Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 17 November 2022

Komitmen Lingkungan dalam Deklarasi G20

Deklarasi G20 menyepakati 52 butir perjanjian. Salah satunya pembiayaan melindungi lingkungan sebagai mitigasi iklim.

PARA pemimpin negara-negara anggota G20 menyepakati deklarasi bersama dalam pertemuan puncak Presidensi G-20 Indonesia di Bali pada 15-16 November 2022. Salah satunya pembiayaan menangani krisis iklim.

Ada 52 poin kesepakatan dalam dokumen deklarasi bertajuk G20 Bali Leader’s Declaration yang panjangnya mencapai 19 halaman itu. Sebagian di antaranya adalah komitmen menangani ketahanan pangan, perubahan iklim, krisis energi serta mendorong pembiayaan untuk lingkungan.

"Kepemimpinan Indonesia menghasilkan deklarasi pemimpin G20 Bali Leader’s Declaration, yang awalnya diragukan banyak pihak," ujar Presiden Joko Widodo dalam jumpa pers usai menutup KTT G20.

Deklarasi ini mengingatkan kembali komitmen pada 14 November 2008, ketika pemimpin negara-negara G20 bertemu untuk pertama kalinya dalam KTT empat belas tahun lalu saat menghadapi krisis ekonomi global.

Kini, negara-negara ini juga mengalami krisis multidimensi yang dibawa pandemi COVID-19 dan tantangan perubahan iklim yang menyebabkan perlambatan ekonomi, meningkatnya kemiskinan dan menghalangi pencapaian Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Termasuk perang Ukraina yang berdampak pada ekonomi global: mengganggu rantai pasokan, inflasi, kerawanan energi dan pangan serta meningkatnya risiko stabilitas keuangan. ”Kami menyadari G20 bukanlah forum untuk mengatasi isu keamanan, tapi kami meyakini bahwa isu keamanan memiliki konsekuensi ekonomi global,” tulis deklarasi tersebut.

Deklarasi itu menegaskan komitmen untuk bangkit bersama menggunakan instrumen kebijakan dalam mengatasi tantangan ekonomi pasca pandemi sesuai dengan tema Presidensi G20 tahun ini: recover together, recover stronger—pulih bersama, bangkit lebih kuat.

Komitmen lingkungan dalam deklarasi ini termaktub dalam poin ke 11 hingga 18. Komitmen itu menekankan urgensi mendiversifikasi sistem energi dengan mempercepat transisi energi yang berkelanjutan, adil, terjangkau dan inklusi. Terutama akibat adanya krisis iklim dan krisis energi.

Komitmen G20 untuk mencapai nol bersih global dan karbon netral pada 2050 akan diraih dengan dukungan berkelanjutan untuk negara-negara berkembang, terutama yang rentan. Komitmen ini dilakukan dengan menyediakan akses ke kapasitas energi melalui kerja sama teknologi yang saling menguntungkan dan pembiayaan aksi mitigasi sektor energi.

Untuk mencapai target SDG 7 dan menutup kesenjangan akses energi, G20 menyiapkan Bali Compact dan Peta Jalan Transisi Energi Bali. Di antaranya meningkatkan pembangkit listrik nol dan rendah emisi termasuk energi terbarukan, termasuk upaya percepatan penurunan bertahap pembangkit listrik bertenaga batu bara.

G20 menekankan pula tujuan mengatasi krisis iklim seperti yang tercatat dalam tujuan UNFCCC melalui implementasi Perjanjian Paris 2015. “Untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5C akan membutuhkan tindakan dan komitmen yang bermakna serta efektif dari semua negara,” begitu bunyi deklarasi tersebut.

Deklarasi G20 juga berkomitmen mendorong semua negara dan pihak-pihak untuk memfinalisasi dan mengadopsi Global Biodiversity Framework (GBF) untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan keanekaragaman hayati pada 2030. Caranya antara lain dengan memerangi penggundulan hutan, desertifikasi, degradasi lahan dan kekeringan serta mencapai degradasi lahan netral pada 2030.

G20 berambisi mengurangi degradasi lahan sebesar 50% pada 2040 secara sukarela dan mengupayakan 30% dari lahan global dan setidaknya 30% dari lautan global dilestarikan dan dilindungi pada 2030.

Komitmen untuk mengurangi dampak lingkungan juga akan dilakukan dengan mengubah pola produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan mencegah lalu lintas sampah lintas batas secara ilegal.

Solusi berbasis alam (nature based solutions) dan pendekatan berbasis ekosistem menjadi upaya G20 untuk menghentikan dan memulihkan hilangnya keanekaragaman hayati. Sehingga G20 menyambut perjanjian multilateral subsidi perikanan WTO dan mengembangkan hukum pencemaran lingkungan laut terutama akibat plastik. Hutan, lamun, terumbu karang, ekosistem lahan basah termasuk lahan gambut dan mangrove merupakan pendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Semua target lingkungan itu membutuhkan pembiayaan. G20 mendesak negara-negara maju lain mememuhi komitmen mobilisasi anggaran pembiayaan iklim sebesar US$ 100 miliar per tahun segera untuk mendukung negara-negara berkembang.

Sebab, bauran kebijakan karbon netral dan nol bersih emisi atau net zero emission harus mencakup fiskal dan peraturan termasuk penetapan harga karbon. “Diperlukan insentif pembiayaan dan investasi untuk mendukung transisi energi,” tulis deklarasi itu.

Di luar komitmen lingkungan, Deklarasi G20 juga berkomitmen soal pembiayaan pemulihan pasca pandemi hingga ekonomi digital. Tahun depan G20 akan digelar di India, tahun 2024 di Brazil, dan 2025 di Afrika Selatan.

Ikuti perkembangan terbaru krisis iklim di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain