Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|07 Juli 2022

Badak Afrika Kembali ke Habitatnya

Setelah badak kembali ke Rwanda lima tahun lalu, kini giliran badak putih kembali ke Mozambik. Sejumput kisah sukses konservasi badak Afrika.  

PADA suatu masa, badak begitu bebas berkeliaran di daratan Afrika dan Asia. Tapi kini, telah datang masa ketika hewan yang bisa dilacak hingga 50 juta tahun lalu ini di ambang kepunahan. Di padang rumput dan sabana terbuka, ada sejumput kisah sukses tentang konservasi badak Afrika.

Perang saudara, perang suku, dan perburuan merupakan faktor krusial yang menurunkan populasi badak Afrika. Badak mengilang dari Rwanda selama 10 tahun akibat perburuan dan dampak perang antara suku Tutsi dan Hutu.

Satwa ini baru kembali ke negeri itu pada 2017 ketika 18 individu badak hitam (Diceros bicornis) dari Afrika Selatan direlokasi ke Taman Nasional Akegera. Empat tahun kemudian, 30 individu badak putih selatan (Ceratotherium simum simum) menyusul direlokasi menggunakan pesawat Boeing 747.

Kini giliran Mozambik. Setelah 40 tahun badak dinyatakan punah di negeri itu, satwa megafauna ini kembali berkeliaran di Taman Nasional Zinave. Sebanyak 19 individu badak putih direlokasi dengan truk dari Afrika Selatan. Mereka menempuh jarak 1.600 kilometer, jarak transfer darat terjauh yang pernah ditempuh satwa terancam punah.

Sejak 1972, badak tak lagi ditemukan di Mozambik. Area alam liar seluas 400 kilometer persegi rusak akibat perburuan dan perang sipil berkepanjangan yang berakhir pada 1992.

Kembalinya badak ke tempat dulu mereka menghilang menjadi harapan baru bagi Afrika. Bukan hanya soal pariwisata yang memberi dampak ekonomi signifikan bagi Rwanda dan Mozambik, tapi juga perbaikan ekosistem.

Badak adalah insinyur lanskap. Dia merupakan spesies kunci, megaherbivora yang memakan banyak vegetasi, menyebarkan biji-biji dan membantu membentuk ekosistem. Secara mendasar, badak membantu penyuburan tanah di sekitar mereka dari waktu ke waktu. Dengan berkubang di genangan lumpur, mereka menciptakan lubang air alami dan menjaganya tetap terbuka. Jika badak punah, hewan-hewan yang lain bakal ikut hilang.

Badak juga merupakan hewan dengan efek Allee. Efek Allee adalah istilah ekologi untuk risiko kepunahan dengan mengukur hubungan antara tingkat kepadatan spesies dengan kebugarannya. Efek Allee menjadi faktor lain yang berpengaruh pada penurunan populasi dan ancaman kepunahan badak.

Jika habitat mengecil dan terbatas, badak akan stres sehingga mengurangi kemampuannya bertahan hidup. Kepadatan yang rendah pada satu populasi, juga membuat depresi. Badak betina juga rentan mendapat penyakit reproduksi, terutama jika mereka tidak kawin dalam waktu yang lama.

Ini yang terjadi pada Najin dan Fatu, dua spesies terakhir dari badak putih utara (Ceratotherium simum cottoni) yang kini tinggal di Konservasi Ol Pejeta, Kenya. Keduanya betina, ibu dan anak yang berada di ambang kepunahan setelah Sudan, ayah dari Najin dan Kakek (juga ayah) dari Fatu, mati pada 2018 lalu.

Perburuan dan kehilangan habitat menjadi penyebab kepunahan utama dari badak Afrika putih utara. Tapi kedekatan genetika dan penyakit reproduksi juga berkontribusi terhadap kepunahan spesies ini.

Upaya penyelamatan spesies badak putih utara kini tengah dilakukan Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research. Melalui progam riset bio-rescue, peneliti mengambil sel telur dari Najin dan Fatu untuk dibuahi dengan sel sperma dari Suni, badak putih utara jantan yang mati pada 2014.

Peneliti akhirnya menghentikan program pembiakan Najin. Najin kini berusia 31, memiliki tumor besar pada perutnya, yang saat ini tidak menyebabkan masalah kesehatan akut, tetapi menghambat fungsi organ reproduksi. Sel telur yang diambil dari Najin tidak bisa dibuahi. Tetapi dari Fatu, para peneliti sukses membuahkan 12 telur di laboratorium di Italia.

Nantinya, sel yang sudah dibuahi ini akan ditanam pada rahim ibu pengganti yang dipilih dari populasi badak putih selatan (Ceratotherium simum simum), kerabat jauh dari badak putih utara. Sebab, sejumlah tes yang dilakukan para peneliti menunjukkan bahwa baik Najin maupun Fatu tidak mampu hamil dan melahirkan.

Badak putih selatan merupakan jenis badak yang paling sosial ketimbang badak-badak lainnya. Secara umum badak cenderung soliter kecuali pada masa berbiak dan membesarkan anak. Namun, badak putih selatan bisa ditemukan dalam kawanan 5-15 individu. Mereka juga termasuk kisah sukses spesies badak yang kini populasinya diperkirakan mencapai 17.000 individu dengan status konservasi Near threatened.

Seekor badak putih selatan bernama Tauwo, menjadi “sahabat” Najin dan Fatu. Dia mengajarkan duo badak putih utara yang lahir di Taman Safari Dvůr Králové, Republik Ceko, untuk tidak takut pada Afrika. Dia mengajarkan cara menggosokkan cula, memakan tanaman, dan membuang kotoran sebagai tanda wilayah. Belum diketahui apakah Tauwo menjadi ibu pengganti bagi sel telur Fatu yang dibuahi Suni.

Di Asia, juga ada kisah sukses konservasi badak bercula satu (Rhinoceros unicornis). Menurut International Rhino Foundation, lembaga nonprofit untuk konservasi badak, ada 4.014 badak bercula satu di alam liar antara India dan Nepal.

Provinsi Assam di India menjadi rumah bagi 70% populasi. Survei yang digelar tahun ini menunjukkan bahwa ada penambahan 274 badak. Kenaikan populasi ini dipengaruhi oleh “baby boom” selama pandemi Covid-19. Area konservasi yang lebih hening dan tertutup bagi pengunjung mempengaruhi peningkatan populasi badak.

Hal yang sama juga terjadi pada badak Jawa (Rhinoceros Sonadaicus) dan badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaporkan tambahan empat anak badak pada 2021. Populasi badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon kini bertambah menjadi 75 ekor.

Sementara di Bengkulu, badak Sumatera bernama Rosa melahirkan pada Maret 2022 di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Rosa yang mengalami masalah reproduksi dan susah kawin, berhasil hamil secara alami ketika Pandemi Covid-19 terjadi. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa badak membutuhkan habitat yang tenang untuk kelangsungan hidupnya.

Badak Jawa dan badak Sumatera berstatus kritis. Namun, bila populasi badak Jawa dianggap stabil, populasi badak Sumatera menurun drastis. Jumlahnya kini diperkirakan kurang dari 80 ekor. Saat ini Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research juga bekerja sama dengan IPB University untuk menyelamatkan badak Sumatera dari kepunahan. Teknologi genetika seperti reproduksi berbantu (assisted reproduction technology) dan biobank yang digunakan untuk menyelamatkan Badak Putih Utara juga akan digunakan untuk melindungi Badak Sumatera dari kepunahan.

Uji sampel awal menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan badak Sumatera yang kini berada di Suaka Rhino Sumatera terbilang jauh, yang baik untuk program berbiak. Belum diketahui metode apa yang akan dilakukan peneliti proyek Biorescue untuk badak Sumatera.

Badak-badak Afrika mulai berkeliaran di taman-taman nasional Rwanda dan Mozambik. Semoga kelak, badak Sumatera juga bisa berkeliaran dan berkubang dengan bebas di hutan dan rawa Indonesia dengan jumlah yang lebih besar. Untuk itu, habitat badak Sumatera harus kita jaga.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain