Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|20 Mei 2022

IPB-Jerman Kembangkan Teknik Reproduksi Badak Sumatera

IPB menjalin kerja sama dengan Leibniz Institute Jerman menaikkan reproduksi badak Sumatera melalui teknik reproduksi berbantu dan bio bank. Apa itu?

BADAK Sumatera kian terancam punah akibat kerusakan habitat. Apalagi badak hewan yang sulit reproduksi. Untuk merangsang reproduksi badak, IPB University bekerja sama dengan pemerintah Jerman mengembangkan teknik reproduksi berbantu atau assisted reproduction technology (ART) dan bio bank. Apa itu?

Teknik Reproduksi Berbantu merupakan teknik yang digunakan untuk mendapatkan kehamilan menggunakan pengobatan fertilisasi, fertilisasi in vitro, atau bayi tabung, maupun surogasi (sewa rahim). Sementara bio bank adalah perpustakaan biologi yang menyimpan sampel biologis untuk digunakan dalam penelitian. Kedua teknologi tersebut bisa melindungi dan mengamankan material genetik satwa liar sehingga memastikan badak Sumatera bisa memiliki keturunan.

Hal itu merupakan jawaban atas ancaman kepunahan badak Sumatera yang tidak hanya dipicu oleh ancaman eksternal. Ancaman internal berupa kondisi kesehatan genetik dan reproduksi badak Sumatera juga sangat mengkhawatirkan.

Sejak awal 1980-an, lebih dari 70% badak di penangkaran mengalami gangguan abnormalitas organ reproduksi (kista dan tumor) dan sulit bunting. Perkembangbiakan badak Sumatera di ex-situ sangat lambat, hanya 5 anak dalam 40 tahun dan populasi in-situ punah di TN Kerinci Seblat dan sulit ditemukan lagi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan serta Way Kambas.

Saat ini, badak Sumatera statusnya sangat kritis. Diperkirakan kini jumlah badak Sumatera kurang dari 50 ekor, termasuk badak yang ada di Suaka Badak Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung dan SRS Kelian, Kutai Barat di Kalimantan Timur.

Populasi badak Sumatera di alam liar juga terus menurun secara drastis. Dari tahun 1984 hingga 2015, sekitar 90% populasi badak dunia menurun drastis dari 800 ekor pada tahun 1984 menjadi kurang dari 75 ekor pada 2015.

Hal tersebut disebabkan karena badak merupakan hewan efek Allee. Efek Allee menggambarkan kepadatan spesies yang rendah akan membuat depresi perkawinan di dalam spesies sehingga kualitas keturunan menurun akibat perkawinan sejenis. Maka, badak sangat sulit melahirkan keturunannya.

IPB University menggandeng Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research (Leibniz-IZW) Berlin, Jerman, dalam upaya Akselerasi Pengembangan Sains dan Pendidikan Konservasi Spesies Terancam Punah dengan Aplikasi Teknologi Reproduksi Berbantu (ART) dan Bio-bank. “Ini akan memberi kami kesempatan menjalin kerja sama jangka panjang untuk memperluas pengetahuan dan pemahaman ilmiah kami tentang pengobatan satwa liar, teknologi reproduksi berbantuan, dan strategi bio-bank untuk menyelamatkan spesies Indonesia yang terancam punah," kata Arif Satria, Rektor IPB University, pada siaran pers, 20 Mei 2022.

Thomas Hildebrant, Kepala Departemen Manajemen Reproduksi di Leibniz-IZW, menyambut baik proyek sains konservasi bersama ini. Leibniz-IZW akan berkontribusi menyelamatkan kepunahan badak Sumatera dengan menggunakan strategi ilmiah teknologi tinggi. “Dengan kekuatan bersama, kami akan mulai mentransfer hasil ilmiah kami dari proyek BioRescue, yang berhasil menyelamatkan sumber daya Genetik Badak Putih Utara dari kepunahan," katanya.

Kerjasama ini akan mendukung berdirinya Pusat Teknologi Reproduksi Berbantu dan Bio-Bank” di IPB University. Kolaborasi ini akan mendukung pengembangan system Sister Laboratorium antara IPB University dan IZW, jejaring dan peningkatan kapasitas. "Juga kemampuan staf untuk meningkatkan fungsi laboratorium di Indonesia dalam bidang teknik reproduksi berbantu (ART) dan aplikasi bio-bank,” kata Muhammad Agil, koordinator tim ART dan biobank di IPB.  

Arif Havas Oegroseno, Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman, mengatakan kerja sama ini akan memperkuat hubungan bilateral antara Jerman dan Indonesia. Kerja sama ini, kata dia, akan mendukung program pemerintah Indonesia untuk konservasi satwa liar dalam menyelamatkan dan melindungi satwa liar Indonesia serta sumber daya genetik spesies Indonesia yang terancam punah.

Aplikasi teknologi tersebut juga bisa menyelamatkan dan menyimpan sumber daya genetik dalam bentuk gamet (sel telur dan sperma), sel fibroblas, sel punca dan produksi embrio untuk menghasilkan individu baru badak Sumatera dan satwa liar terancam punah lainnya.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain