Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 20 Desember 2022

Apa Saja Hasil COP15 Montreal

COP15 berakhir dengan kesepakatan keanekaragaman hayati atau “global biodiversity framework” atau GBF. Apa isinya?

KONFERENSI Keanekaragaman Hayati PBB (COP15) berakhir di Montreal, Kanada, pada 19 Desember 2022. Konferensi yang dipimin Cina itu berakhir dengan satu kesepakatan penting untuk memandu tindakan global terhadap alam hingga tahun 2030.

Perwakilan 188 negara berkumpul di Montreal selama dua pekan. COP15 atau COP CBD (convention on biological diversity) menghasilkan adopsi Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (GBF) pada hari terakhir negosiasi.

GBF bertujuan mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati, memulihkan ekosistem, dan melindungi hak-hak masyarakat adat. Rencana tersebut mencakup langkah-langkah menghentikan dan membalikkan hilangnya alam, termasuk menempatkan 30 persen daratan  dan melindungi 30 persen ekosistem yang terdegradasi hingga 2030.

Rencana tersebut juga berisi proposal untuk meningkatkan pembiayaan ke negara-negara berkembang. Sama seperti COP27 di Sharm el-Sheikh, Mesir, sebulan sebelumnya, pembiayaan menjadi poin utama yang mencuat selama pembicaraan—menurut laporan PBB.

Menurut PBB, pertaruhannya tidak bisa lebih tinggi: planet ini mengalami penurunan alam yang berbahaya akibat aktivitas manusia. Krisis iklim telah kehilangan nyawa terbesar sejak era dinosaurus. Menurut laporan IPBES 2019, satu juta spesies tumbuhan dan hewan sekarang terancam punah, banyak dalam beberapa dekade.

GBF terdiri dari empat tujuan global melindungi alam, termasuk menghentikan kepunahan spesies terancam akibat ulah manusia dan mengurangi tingkat kepunahan semua spesies sepuluh kali lipat pada tahun 2050; pemanfaatan dan pengelolaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan untuk memastikan bahwa kontribusi alam bagi manusia dihargai, dipertahankan, dan ditingkatkan; pembagian keuntungan yang adil dari pemanfaatan sumber daya genetik, dan informasi urutan digital pada sumber daya genetik; dan bahwa sarana yang memadai untuk melaksanakan GBF dapat diakses oleh semua Pihak, khususnya Negara Terbelakang dan Negara Berkembang Kepulauan Kecil.

Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), Inger Andersen, menekankan bahwa implementasi sekarang adalah kuncinya: “Keberhasilan akan diukur dari kemajuan kami yang cepat dan konsisten dalam mengimplementasikan apa yang telah kami sepakati. Seluruh sistem PBB diarahkan untuk mendukung pelaksanaannya sehingga kita benar-benar dapat berdamai dengan alam.”

GBF juga menetapkan 23 target yang harus dicapai pada tahun 2030, antara lain:

  • Konservasi dan pengelolaan yang efektif untuk setidaknya 30 persen lahan, wilayah pesisir, dan lautan dunia. Saat ini, 17 persen daratan dan *8 persen kawasan laut berada dalam perlindungan
  • Pemulihan 30 persen ekosistem darat dan laut
  • Mengurangi hingga mendekati nol hilangnya area dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan integritas ekologis yang tinggi
  • Mengurangi separuh limbah makanan global
  • Menghapuskan atau mereformasi subsidi yang merugikan keanekaragaman hayati setidaknya sebesar $500 miliar per tahun, sambil meningkatkan insentif positif untuk konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatan berkelanjutan
  • Memobilisasi setidaknya $200 miliar per tahun dari sumber publik dan swasta untuk pendanaan terkait keanekaragaman hayati
  • Meningkatkan arus keuangan internasional dari negara maju ke negara berkembang menjadi minimal US$ 30 miliar per tahun
  • Mewajibkan perusahaan transnasional dan lembaga keuangan untuk memantau, menilai, dan secara transparan mengungkapkan risiko dan dampak terhadap keanekaragaman hayati melalui operasi, portofolio, pasokan, dan rantai nilai mereka

Keuangan, pada intinya

Keuangan memainkan peran kunci di COP15, dengan diskusi berpusat pada berapa banyak uang yang akan dikirim negara maju ke negara berkembang untuk mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati. Ada usul agar PBB membentuk Fasilitas Lingkungan Global melalui Dana Perwalian Khusus atau Dana GBF untuk mendukung pelaksanaannya, guna memastikan aliran dana yang memadai, dapat diprediksi, dan tepat waktu.

Negara-negara yang menyetujui serangkaian perjanjian kerangka kerja keanekaragaman hayati global (GBF) sebagai hasil COP15 Montreal diminta melaksanakan kesepakatan itu segera, termasuk perencanaan, pemantauan, pelaporan, dan peninjauan. Semua itu, menurut perjanjian GBF, untuk memastikan bahwa tidak ada “percepatan lebih lanjut dalam tingkat kepunahan spesies global, yang setidaknya sudah puluhan hingga ratusan kali lebih tinggi daripada rata-rata selama 10 juta tahun terakhir.”

Ikuti percakapan tentang ancaman terhadap keanekaragaman hayati di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Redaksi

Bagikan

Komentar



Artikel Lain