Laporan Utama | Januari-Maret 2019

Nyamuk pun Tak Bersarang di Ciasin

Desa Bendungan di Bogor menjadi desa ramah lingkungan berkat kesadaran penduduknya mencegah sampah masuk sungai. Setelah sungai bersih mereka membendung dan menanaminya dengan ikan. Menguntungkan secara ekonomi bagi keluarga.

Fitri Andriani

Rimbawan IPB

DI sepanjang selokan besar yang membelah Desa Bendungan di Megamendung, Bogor, Jawa Barat, tak satu pun plang terpacak larangan membuang sampah sembarangan atau anjuran membuang sampah pada tempatnya. Tapi sungai sepanjang 50 meter itu terlihat bersih. Tak satu pun sampah  terserak di badan sungai maupun sempadannya.

Di beberapa titik ada tempat sampah yang menampung plastik dan bungkus jajanan. Anak-anak bermain di sekitar sungai, pemuda dan pemudi terlihat nongkrong pada suatu sore bulan Januari 2019. Udara jadi terasa segar di perkampungan yang rindang dengan gang-gangnya yang sempit itu. “Sampah itu benda mati, mereka tidak bersalah,” kata Irfah Satiri, penduduk setempat. “Yang bersalah mereka yang membuangnya sembarangan.”

Irfah adalah Ketua Kelompok Baraya, singkatan dari Bendungan Asri Ramah Berbudaya. Berkat bendungan itu desa ini diganjar Ecovillage Award dari pemerintahan provinsi Jawa Barat dua tahun berturut-turut sejak 2016. Penghargaan itu berkat upaya penduduk desa, terutama di Kampung Ciasin, membersihkan sungai dan memanfaatkannya untuk penghidupan keluarga.

Caranya adalah dengan membendung sungai itu sepanjang 50 meter. Pada pertengahan 2016, panjang bendungan cuma 30 meter. Irfah dan tetangganya memakai bendungan itu menyimpan keramba yang diisi ikan. Tentu saja, sebelum membuat keramba penduduk membersihkan airnya dari sampah.

Irfah Satiri

Menurut Irfah, pada awal pembentukan Baraya, tiap hari mereka mengangkut sampah dari dasar sungai itu sekitar 20 kilogram. Selain sampah rumah tangga penduduk sekitar, sampah plastik terbawa arus dari hulu sungai yang berujung di kawasan Puncak. Mereka terinspirasi menjadikan sungai sebagai keramba karena penduduk di sana umumnya tak punya pekerjaan tetap.

Kebetulan Irfah punya pengalaman dan pengetahuan memelihara ikan. Ia punya ide menjadikan sungai menjadi keramba dengan membendungnya. “Terutama membersihkan sungai yang kotor oleh sampah,” kata dia. Ide itu disambut tetangganya. Mereka mulai membersihkan sampah dari dasar sungai secara bergotong-royong.

Seperti kata Irfah, sampah itu benda mati. Mereka hanyut jika dibuang manusia ke sungai. Maka, daripada susah payah mengeduk sampah, runtah itu harus dicegah tak berantakan sejak dari rumah. Dibantu penyuluh dari Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Irfah dan anggota Baraya berkampanye ke tiap rumah agar mereka tak membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai.

Para penyuluh dari Dinas Lingkungan itu awalnya mendatangi kampung Ciasin untuk membentuk kader Ecovillage. Irfah salah satunya. Ia menjadi kader Ecovillage yang mendapat pelatihan selama dua bulan atau delapan kali pertemuan tentang pentingnya mengelola lingkungan dan membangun desa yang bebas sampah, sekaligus mendatangkan keuntungan secara ekonomi bagi penduduk desa.

Tim itu lalu berkampanye ke penduduk desa. Butuh tiga bulan mereka berkampanye agar penduduk paham pentingnya membuang sampah ke wadahnya lalu mau swadaya turun ke sungai membersihkan sampah dan membangun keramba. Patungan anggota Baraya terkumpul Rp 100 juta untuk melakukan tahap-tahap pembangunan itu: dari membersihkan, mengangkut sampah, membuat keramba, hingga menanam ikannya.

Kolam Ikan Baraya

Tanpa perlu menempel pengumuman “buanglah sampah pada tempatnya”, penduduk Bendungan mematuhi kampanye itu. Apalagi, keramba ikan di bendungan itu menghasilkan keuntungan. Bekerja sama dengan agen ikan di Pasar Bogor, mereka bisa menjual ikan tersebut ke pasar. Dari 10 kilogram benih ikan mereka bisa panen 390 kilogram ikan. “Pernah panen sampai 800 kilogram,” kata Irfah.

Dengan keuntungan berlipat itu, kata Irfah, kian banyak orang Bendungan yang tertarik bergabung dengan Baraya. Mereka kini membuat keramba-keramba pribadi dan memanen ikannya lalu secara kolektif menjual ikan melalui agen tersebut. “Jadi punya nilai tambah untuk keluarga,” kata Irfah.

Soalnya, selain mendatangkan nilai tambah, bendungan itu juga membuat nyamuk dengue tak sudi mampir di Desa Bendungan. Karena air dibersihkan dan mengalir terus, tak ada jentik nyamuk di sungai. “Kalau pun ada dimakan ikan,” kata Irfah.

Sebetulnya ada 15 desa di tiga kecamatan di Bogor yang dianjurkan dan dilatih menjadi desa ramah lingkungan oleh pemerintah provinsi Jawa Barat, namun hanya Desa Bendungan yang berhasil mencapai tahap nilai tambah. Irfah dan tetangganya memberanikan diri ikut Ecovillage Award meski baru dua bulan mengembangkan keramba. “Ternyata menang,” katanya.

Saung Baraya

Kunci sukses itu, kata Irfah, selain soal kekompakan masyarakat, dibantu pemerintah, juga prinsip SARE yang mereka terapkan. SARE kependekan dari Sosialisasi Aksi Reaksi Eksekusi. Baraya adalah wujud kongkret slogan itu di Desa Bendungan. Menurut Irfah, pemerintah membantu Baraya dengan barang. “Tapi tak efektif karena biasanya tak sesuai kebutuhan,” kata dia.

Contohnya, ketika pemerintah Jawa Barat mengirim septic tank untuk penduduk, bantuan itu tak berguna karena ukurannya terlalu besar. Menurut Irfah, jangankan masuk ke rumah penduduk, penampung tinja itu tak muat masuk ke gang. Jadi, kata dia, pemerintah sudah tepat dengan mengirim bantuan para penyuluh berkampanye menyadarkan masyarakat agar peduli lingkungan.

Bantuan yang lumayan berguna adalah sumbangan mesin pengolah sampah yang diberikan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar ketika ia berkunjung ke sana pada September 2017. Mesin pengolah runtah ini mampu mengolah sampah dari awal hingga menghasilkan briket sebagai bahan bakar rumah tangga. Mesin ini hanya perlu bensin 6 liter per hari untuk mengolah sampah selama dua jam.

Sekat selokan Ciasin di Desa Bendungan

Mesin ini mampu mengolah sampah hingga dua ton per hari dengan menghasilkan 1,4 ton briket. Jika 1 kilogram briket dijual seharga Rp 1.200, mesin ini bisa mendatangkan keuntungan Rp 1,7 juta sehari.

Apalagi, memasuki tahun 2019, Irfah dan Baraya menargetkan bendungan itu menjadi tujuan wisata penduduk di sekitar, terutama ekowisata pendidikan lingkungan. Ia membuka diri kepada siapa pun, dari perwakilan desa atau sekolah, yang ingin datang untuk berbagi pengetahuan dan belajar pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan kearifan lokal. Program ini, kata dia, butuh bantuan pemerintah untuk sosialisasi dan dukungan penyuluh.

Menurut Irfah keberhasilan Desa Baraya menjadi Ecovillage adalah kesadaran masyarakat yang memahami kampanye lingkungan bersih. Dengan menyentuh langsung keluarga, kesadaran itu menjalar hingga pemahaman ke anak-anak mereka. Di Desa Bendungan, anak-anak terbiasa membuang sampah ke tempatnya ketika selesai jajan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain