Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|16 Juli 2022

Ketimpangan Gender Indonesia Turun

Ketimpangan gender di Indonesia turun. Kebijakan prolingkungan datang dari parlemen yang diisi banyak perempuan.

KETIMPANGAN seharusnya menjadi musuh politik. Ilmu politik diciptakan untuk menghapus ketimpangan akibat perbedaan-perbedaan, termasuk perbedaan yang inheren seperti dalam identitas: gender, ras, wilayah.

Dengan semangat itu, The Global Gender Gap Index coba memotret ketimpangan gender di 146 negara sejak 2006, lalu menganalisis seberapa lama ketimpangan itu akan tertutup. 

Indeks Ketimpangan Gender ini disusun oleh sebuah tim di bawah World Economic Forum—kumpulan negara dan perusahaan kaya yang mempromosikan globalisasi. Ketimpang gender tahun ini, menurut studi mereka, sebesar 68,1% dari nilai kesetaraan sebesar 100%.

Ada empat sektor yang dinilai dengan skor 0-100: partisipasi dan peluang ekonomi, pencapaian pendidikan, kesehatan dan kelangsungan hidup, serta pemberdayaan politik. Selain menganalisis tiap negara, Indeks Ketimpangan Gender juga meneropong per wilayah. 

Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, negara-negara di Amerika utara jadi juaranya. Indeks Ketimpangan Gender mereka 76,9%, lalu Eropa 76,6%, Amerika Latin dan Karibia 72,6%, Asia Tengah 69,1%, Asia Timur dan Pasifik 69%. Artinya, untuk wilayah Asia, Indonesia ada di peringkat yang lumayan dengan skor 69,7% dengan menduduki peringkat ke-92 dari 146 negara.

Di tingkat regional Asia Timur dan Pasifik, Indonesia berada di peringkat 10. Dibanding tahun sebelumnya, skor Indonesia naik 9 poin. Ada kenaikan 2,8 poin dalam sektor partisipasi dan peluang ekonomi.

Indonesia mendapatkan skor paling tinggi dalam subindeks pemberdayaan politik. Kewajiban calon anggota DPR 30% membuat partai politik—yang umumnya dikuasai laki-laki—mau-tak-mau melibatkan perempuan.

Seperti umumnya negara di dunia yang tergilas krisis akibat pandemi Covid-19, partisipasi angkatan kerja Indonesia menurun. Jumlah perempuan yang meninggalkan angkatan kerja sebanyak 2,3%. Dari 135 juta penduduk perempuan, tingkat partisipasinya 56% untuk perempuan usia 15-64%.

Laporan Indeks Ketimpangan Gender menyebutkan bahwa krisis ekonomi, perang, fokus pembangunan membuat banyak negara lupa menurunkan ketimpangan gender. Menurut Saadia Zahidi, Direktur The Global Gender Gap Index, jika negara-negara tidak peduli terhadap kesetaraan gender aka nada konsekuensi ekonomi dan sosial secara global.

Di Islandia, menambah anggota parlemen perempuan dan meningkatkan jumlah eksekutif di perusahaan membuat pertumbuhan ekonomi meningkat. Studi Universitas Oregon, Amerika Serikat, juga mengkonfirmasi bahwa parlemen yang diisi lebih banyak perempuan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang prolingkungan.

Dengan begitu, kesetaraan gender tak hanya berperan secara sosial dan ekonomi, juga secara ekologi. “Temuan dalam Laporan Kesenjangan Gender Global tahun ini berfungsi sebagai alat bagi para pemimpin untuk mengidentifikasi area dalam tindakan individu maupun komunitas,” kata Saadia.

Laporan edisi keenam belas ini juga memberikan data baru tentang tren di pasar tenaga kerja dan masyarakat secara lebih luas. Akibat pandemi, pendapatan perempuan maupun laki-laki turun.

Meski begitu, proporsi perempuan dalam pekerja profesional dan teknis terus naik hampir setara dengan laki-laki. Di legislatif dan manajemen senior di perusahaan peran perempuan naik dari 29,7% menjadi 32,4%.

“Kami berharap bahwa laporan ini akan menjadi panggilan para pemimpin dengan serius kesetaraan gender sebagai tujuan utama kebijakan dan praktik mereka membangun pemulihan yang berkelanjutan dan kuat,” kata Saadia. “Masa depan ekonomi, masyarakat, dan komunitas kita bergantung padanya.”

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain