Laporan Utama | Januari-Maret 2019

Sekolah-Sekolah Peduli Lingkungan

Sekolah adalah satu tiang utama merawat lingkungan, ketika anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di lembaga pendidikan ini setiap hari. Sekolah juga yang membentuk pola pikir mereka terhadap apa saja.

Mawardah Nur Hanifiyani

Alumnus Fakultas Kehutanan IPB

SEKOLAH yang berhasil menjaga lingkungannya mendapat Penghargaan Adiwiyata (adi: unggul; wiyata: pendidikan), sejak 2006. Komponen yang dinilai untuk Penghargaan Adiwiyata Nasional dan Mandiri adalah kebijakan sekolah berwawasan lingkungan, kurikulum sekolah berbasis lingkungan, kegiatan sekolah berbasis partisipasi dan pengelolaan sarana dan prasarana pendukung ramah lingkungan. Tahun lalu, dari seluruh Indonesia, terpilih 279 sekolah mendapat Awidiyata Nasional dan 314 sekolah Adiwyata Mandiri. Sekolah-sekolah ini mempraktikkan paradigma menjaga lingkungan dengan memulainya dari pola pikir.

SMA 7 Bogor

Acep Sukriman, Kepala Sekolah 

Untuk mencapai sekolah Adiwiyata Mandiri tanpa bimbingan pemerintah, kami membentuk Tim Adiwiyata. Tapi bukan karena ingin mendapat penghargaan kami membentuknya. Terutama untuk menjaga lingkungan. Ada pekerjaan rutin setiap hari seperti menyapu, memotong rumput, memungut sampah. Lalu ada kegiatan mingguan itu kegiatan bersih-bersih massal dari guru, staff dan penjaga kebersihan dan siswa untuk Jumat bersih.

Kami satu-satunya sekolah yang punya biogas untuk memasak. Sumbernya dari sampah dan tinja. Mesinnya sumbangan Astra. Gas dipakai untuk memasak. Tapi biogas belum berfungsi maksimal karena memerlukan banyak tinja. Kami menyambungkan pipanya dengan toilet guru yang jarang dipakai, seharusnya dari WC siswa. Saat uji coba apinya sudah nyala tapi harus dipancing dengan kotoran sapi, tapi sulit mengangkut kotoran sapi setiap hari.

Selain biogas kami juga membuat lubang biopori. Kepada guru kami sudah mewajibkan bawa termos untuk air minum. Kami beri semua guru termos secara gratis. Mudah-mudahan sampah plastik berkurang. Untuk siswa segera kami wajibkan. Kami sedang timbang apakah membeli mesin penjernih atau membeli air galon di beberapa titik.

Hal paling sulit mewujudkan lingkungan bersih adalah mengubah mindset. Seharusnya Tim Adiwayata itu tidak ada karena seharusnya tugas warga sekolah. Kami sosialisasikan bank sampah, aquaponik, biopori. Tak hanya ke siswa dan guru tapi lingkungan sekolah. Kemudian kami juga punya kolam lele. Jadi dari air biogasnya sisanya kami kasih menjadi pakan lele, jadi bermanfaat. Sampah botol plastik kami manfaatkan untuk kerajinan.

20190401201138.jpg

SMPN 5 Bogor

Neti Anniati, MPd, Humas dan Guru Bahasa Inggris

KAMI dua kali mendapat Adiwyata, tingkat kota dan provinsi. Awalnya berat menjadikan sekolah bersih. Hari ini dibersihkan, besok di pot sudah ada puntung rokok. Kalau sudah begitu ibu-ibu guru dan Tim Adiwiyata menegur pelakunya dan penjelasan. Soalnya, kalau soal rokok, ada aturan 500 meter area terlarang merokok.

Lalu sosialisasi memilah sampah ke siswa dan guru. Kami punya program Serasah, Semangat Rabu Tanpa Sampah. Tiap Rabu tidak boleh ada yang buang sampah. Sampah harus dibawa pulang dan mereka diusahkan tidak jajan. Selain itu ada Gemes, gerakan gemar membersihkan sekolah setiap hari; lalu Markisa: mari kita sarapan dua minggu sekali; Segar: senam bugar dua Minggu sekali.

Kami punya gerakan pungut sampah lalu dijadikan kompos. Guru-guru membeli sampah itu. Kolaborasi dengan Pemda sangat bagus, juga bantuan dari perusahaan melalui CSR. Untuk kurikulum lingkungan hidup kami ajarkan melalui wali kelas. Kuncinya adalah terus mengingatkan dan jalankan programnya. Anak-anak dan guru akan aktif dan sadar sendiri pada akhirnya.

SMP Negeri 85 Jakarta

Yanti Liandra, Guru Pembina Lingkungan

Penyebab banjir Jakarta adalah sampah di sungai. Karena itu kami membiasakan siswa membuang dan mengolah sampah dengan benar. Siswa diajak menghitung sampah harian yang dihasilkan oleh mereka sendiri lalu diakumulasi selama mingguan, bulanan, dan tahunan. Pembelajaran ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tertentu akan banyak sampah anorganik yang menumpuk dan menggunung. Selain itu siswa diajak melihat seberapa lama proses penguraian sampah organik dan sampah anorganik.

Program selanjutnya adalah mengenalkan cara memilah sampah yang mereka hasilkan antara plastik, kertas, dan sisa makanan. Limbah organik yang diolah menjadi kompos yang di gunakan sendiri di dalam lingkungan sekolah sendiri. Kompos ini digunakan untuk pupuk kebun sayuran sendiri, tanaman obat keluarga, dan pohon buah. Proses pembuatan kompos ini dimulai dengan mencacah sampah organik dan ditempatkan di dalam bak pengolahan. Sampah ini kemudian dimasukkan ke dalam plastik yang diikat rapat lalu dibiarkan sampai menjadi kompos.

20190401201101.jpg

Bank Sampah di SMP 85 sudah terdaftar di Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan dan nasabahnya adalah masing-masing kelas. Sampah plastik ini selanjutnya ditampung oleh bank sampah Indukesit pusat yang merupakan jaringan penampung sampah plastik dari Dinas Lingkungan. Hasil penjualannya untuk pelaksanaan program sekolah sehat lainnya.

Selain memilah sampah, siswa juga diajarkan mengubah sampah agar memiliki nilai jual yang tinggi. Selain itu limbah plastik diolah menjadi karya seni yang bernilai jual, pada saat penyerahan Adiwiyata Mandiri ada beberapa hasil karya seni sudah ada provinsi lain yang menawar.

Orang tua dan lingkungan sekitar sekolah adalah pendukung utama keberhasilan sekolah meraih Adiwiyata. Pedagang di kantin sekolah juga memberikan dukungan dengan tidak menggunakan alat makan sekali pakai. Tadinya, sampah kantin sehari 50 kilogram, kinitinggal 30 kilogram sehari.

SDN Menteng Bogor

Ria Haryani, Pembina Lapangan

Kami sudah tiga kali mendapat penghargaan Adiwiyata pada tingkat kota, provinsi, dan nasional.  Sebelum mendapat penghargaan itu kami membentuk Tim Adiwiyata yang struktur organisasinya ada ketua, lalu ada divisi dan bagian seperti lingkungan dan pangan. Mereka yang menjadi koordinator program, seperti pembuatan biopori, serta pembinaan kepada siswa-siswi SD yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup.

Kendala utama adalah kampanye. Maklum siswa masih SD. Meskipun tiap hari diingatkan masih saja ada siswa-siswi kelas 1 yang membuang sampah sembarangan. Program kami berjalan karena, salah satunya, mendapat dukungan para orang tua. Mereka membawa tanaman dan pupuk untuk ditanam dan membuat taman, lalu dibuat kerja sama dengan ibu komite dan warga sekolah.

Elemen lain pendukung Adiwiyata adalah kantin. Kantin kami mendapatkan gelar sebagai juara III Kantin Sehat pada 2008. Caranya mengurangi sampah plastik. Siswa kami wajibkan membawa bekal dan tempat minum sendiri. Mereka senang dengan anjuran ini. Mereka juga tambah senang ketika mendapat penghargaan Adiwiyata.

Kontributor:
Razi Aulia, Tiara Kusdanartika, Librianna Arshanti

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain