Buku | Januari-Maret 2019

Rimbawan dalam Novel

Apa jadinya jika alumnus Fakultas Kehutanan IPB menjadi tokoh utama dalam sebuah novel? Akan jadi kenangan.

SAYA belum menelitinya lebih jauh apakah pernah ada novel Indonesia yang menjadikan tokoh utamanya berlatar belakang pendidikan Fakultas Kehutanan IPB. Boleh jadi novel Dilarang Bercanda dengan Kenangan sebagai buku pertama yang memuatnya dalam khazanah sastra modern Indonesia.

Fakultas Kehutanan IPB adalah fakultas yang cukup tua dalam sejarah universitas. Fakultas ini dirintis oleh para ilmuwan Belanda pada awal 1950. Saya tertarik menjadikan tokoh alumnusnya sebagai pemeran utama untuk beberapa alasan. Tapi sebelum membahasnya mari cermati ringkasan di sampul belakang buku:

Johansyah Ibrahim, seorang pemuda Indonesia yang sedang belajar ilmu PR (Public Relations) di University of Leeds, Inggris tak pernah menyangka bahwa keputusannya untuk datang ke London melihat prosesi pemakaman Putri Diana Spencer bersama beberapa teman kampusnya, akan menjadi titik balik dalam kisah cinta dan mengubah jalan hidupnya selamanya. Di tengah murung musim gugur yang mengurung kota, Jo mengalami beragam peristiwa yang bersentuhan dengan bermacam jenis hati wanita, selama sepekan yang riuh oleh liputan media dan ziarah hutan manusia. Ketika prosesi pemakaman usai, Jo harus menetapkan pilihan siapa wanita yang akan bertakhta dalam singgasana cintanya. Dia tak bisa bermain hati karena setiap pesona romansa memancarkan elegi dan tragedinya sendiri.

Pada pembukaan novel, dijelaskan lebih jauh profil Jo:

Aku alumnus Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Begitu lulus, aku tak sempat menerapkan ilmu Konservasi Sumber Daya Hutan yang kupelajari karena sekitar 1,5 bulan sebelum diwisuda aku diterima bekerja di sebuah perusahaan kehumasan. Kantor ini memang bukan termasuk tiga besar PR Agency di Tanah Air, tetapi mereka menerapkan sebuah kebijakan yang sangat kuhargai: aku diperbolehkan bekerja setelah selesai dengan semua urusan wisuda.

Kenapa seorang lulusan IPB, Fakultas Kehutanan pula, bisa diterima di perusahaan humas? Pertanyaan itu lumayan sering kuterima, dan biasanya kutanyakan balik, “Kenapa tidak?” Sebab dalam kenyataannya, alumni kampusku memang tersebar di banyak bidang pekerjaan yang sering tak ada kaitannya dengan pertanian. Ada yang masuk media massa dan berkarir sebagai jurnalis, tak sedikit yang bekerja di sektor perbankan dan menjadi bankir profesional, selain ada juga yang menggeluti industri manufaktur dan menjadi pengusaha makmur.

Akibat begitu mudahnya menemukan lulusan kampusku di segala bidang pekerjaan, maka berkembanglah kelakar bahwa jangan-jangan kepanjangan IPB itu adalah ‘Institut Pleksibel Banget’. Sebagian kawanku menganggapnya terlalu serius sebagai olok-olok sinis dari orang-orang yang iri. Aku justru melihatnya sebagai pujian terselubung akan potensi alumni yang siap ditempa di mana saja, dengan metode apa saja, untuk menjadi siapa saja. “Pleksibel itu kata yang bagus, karena menunjukkan kemampuan kita membangun negeri di berbagai bidang,” ujarku dalam sebuah pertemuan alumni. (hal. 9-10).

Bagian ini menginformasikan dua hal, yakni sebaran alumnus IPB yang luas di bidang pekerjaan tak hanya pertanian dan atau kehutanan, dan sikap open mind dan optimistik Jo yang melihat tersebarnya lulusan IPB di pelbagai bidang pekerjaan itu sebagai ‘kemampuan kita membangun negeri’. Ini pandangan Jo secara makro.

20190320141714.jpg

Adapun pandangan Jo secara mikro terhadap kemampuannya sendiri tergambarkan pada alinea selanjutnya:

Tetapi aku harus jujur mengatakan bahwa menjelang masuk kerja di hari pertama, aku cemas luar biasa. Jauh lebih cemas dibandingkan menghadapi seluruh ujian yang pernah kuhadapi dijadikan satu. Apalagi mengingat jurusan kuliahku yang ‘nggak nyambung’ dengan pekerjaan ini. Bayangkanlah aku yang selama bertahun-tahun mempelajari sumber daya hutan, kini harus mempelajari ‘sumber daya klien’: manusia dan perusahaan. Bukan kumpulan vegetasi dan animalia yang menawan (hal. 11).

Ini bagian penjelasan tentang latar belakang pendidikan dan sedikit cara berpikir Jo sebagai alumnus yang baru memasuki dunia kerja. Saya ingin membuat kontradiksi “before” dan “after” dari perkembangan sang protagonis dari seseorang yang ‘sekarang’–present dalam cerita—selalu berhubungan dengan manusia (sebagai praktisi kehumasan) dengan masa lalunya–past dalam kisah—yang tidak selalu berhubungan dengan manusia (sebagai mahasiswa kehutanan). Memang masih terbuka banyak pilihan untuk pendidikan Jo, semisal mahasiswa Geologi, Teknik Nuklir, Kimia Murni, dan lain-lain jurusan S1 yang tidak langsung berkaitan dengan manusia seperti dalam gugus ilmu humaniora (social sciences). Namun latar belakang Jo sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan saya butuhkan untuk memperkokoh lanjutan cerita saat Jo sudah melanjutkan pendidikan di Inggris.

Taman Kota dan Kebakaran Hutan

Setelah Jo berada di Inggris (terutama menghabiskan waktu di Leeds dan London) taman dan hutan kota yang tersebar di banyak lokasi adalah setting tempat yang tak terelakkan dalam novel romansa ini. Misalnya dalam pembicaraan tokoh Aida Jderescu, wartawati peranakan Rumania-Kurdi, dengan Jo di sebuah taman dekat Istana Buckingham. Awalnya Aida hanya tahu Jo sebagai mahasiswa ilmu kehumasan. Tetapi setelah dia mengetahui latar belakang pendidikan Jo yang alumni fakultas kehutanan, Aida bertanya.

“Hutan hujan tropis adalah yang terbaik di dunia. Mereka penyuplai oksigen terbesar untuk dunia, benar Jo?”

“Benar, tapi sayangnya jumlah hutan hujan tropis terus menyusut dari tahun ke tahun. Ada yang salah dengan cara pandang manusia modern saat ini terhadap hutan ... dst.” (hal. 91).        

Di bagian lain novel ini, Jo dan Pakde (paman) Sam – diplomat di KBRI London – membicarakan fenomena kebakaran hutan di tanah air yang selalu terjadi dari tahun ke tahun.

Eksplorasi Terbuka

Meskipun demikian, mengingat ilmu, perspektif dan wawasan kehutanan bukan merupakan fokus utama novel ini selain sebagai latar belakang yang ikut menopang keutuhan kisah, maka pengalaman Jo saat menjadi mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB sama sekali tak dielaborasi.

Ini menjadi ruang eksplorasi yang sangat terbuka bagi para mahasiswa maupun alumni Fakultas Kehutanan IPB untuk menuliskannya dalam karya-karya fiksi selanjutnya, sebagai ikhtiar diseminasi ide tentang pentingnya eksistensi hutan bagi kehidupan manusia, hatta di tengah era disrupsi teknologi yang membuat kita terkepung dunia digital dari segala penjuru seperti saat ini. Agar hutan tak hanya menjadi kenangan belaka di benak Generasi Milenial.

Informasi Buku:

Judul: Dilarang Bercanda dengan Kenangan
Penulis: Akmal Nasery Basral
Genre: urban romance
Tebal: 470 halaman
Penerbit: Republika Penerbit 

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain