Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 02 Juni 2022

Harimau Sumatera yang Tertangkap di Merangin Dilepaskan

Seekor harimau Sumatera Merangin dilepaskan di zona inti Taman Nasional Kerinci Seblat. Masuk kandang jebak pada 21 April 2022.  

SETELAH 40 hari berada di Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) Desa Mendalo Darat, Muaro Jambi, seekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) jantan dilepaskan ke alam liar pada 31 Mei 2022. Harimau jantan berusia 9 tahun ini dibawa dengan kandangnya menggunakan helikopter untuk mencapai lokasi pelepasan di zona inti Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

“Aksesibilitas untuk mencapai zona inti TNKS sulit sehingga proses pelepasliaran ini cukup menantang,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Rahmad Saleh. Tim gabungan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Sumberdaya Genetik (KKHSG), Balai Besar TNKS, dan BKSDA Jambi terlibat dalam pelepasan harimau Sumatera ini.

Pada penerbangan pertama, helikopter menurunkan 10 personel untuk persiapan pelepasliaran. Penerbangan kedua, menurunkan kandang harimau yang dilanjutkan dengan pelepasan pada pukul 13.00. Penerbangan ketiga untuk mengambil kandang transport harimau. “Semuanya lancar,” kata Rahmad.

Sebelumnya, harimau jantan dewasa ini masuk kandang jebak yang dipasang staf BKSDA Jambi pada 21 April 2022 lalu di Desa Nalo Gedang, Kecamatan Nalo, Kabupaten Merangin, Jambi.

Harimau ini berkali-kali menampakkan diri di desa tersebut sejak 2021. Desa tersebut berjarak sekitar 2 kilometer dari hutan produksi dan 20 kilometer dari Taman Nasional Kerinci Seblat yang tertutup perkebunan kelapa sawit dan kebun karet.

Pada 19 Maret 2022, harimau ini mulai memangsa ternak penduduk. Kejadian serupa berulang pada 2 April 2022. Total ada sebelas ekor ternak yang dimangsa Harimau. Sebanyak 9 ekor kambing di Desa Nalo Gedang dan 2 ekor di Desa Baru Nalo. Dua ekor sapi juga dimangsa harimau itu.

BKSDA Jambi lalu memasang kandang perangkap (box trap) pada 6 April 2022. Enam belas hari kemudian, sekitar pukul 07.40 WIB, harimau tersebut masuk perangkap. Pada saat ditangkap, harimau jantan dalam keadaan sehat dan baik. Panjang tubuhnya 217 sentimeter, taring atas 6,2 sentimeter, taring bawah 3,5 sentimeter.

Selama berada di TPS Balai KSDA Jambi, harimau Sumatera ini mendapatkan perawatan intensif berupa pemberian pakan hidup secara rutin dan terjadwal seperti ayam, kelinci dan kambing yang jika ditotal mencapai 370,4 kilogram. Pengecekan rutin kondisi satwa setiap hari oleh petugas TPS secara visual pada pagi dan sore hari.

Pemilihan lokasi pelepasliaran harimau Sumatera ini di jantung Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan hasil survei yang dilakukan oleh Balai Besar TNKS bersama dengan Flora Fauna Internasional (FFI).

Harimau Sumatera merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini. Kholis, Munawar., et.,al. (2017) mengutip catatan IUCN yang meyebutkan hanya ada 317 individu harimau Sumatera di alam liar sehingga statusnya kini kritis (critically endangered).

Harimau Sumatera akan melahirkan tiga sampai lima anak setiap tiga tahun, tetapi yang bertahan di alam liar biasanya hanya satu individu. Perburuan dan berkurangnya habitat akibat permukiman dan perkebunan membuat harimau Sumatera berkurang.

Berkurangnya habitat  membuat konflik harimau Sumatera dengan manusia meningkat drastis selama beberapa tahun terakhir. Harimau merupakan hewan teritorial yang memiliki daya jelajah tinggi. Luas wilayah territorial seekor harimau bisa mencapai 236 kilometer persegi dan beririsan dengan harimau lain.

Luas territorial ini berhubungan dengan ketersediaan pakan. Semakin banyak pakan, semakin kecil pula lokasi teritorialnya. Pakan alami harimau antara lain babi hutan (Sus scrofa), rusa sambar (Cervus unicolor), dan kijang muntjak (Mintiacus muntjac).

Persoalan pakan alami harimau yang diduga berkurang kini tengah menjadi sorotan sejumlah pakar satwa liar. Tingginya kasus harimau memangsa ternak penduduk yang tinggal di sekitar hutan, seperti yang terjadi dengan harimau jantan yang kini dilepaskan di Taman Nasional Kerinci Seblat, diduga berkaitan dengan berkurangnya pakan alami utama harimau, yaitu babi hutan liar.

Tahun lalu penyakit virus kolera babi (hog cholera) dan demam babi Afrika (African Swine Fever) menyerang babi ternak di Sumatera. Virus ini diduga sudah menular ke babi liar di hutan. Virus ini bisa menyebabkan babi mati mendadak.

Pelepasan harimau Sumatera jantan yang diselamatkan ini ke zona inti TNKS bisa menjadi jalan untuk melestarikan satwa kritis ini. Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan taman nasional terluas di Sumatera. Wilayahnya mencapai 13.750 kilometer persegi. 

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain