Kolom | Januari-Maret 2019

Sepeda, Mesin, Kebisingan

Bersepeda di tengah-tengah jalan yang gaduh, bahkan di jalur khusus sekalipun, adalah pengalaman yang sulit bisa disebut nyaman. Deru mesin kendaraan mudah sekali menggerus perasaan aman.

Purwanto Setiadi

Wartawan dan Pesepeda

SEJAUH ini boleh dibilang hubungan antara kebisingan dan stres sudah seterang siang di musim kemarau. Begitu pula fakta bahwa sumber keingar-bingaran di luar ruang, di mana pun di dunia ini, adalah mesin--termasuk di dalamnya sistem transportasi, kendaraan bermotor, pesawat terbang, dan kereta. Tapi tampaknya masih banyak orang yang justru tak peduli betapa sebenarnya polusi suara itu membuat hidup ini terganggu.

Bersepeda termasuk di antara sedikit hal yang membantu saya menyadari kenyataan itu. Yang membuat saya seperti tiba-tiba terjaga dari tidur adalah momen ketika saya bersepeda di lokasi yang jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas yang padat kendaraan bermotor. Di jalan-jalan kecil di pinggiran kota, misalnya; kebetulan, begitulah kondisi sebagian dari rute yang saya lalui sewaktu bersepeda ke kantor.

Jauh dari hiruk-pikuk itu artinya suara-suara yang bisa saya dengar hanya berasal dari percakapan orang, ocehan satwa, gemerisik dedaunan dari aneka tanaman yang kebetulan ada di tempat yang sedang saya lalui, atau angin yang bersiul di telinga. Suara juga berasal dari desir rantai yang bergerak memutar atau memidahkan gigi. Suara lain yang bisa ikut nimbrung, jika saya sengaja menyalakan pemutar musik, adalah lagu-lagu dari album yang saya pilih untuk menemani perjalanan--tapi ini lebih banyak pada saat saya bersepeda di akhir pekan.

Betapa berbeda suasana yang relatif “natural” itu. Saya memperoleh kesan semua hal seakan-akan berhenti, seperti sedang mendengarkan 4’33”, komposisi John Cage yang fenomenal itu, atau sekurang-kurangnya bagaikan potret monokrom yang merupakan hasil pembekuan sewarna obyek-obyek hidup melalui bidikan lensa kamera.

Tentu saja, di perkotaan, apalagi di Jakarta, suasana semacam itu sangat jarang bisa dijumpai. Padahal sebenarnya tak harus demikian.

Di Belanda, negara yang 30-an persen penduduknya menjadikan sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari, kebisingan jalan secara umum hanya bisa dirasakan di...jalan juga--itu pun dengan derajat yang relatif rendah dibandingkan negara-negara lain, maksimal sekitar 90 desibel. Bergeser sedikit saja keluar dari jalan, 20-an meter, tingkat kebisingannya turun hingga setengahnya. Ini suasana seperti orang mendengar percakapan biasa, lebih hening ketimbang suara anak-anak bermain di taman di kejauhan. Beranjak sekitar 100 meter dari jalan suasana bisa senyap; meteran pun bisa tak mengukur apa-apa.

Dari segi konstruksi, memang ada upaya untuk mencapai kondisi itu, yakni dengan memilih penggunaan bahan-bahan khusus untuk permukaan jalan dan pemasangan alat penghalang kebisingan. Di samping itu, diberlakukan pula pembatasan kecepatan maksimum, terutama di kawasan yang dekat pemukiman.

Pesepeda tergolong yang diuntungkan dari upaya itu. Bagaimanapun, harus diakui bersepeda di tengah-tengah jalan yang gaduh, bahkan di jalur khusus sekalipun (yang di Jakarta dan sekitarnya masih langka), adalah pengalaman yang sulit bisa disebut nyaman. Deru mesin kendaraan mudah sekali menggerus perasaan aman.

Sangat besar kemungkinan apa yang terdapat di Belanda berlaku pula di negara-negara lain yang ramah sepeda. Di Jakarta, saya kira, pesepeda hanya bisa menghibur diri dengan mengklaim punya saraf baja, yang membantu mereka mengarungi jalan-jalan yang pengang dan membendung serangan stres. Kecuali memang sedang berolahraga off-road, atau terlalu larut pulang dari kantor, hanya sesekali saja peruntungan mereka bagus: bertemu suasana seperti yang selalu saya alami saat melalui jalan-jalan di pinggiran kota.

--13 Mei 2015

*) Dicuplik dari “Solilokui Sepeda” (Buring Printing, 2018). Hubungi penulis di WhatsApp 0877-822-562-80 untuk pemesanan

 

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain