Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 09 Agustus 2022

Embun Beku Penyebab Kelangkaan Pangan Papua

Cuaca ekstrem membuat empat kampung di Lanny Jaya gagal panen. Kelangkaan pangan Papua makin sulit dengan cuaca dan medan.

KELANGKAAN pangan melanda Papua. Setidaknya penduduk di empat kampung di Distrik Kwiyawagi, Kabupaten Lanny Jaya, yang meliputi Kampung Luarem, Jugu Nomba, Uwome, dan Tumbubur terancaman kelaparan. Kelangkaan pangan Papua bermula dari embun beku dan hujan es yang turun di wilayah ini pada Juli 2022.

Embun beku dan hujan es terjadi ketika musim kering melanda wilayah ini. Kondisi ini menyebabkan gagal panen yang berlanjut menjadi bencana kelaparan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya telah menetapkan status tanggap darurat kelangkaan pangan mulai 24 Juli hingga 30 Agustus 2022. Jika menilik kejadian serupa pada 2016, Pemerintah Kabupaten Lanny memperkirakan kondisi ini bisa berlangsung selama lima bulan.

Abdul Muhari, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan akses lokasi, komunikasi dan stok pangan menjadi tantangan dalam operasi tanggap darurat. "Wilayah terdampak berlokasi 40 kilometer dari Tiom," kata Muhari. "Hanya 20 kilometer pertama jalan yang bisa diakses dengan kendaraan roda empat,” katanya.

Setelah itu, akses ke lokasi yang menembus hutan lebat hanya tercapai dengan jalan kaki atau menggunakan pesawat kecil dari Wamena. "Kondisi ini diperburuk dengan kendala cuaca yang sering berkabut dan faktor keamanan,” kata Muhari. Selain itu, kata dia, jaringan komunikasi yang terbatas di wilayah Tiom dan kota terdekat, Wamena, sering terganggu. 

Stok beras di gudang depo logistik yang akan disalurkan untuk tiga kampung tersebut juga terbatas, sehingga rencana penggunaan cadangan beras pemerintah (CBP) belum terealisasi. "Untuk operasi selama tiga bulan masih dibutuhkan beras sebanyak 53,4 ton," kata Muhari.

BPBD Provinsi Papua mengidentifikasi sebanyak 548 keluarga atau 2.740 jiwa berpotensi terdampak oleh kekeringan di wilayah tersebut. Pada asesmen dampak aset warga, tercatat 56 hektare luas lahan perkebunan rusak akibat cuaca ekstrem. Kelangkaan pangan juga menyebabkan tiga orang meninggal dunia, satu orang kritis, sementara sekitar 500 orang kelaparan.  

Kepala Balai Besar Wilayah V Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Hendro Nugroho menyebutkan bahwa kondisi ini telah diperkirakan dan telah disampaikan dalam jumpa pers pada Maret 2022. Kekeringan yang melanda kabupaten Lanny Jaya, akibat turunnya intensitas curah hujan karena potensi pembentukan awan tidak signifikan.

“Pertumbuhan awan yang tidak signifikan juga menyebabkan suhu udara menjadi lebih dingin karena panas yang diterima dapat langsung dipantulkan kembali keluar bumi,” kata Hendro, 2 Agustus 2022. Proses evapotranpirasi mengakibatkan tumbuhan semakin kering dan tidak bisa bertahan hidup.

Hendro menyebutkan bahwa suhu udara di Lanny Jaya lebih rendah dari pada suhu udara minimum di di wilayah Jayawijaya yang berkisar antara 12-150 Celsius. “Ini karena perbedaan ketinggian antara Lanny Jaya dan Jayawijaya,” katanya.

Dengan pelbagai kondisi dan cuaca itu, dampak kelangkaan pangan Papua makin parah. Krisis iklim membuat cuaca berubah, iklim menyeleweng, sehingga dampaknya terhadap ketahanan pangan makin signifikan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain