Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 31 Agustus 2022

Salju Puncak Jaya Tak Lagi Abadi

Krisis iklim dan pemanasan global menyebabkan salju Puncak Jaya Papua mencair. Hari kering lebih panjang.  

SALJU abadi di gunung Puncak Jaya, Papua, diperkirakan musnah pada 2025. Donaldi S. Permana, peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan hal tersebut dalam seminar ilmiah pada 23 Agustus 2022. Menurut Donaldi, saat ini luas salju Puncak Jaya terus menyusut.

Pada era Revolusi Industri 1850, kata Donaldi, luas es di Puncak Jaya mencapai 19 kilometer persegi. Pada 2002, luas es itu tinggal 2 kilometer persegi. Kemudian turun lagi menjadi 1,8 kilometer persegi pada 2005.

Pada 2015, luas es di puncak jaya sudah dalam kondisi kritis, yaitu tinggal 0,6 kilometer persegi. Tiga tahun berselang, luas es semakin mengecil yaitu 0,46 km2. Pada 2020, yang tersisa adalah 0,34 km2. “Terakhir saya kontak NASA di tahun ini, luas es di Puncak Jaya tinggal 0,27 km2,” kata Donaldi.

Salju Puncak Jaya

Puncak Jaya merupakan titik tertinggi daratan Indonesia, 4.884 meter di atas permukaan laut. Terletak di pegunungan Jayawijaya, Papua, suhu Puncak Jaya pada malam bisa turun hingga -10C.

Krisis iklim dan pemanasan global menyebabkan suhu di Puncak Jaya lebih hangat daripada sebelum era Revolusi Industri di Eropa. Ini yang menyebabkan salju di Puncak Jaya tak lagi abadi.

Aktivitas manusia meningkatkan pemanasan global pada kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 1.000 tahun terakhir. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan suhu global tahunan periode 2022-2026 bisa mencapai 1,5C lebih tinggi dari suhu bumi pada masa pra industri.

Akibatnya sudah dirasakan saat ini diawali dengan gelombang panas dan kekeringan ekstrem di belahan bumi utara. Di Indonesia, tren hujan ekstrem berupa hujan dengan intensitas lebih besar dari 150 milimeter per hari sudah terlihat peningkatannya berdasarkan grafik BMKG.

BACA: Musim Kering Membuat Embun Beku di Papua

Tingginya curah hujan ekstrem memicu bencana baru yaitu banjir. "Risiko banjir seperti kejadian 2015 meningkat 2-3 kali lipat dibandingkan pada masa lampau," kata Donaldi.

Ia juga menyebutkan bahwa data banjir Jakarta 100 tahun terakhir menunjukkan frekuensi banjir meningkat terutama dalam tiga decade terakhir. "Peningkatan itu seiring dengan naiknya intensitas curah hujan tertinggi tahunan," katanya.  

Krisis iklim dan pemanasan global, kata Donaldi, menyebabkan potensi bencana akibat kejadian ekstrem mengintai sepanjang tahun. Pada Desember-Januari-Februari ada ancaman banjir, longsor, dan gelombang tinggi. Pada Maret, April, Mei, ada puting beliung, petir, hujan dan es mengintai.

Sepanjang Juni, Juli, Agustus, ada ancaman bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan serta gelombang tinggi. Puting beliung, petir, hujan es, dan hujan lebat sporadis disertai kilat petir dan angin kencang mengancam Indonesia pada September hingga November.  

Donaldi mengambil data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2021 yang menyebutkan bahwa "sebanyak 98% bencana merupakan bencana hidrometeorologi dan 2% geologi".

Indeks ekstrem BMKG menemukan rata-rata suhu bumi periode 1981-2010 sebesar 26,6C. Sedangkan rata-rata suhu bumi pada 2020 sebesar 27,3C. "Ini menunjukkan bahwa tren pemanasan global itu memang terus naik," katanya.

Berdasarkan catatan BMKG, tahun terpanas di Indonesia terjadi pada 2016 saat suhu rata-rata di Indonesia naik 0,8C dari rata-rata suhu udara Indonesia periode 1981-2010. Pada 2020 suhu udara naik 0,7C, lebih tinggi dari suhu bumi pada 2019 yang naik 0,6C.

Berkurangnya lapisan salju Puncak Jaya di daerah tropis merupakan dampak langsung pemanasan global. Selain Puncak Jaya, salju di kutub ketiga (Third Pole) juga terus menipis. Kutub ketiga adalah sebutan untuk lapisan es di pegunungan Himalaya yang merupakan kumpulan salju terbesar setelah Arktik dan Antartika.

BACA: Embun Memicu Kelangkaan Pangan Papua

Seperempat es di pegunungan ini telah meleleh sejak 1970. Dalam laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada 2019, para ilmuwan memperingatkan bahwa hingga dua pertiga dari wilayah yang tersisa diperkirakan menghilang pada akhir abad ini.

Bahkan jika target yang disepakati secara internasional untuk membatasi pemanasan global di bawah kenaikan suhu 1,5C di atas tingkat pra-industri terpenuhi, dunia tetap terpanggang krisis iklim. Cirinya, salju di gunung-gunung tertinggi seperti salju Puncak Jaya pelan-pelan menghilang.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain