusat Beijing maupun enam area, termasuk transportasi antar kota di sekelilingnya.

Perbandingan Jakarta-Beijing

Cina memakai gas alam padat (CNG) sebagai sumber energi baru menggantikan batu bara yang polutif dan puluhan tahun dipakai pelbagai pabrik di Beijing. Dalam periode pertama itu, setidaknya sepuluh pabrik baja dan besi berhenti beroperasi dan pindah ke lain negara—termasuk Indonesia.

Pabrik-pabrik lain mengubah teknologi pengolahan energinya ke listrik atau gas alam. Pemerintah mendorongnya dengan memberikan insentif pajak dan iuran bagi perusahaan yang mengeluarkan biaya lebih berinvestasi di sektor energi.

Setelah mengubah struktur energi untuk industri, periode dua pada 2009-2012 restrukturisasi sumber energi perumahan. Ada sekitar 700.000 rumah yang beralih ke gas dari batu bara. Di periode kedua ini mulai ada target menurunkan empat jenis polutan dalam udara Beijing: sulfur dioksida (SO2) yang berasal dari pembakaran energi industri dan perumahan, nitrogen dioksida (NO2) dari asap kendaraan bermotor, dan polutan di bawah 2,5 mikrogram (PM2,5) dan 10 mikrogram (PM10).

Keadaan sosial-ekonomi Beijing selama 20 tahun terakhir (Sumber: PBB)

Masa ketiga, 2013-2017, adalah mereduksi polusi dengan beralih ke teknologi ramah lingkungan dengan menambah dua polutan yang harus dikurangi, setelah sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon (O3). Pada 2013, jumlah SO2 mencapai 95.000 ton, NO2 sebanyak 218.000 ton, dan gabungan PM2,5 plus PM10 sebanyak 349.000 ton. Pemerintah Cina fokus pada pengurangan empat polutan ini karena paling membahayakan kesehatan manusia.

Dalam 20 tahun, sulfur dioksida turun 97%, NO2 turun 86%, dan PM2,5 turun 98%. Dalam empat tahun selama 2013-2017 PM2,5 turun 36,8% dari 98.5 mikrogram per meter kubik menjadi 58 mikrogram per meter kubik, masih 66% lebih tinggi dari standar volume PM2,5 yang ditetapkan pemerintah Cina dan standar WHO.

Dalam setiap tahap itu, pemerintah Cina mengombinasikan kebijakan proteksi lingkungan, kebijakan ekonomi, hingga penegakan hukum dalam pengurangan polusi. Dalam kebijakan proteksi lingkungan, selain mengubah bahan bakar menjadi ramah lingkungan, penanaman pohon dan meluaskan taman-taman publik.

Di sela semua itu, pemerintah juga menggencarkan kampanye untuk membangun kesadaran penduduk Beijing pada bahaya polusi agar mereka mendukung kebijakan pemerintah. Agar kampanye efektif, pemerintah merekrut 10 duta lingkungan untuk merekrut relawan kampanye penyadaran terhadap polusi sekaligus mempromosikan apa yang sedang dikerjakan pemerintah.

Konsentrasi PM2,5 di Beijing selama 4 tahun terakhir (Sumber: PBB)


Konsentrasi PM2,5 di Beijing selama 4 tahun terakhir (Sumber: PBB)

Hasilnya jitu. Tingkat kesadaran penduduk terhadap polusi naik dari 87% menjadi 94% selama periode 2013-2017. Dengan kampanye lewat figur terkenal membuat masyarakat kian sadar dan paham sumber polusi sehingga tiap individu berusaha menguranginya sejak dari rumah. Jumlah pengaduan polusi udara naik dari 38% pada 2013 menjadi 59% pada 2016.

Pengaduan-pengaduan itu ditindaklanjuti oleh polisi lingkungan untuk menertibkan pelaku yang melanggar aturan. Jumlah pemeriksaan dan kasus lingkungan naik menjadi 44 kasus kriminal lingkungan. Polisi lingkungan ini dibentuk sebagai bagian dari program mereduksi polusi. Mereka berpatroli di jalan dan menindak industri atau rumah tangga yang masih memakai batu bara dalam produksi mereka.

Dalam kebijakan ekonomi, pemerintah memberikan diskon harga 60 persen bagi mereka yang membeli mobil listrik yang ramah lingkungan. Perusahaan taksi juga didorong menghentikan operasional taksi lama dan menggantinya dengan taksi baru yang memakai bahan bakar gas dengan iming-iming insentif pajak. Sementara pemerintah menambah bus dan membatasi pembelian mobil baru hanya 20.000 per tahun.

Hasil dari semua kebijakan itu adalah naiknya pemakaian energi terbarukan sebesar 35% atau turun 2,5 juta ton batu bara selama 2013-2017. Sementara perubahan sumber energi di 700.000 rumah bisa mengurangi pemakaian konsumsi batu bara sebanyak 1 juta ton per tahun.

Parameter polusi Beijing selama 1998-2017 (Sumber: PBB)

Dampak pengurangan polusi itu tecermin dalam pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi stabil di angka 6,85% atau naik 10,8 kali lipat selama 20 tahun selama kebijakan perang terhadap polusi. Pendapat kotor Kota Beijing (GDP) US$ 20 juta per kapita per tahun. Pemerintah Cina mengklaim penurunan polusi telah mendorong lebih banyak lowongan kerja baru. Biaya membersihkan polusi itu pada 2017 adalah 1,35 triliun Yuan, sebanyak 20 persennya disumbang swasta.

Sebagai kota megapolitan, keberhasilan Beijing mereduksi polusi juga berkat kerja sama dengan kota-kota besar di sekitarnya. Laporan PBB menyebut secara khusus kerja sama ini sebagai kunci keberhasilan Beijing menurunkan polusi. “Sebab polusi itu lintas batas, tidak terbatas negara atau kota,” kata Myusa.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.