Reportase | April-Juni 2019

Para Pembalak Liar Gunung Leuser

Kisah para pembalak liar yang insaf di Gunung Leuseur. Ekowisata menyelamatkan hidup mereka.

Mardiyah Chamim

Wartawan

JUAN Kartika Sitepu punya jam terbang tinggi sebagai pembalak hutan. Bertahun-tahun, Ika, begitu dia dipanggil, keluar-masuk hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Sumatera Utara, menebang kayu. Cedana, ulin, meranti, semua kayu ia tebang. Tak pilih-pilih. Matanya menyala-nyala melihat pohon dengan diameter berapa pun. “Yang penting jadi duit,” katanya.

Musik yang dia suka adalah suara gergaji kayu yang menderu-deru. “Tanda ada orderan,” kata lelaki 40 tahun ini. Begitu pohon ditebang, balok-balok kayu akan dihanyutkan di Sungai Batang Serangan. Arus sungai akan membawa balok kayu ke tempat yang sudah dipilih, di tepian sungai tempat deretan truk menunggu. Seminggu di dalam hutan, Ika bisa terima duit Rp 3-4 juta. “Uang gampang,” katanya. “Tapi, itu duit kayak uang jin dimakan setan. Habis buat mabok dan foya-foya, ha-ha.”

Syukurlah itu kisah lama. Tinggal kenangan. “Jangan pula diikuti orang lain. Cukup jadi masa lalu, ya, kan, Lae,” kata Ika. Jack Lingga, sesama pembalak yang juga sudah insaf menyahut, “Iyalah, Lae. Kita berubah dari perusak alam menjadi penjaga lingkungan. Itu sudah.”

Ada dua peristiwa yang mengubah jalan hidup Ika, juga jalan hidup Tangkahan. Pertama, awal tahun 2000, mertua Ika ditangkap gara-gara maling kayu. Pak Okor, nama sang mertua, mendekam dua tahun di penjara. Kakek, paman, tetangga di Tangkahan juga tak sedikit yang bernasib sama. “Bapak minta saya berpikir, apa yang mesti kita lakukan. Jangan sampai anak-cucu bernasib sama, masuk penjara.”

Peristiwa kedua adalah banjir bandang di Bukit Lawang, Langkat, Sumatera Utara, pada 2003. Pohon-pohon yang ditebang membikin bantaran sungai, dengan kemiringan 60 derajat, longsor dikikis hujan. Curah hujan yang ekstrem, yang lima kali lebih tinggi dari normal, pun mengundang banjir bandang. Sedikitnya ada 200 nyawa melayang dihembalang banjir, seratus orang hilang tak kembali.  Empat ratus bangunan hancur dan hanyut, termasuk hotel-hotel di kawasan wisata di tepian Sungai Bahorok.

Dua peristiwa itu membuat penduduk Tangkahan berada di titik penentuan. Perubahan harus dilakukan jika tak mau bernasib dilibas banjir bandang. Sekelompok mahasiswa pecinta lingkungan datang membantu, mengajak penduduk berdiskusi. “Awalnya penduduk segan, tapi banjir bandang itu membikin  semuanya sepakat. Illegal logging harus dihentikan,” kata Ika. “Ekowisata adalah jalan keluar. Kami rawat hutan kami, buat menarik turis datang.”

Memandikan gajah. Salah satu atraksi ekowisata Tangkahan, Sumatera Utara.

Hendak mulai dari mana? Ika dan kawan-kawan menghadap ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang menangani Taman Nasional Gunung Leuser. Ketika itu konsep ekowisata belum lazim seperti sekarang. Undang-Undang Hutan Lindung Nomor 41/1999 menyebutkan bahwa pengawasan, pengelolaan, dan pemanfaatan sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Pelanggaran ketentuan kehutanan dikenai hukuman pidana dan denda yang bervariasi, mulai Rp 50 juta sampai Rp 10 miliar. 

“Kami juga makhluk hidup yang butuh makan,” kata Ika, “Kalau masyarakat dilarang mengambil manfaat ekonomi dari hutan lindung, tinggal tunggu waktu saja buat masyarakat untuk kembali menebang hutan.” Pengelolaan hutan, menjaga lingkungan, konservasi hutan dan isinya, seharusnya melibatkan masyarakat. “Jika tidak, kami akan kembali jadi pembalak. Tak butuh waktu lama buat bikin habis hutan Leuser.” 

Ekowisata dan keterlibatan masyarakat lokal harus berjalan bersisian. Siapa lagi yang menjaga hutan, membuka jalur ekowisata, menyediakan penginapan dan pemandu, jika bukan komunitas lokal? Pemerintah tak mungkin punya kaki sampai jauh ke bawah. “Lagi pula, untuk bisa berlanjut, sustainable, memang masyarakat harus terlibat,” kata Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Setelah serangkaian perundingan, kesepakatan dibuat antara pengelola TN Gunung Leuser dan masyarakat. Penduduk Tangkahan berjanji tak lagi membalak dan ikut aktif menjaga hutan sebagai tim ranger. Pengelola TN Gunung Leuser berjanji membantu mengembangkan ekowisata, KLHK membuka pintu bagi keterlibatan komunitas demi konservasi hutan lindung.

Juan Kartika Sitepu, mantan pembalak liar Gunung Leuser yang kini menjadi pemandu ekowisata gajah di Tangkahan (Foto: Mardiyah Chamim)

Tak mudah membangun kesadaran mereka. Awalnya, penduduk protes gara-gara kehilangan penghasilan. Tamu belum mengalir karena memang masih perlu banyak hal yang harus disiapkan. Rangkaian pelatihan digelar, dengan bantuan Kementerian Lingkungan Hidup dan berbagai LSM. Ada pelatihan memasak, jelajah alam, sampai bahasa Inggris.  “Kami juga dapat pelatihan tentang hutan, nama tanaman dan fungsinya,” kata Jack Lingga. Dia mendemonstrasikan kelihaiannya menjelaskan nama-nama tanaman yang kami temui di jantung hutan, kadang disertai nama latin berbagai tanaman. “Ini beringin, namanya Ficus. Nah, yang itu Amorphophallus, sejenis bunga bangkai.” Hm…., baiklah. Saya yang sarjana biologi jadi meringis minder.

Tangkahan juga tak hanya tentang jelajah hutan. “Awalnya, kami minta KSDA mengirim dua ekor gajah dari Aceh. Buat membantu kami patroli hutan, supaya para pembalak yang masih bandel takut,” kata Jack Lingga.

Pada  2004, dua gajah dikirim dari Aceh ke Tangkahan, yakni Agustin dan Medang (yang meninggal beberapa tahun lalu). “Saya ikut nganter mereka dari Aceh, pake truk,” kata Tejo Sudiono, mahout atau pawang gajah. “Saya senang Agustin dan Medang diungsikan dari Lhokseumawe, yang ketika itu tegang gara-gara konflik TNI dan GAM. Saban malam, kami deg-degan dengar suara tembakan. Gajah-gajah di CRU pada stres.”

Agustin dan Medang kemudian diikuti dengan kedatangan gajah lain dari wilayah lain di Sumatera Utara. Satu per satu gajah datang, melengkapi keluarga besar CRU (Conservation Response Unit) Tangkahan, termasuk beberapa bayi gajah lahir, hingga kini keluarga Tangkahan menjadi sembilan ekor gajah. Mereka adalah Theo, Agustin, Ardana, Yuni, Sari, Albertin, Olive, Eropa, dan Kristofer.

Jack Lingga, mantan pembalak liar yang kini mengembangkan ekowsata gajah di sekitar Gunung Leuser (Foto: Mardiyah Chamim)

Kini, kesembilan gajah ini yang menjadi daya tarik utama wisata Tangkahan. Para turis ikut memandikan dan menemani mereka bermain. Pagi itu, April 2019, kami berdiri di pinggir sungai, menanti dengan penuh harap kedatangan para gajah. Mereka sedang bersiap memulai ritual pagi di kandangnya, di seberang sungai. Tap, tap, tap, tap, byurrr, rombongan gajah melangkah anggun menyeberang sungai.

Mengamati gajah-gajah ini, seorang teman berkomentar, gajah-gajah ini beruntung telah diselamatkan dari area konflik di Aceh yang ketika itu berstatus Daerah Operasi Militer (DOM). Mereka diselamatkan dari ancaman kepunahan, populasi gajah Sumatera ini tinggal 1.500 di habitatnya.

Namun, sesungguhnya yang terjadi tidaklah satu arah. “Gajah dan kami penduduk Tangkahan saling menyelamatkan,” kata Ika Sitepu. “Tanpa gajah-gajah ini, kami mungkin masih akan terjebak pada illegal logging, masih terus menebang pohon. Mungkin sekarang hutan kami sudah enggak ada. Habis kami.” 

Cece Suardana, mantan pembalak liar yang kini mengembangkan ekowisata gajah di Tangkahan, Sumatera Utara (Foto: Mardiyah Chamim)

Gajah juga menjadi penanda bahwa ekosistem di Tangkahan perlahan pulih. Pohon-pohon kembali rapat. “Hai, itu pohon cendana. Abang kira sudah habis kami tebang,” kata Ika. “Sekarang tumbuh lagi dia.”

Ika Sitepu dan Jack Lingga mengenang perjalanan hidup mereka dengan bangga. “Sekarang, kami bukan lagi pembalak. Kami adalah ranger, penjaga hutan,” kata Jack Lingga, kawan karib Ika Sitepu. Sambil mengantar turis menjelajah hutan, mereka berpatroli mengawasi hutan. “Kalau ada yang melanggar aturan, menebang kayu tanpa alasan kuat, ya, kami bawa ke sidang kampung,” kata Jack. Sebilah parang tajam terselip di pinggangnya, sesekali dia gunakan untuk menebas dahan dan membuka jalan setapak di hutan.

Pernah, kata Ika, ada seorang warga yang kepincut tawaran pengusaha perkebunan sawit yang mencoba merangsek masuk kawasan Taman Nasional. “Kami panggil dia, enggak bisa begitu. Ekowisata adalah hidup kita semua, masa depan kita. Jangan lagi hutan kau rusak.”

Sepanjang tahun 2018, menurut Ika, sedikitnya ada 30 ribu pengunjung menikmati ekowisata di Tangkahan. Jika setiap orang membelanjakan Rp 100 ribu saja, maka perputaran uang di sini mencapai Rp 4,5 miliar. Ekowisata memberi penghidupan yang lumayan, baik bagi usaha penginapan, penyediaan makanan, perawatan gajah, dan memandu para turis menjelajah hutan.

“Benar, kan,” kata Ika. “Di Tangkahan, gajah, manusia, dan hutan, saling menyelamatkan.”

Artikel ini muncul dalam versi cetak edisi April-Juni 2019 dengan judul "Ketika Agustin dan Ika Saling Menyelamatkan".

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.