Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|15 Juni 2022

Dampak Krisis Iklim Bagi Kesehatan

Kesehatan masyarakat paliing rentan terkena dampak krisis iklim. Harus ada strategi untuk mencegahnya.

INI siklus yang bisa dibolak-balik: kerusakan lingkungan mengakibatkan krisis iklim, krisis iklim menyebabkan kerusakan lingkungan. Karena itu dampaknya sangat besar bagi mahluk hidup, terutama dalam hal kesehatan.

Dampak krisis iklim terhadap kesehatan secara langsung berupa panas terik yang bisa membakar kulit. Secara tidak langsung, dampak krisis iklim membangkitkan virus-virus ganas yang mengakibatkan pagebluk, seperti pandemi Covid-19 sekarang.

Secara global kematian meningkat terkait dampak krisis iklim. Jurnal Nature Climate Change merilis kematian akibat krisis iklim di 732 kota di 43 negara. Di Asia, kematian terkait dampak krisis iklim mencapai 4-70 juta orang sejak tiga dekade lalu.

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Ova Emilia menerangkan penduduk wilayah tropis lebih rentan terkena dampak perubahan panas akibat krisis iklim. Musim yang tidak bisa ditebak akan mengganggu imunitas manusia. “Di sisi lain, pembawa dan penyebab penyakit akan bermunculan akibat migrasi dan lingkungan yang mendukungnya,” kata Ova dalam webinar "Pemikiran Guru Besar UGM ke-11", 12 Juni 2022.

Panas yang berkepanjangan menyebabkan kebakaran hutan yang menghasilkan polusi udara. Polusi udara akan membawa penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, bronkitis, penyakit jantung, dan kematian dini. Selain polusi, panas yang berkepanjangan juga akan menyebabkan ruam panas, keram panas, kelelahan, stroke, dan dehidrasi.

Musim hujan yang berkepanjangan akan menyebabkan banjir. Air kotor dan infrastruktur yang rusak membawa berbagai macam penyakit bakteri. Diare, kontaminasi jamur, malaria, dan demam berdarah adalah penyakit akibat banjir.

Laksono Trisnantoro, Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM, menjelaskan bahwa kesehatan terbentuk oleh sistem struktural yang membentuknya. Ia memberikan contoh pencemaran merkuri yang akan memberikan dampak langsung seperti iritasi pada kulit. Dampak secara tidak langsung atau jangka panjangnya adalah penyakit genetika yang mengganggu kesehatan generasi berikutnya.

Untuk mencegah hal itu, Laksono menganjurkan pencegahan sejak dari perilaku individu, cara hidup, menerapkan nilai-nilai hidup sehat, serta perbaikan status sosial dan ekonomi individu.

Strategi kedua adalah pencegahan melalui faktor sosial seperti memperbaiki kehidupan bertetangga, memperbaiki kondisi lingkungan sekitar rumah, serta mengurangi kemiskinan. Mengurangi kemiskinan di masyarakat menjadi sangat penting karena kemiskinan adalah isu sejalan dengan kesehatan. “Masyarakat yang miskin akan lebih sulit mendapat akses kesehatan,” tambah Laksono.

Karena itu krisis iklim menghasilkan dampak yang tak merata. Ketidakadilan iklim lebih berat memukul mereka yang lebih miskin, mereka yang tinggal di negara miskin, orang tua, anak-anak, dan perempuan.

Cara terakhir yang dianjurkan Laksono mencegah dampak krisis iklim adalah secara struktural melalui kebijakan mitigasi. "Kesehatan masyarakat paling rentan terkena dampak krisis iklim sehingga harus ada mitigasi yang jelas,” kata dia.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain