Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|01 Juni 2022

Mengenal Hiu Tikus yang Terancam Punah

Populasi hiu tikus turun 80% dalam tiga generasi terakhir. Banyak ditemukan di sekitar Kepulauan Alor.

SEJAK film Jaws (1975) tayang di layar lebar, hiu menjadi momok di lautan bagi ingatan banyak penontonnya. Entah ada hubungannya atau tidak, seiring dengan popularitas film Jaws—yang menggambarkan hiu putih besar—sebagai pemangsa segala, populasi hiu dan pari di lautan justru menurun drastis lebih dari 70% dan terancam punah.

Penurunan populasi itu juga dialami hiu thresher yang di Indonesia dikenal dengan nama hiu tikus. Hiu thresher atau hiu tikus merupakan sebutan untuk semua jenis hiu dalam genus Alopias. Sama seperti hiu lainnya, hiu tikus bisa dikenali lewat sirip segi tiga saat berenang di permukaan laut.

Bedanya, hiu dalam genus ini memiliki ekor yang bentuknya menyerupai sabit. Ekor ini bisa mencambuk mangsanya dengan kecepatan setara dengan 96,5 kilometer per jam. Kekuatan cambukan hiu tikus bisa membelah molekul air dan membuat mangsanya pingsan atau mati seketika sebelum disantap sang predator apex. Mangsa utama hiu tikus adalah ikan-ikan kecil dan cumi-cumi.

Hiu tikus juga bisa dikenali dari ukuran mata yang lebih besar ketimbang hiu lainnya—yang bagi orang Indonesia menyerupai mata tikus. Hiu tikus terdiri dari tiga spesies: hiu tikus mata besar (Alopias superciliosus), Hiu tikus pelagic (Alopias pelagicus), dan hiu tikus common (Alopias vulpinus). Ketiganya bisa dengan mudah dibedakan dari ukuran badannya.

Hiu tikus common merupakan hiu jenis yang dengan ukuran tubuh paling besar. Panjangnya mancapai 5,7 meter dan hidup di perairan subtropis. Hiu tikus mata besar panjangnya hanya 4,6 meter dan hiu tikus pelagic panjang maksimalnya cuma 3,3 meter. Dua hiu yang disebutkan terakhir banyak ditemukan di Indonesia.

Status konservasi hiu tikus common dan hiu tikus mata besar adalah rentan (vulnerable). Sementara untuk hiu tikus pelagic adalah terancam punah (endangered). Penurunan populasi ini terutama disebabkan oleh penangkapan berlebihan.

IUCN memperkirakan penurunan populasi hiu tikus pelagic sebesar 50-79% dalam tiga generasi terakhir (55,5 tahun). Sementara Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkirakan populasi hiu tikus pelagic di perairan Indonesia turun 80%.

Sama seperti hiu-hiu lainnya, harga sirip ikan hiu tikus sangat tinggi di sejumlah pasar internasional. Sirip hiu dipercaya mengandung obat antiinflamasi yang ampuh. Benar atau tidak, yang jelas nilai sirip ikan hiu ini menjadi salah satu faktor penangkapan besar-besaran yang menurunkan populasi hiu global.

Peraturan Menteri Kelautan Nomor 61/2018 telah melarang ekspor dan penangkapan hiu tikus. Namun, perlindungan terhadap hiu tikus belum ada. Salah satu alasannya adalah kurangnya data penangkapan yang menyulitkan pembuatan regulasi.

Di Indonesia, ancaman terhadap populasi hiu tikus berasal dari tangkapan sampingan dari kapal-kapal penangkap tuna mencapai 50%. Namun, di perairan Kepulauan Alor, Nusa Tenggara Timur, banyak nelayan yang beralih menjadikan hiu tikus sebagai tangkapan utama karena nilai ekonominya yang tinggi.

Perairan di sekitar Kepulauan Alor sebenarnya merupakan habitat hiu untuk melahirkan. Hiu termasuk hewan ovovivipar, satwa yang berkembang biak dengan cara bertelur dan melahirkan. Jadi setelah menetaskan telur, ibu hiu membiarkan anakan tetap di dalam perutnya sampai beberapa waktu sebelum melahirkan. Perairan tropis dangkal menjadi tempat favorit hiu tikus berkembang biak. 

Sebanyak 80% hasil hiu tikus yang ditangkap di Desa Lewalu dan Desa Ampera, pusat hiu tikus di Kepulauan Alor, dalam keadaan hamil. “Ketika perutnya dibelah, ada beberapa ekor anakan hiu di dalamnya,” kata Dewi Sari dari Thresher Shark Indonesia pada 28 Mei 2022.

Di Taiwan dan Indonesia—dua perairan tempat hiu tikus pelagic paling banyak ditemukan, usia betina dewasa 9-13,2 tahun. Dengan asumsi bahwa ada dua anakan yang lahir setiap tahun, seekor hiu tikus betina seharusnya bisa melahirkan 40 anakan selama hidupnya.

Akan tetapi penangkapan hiu secara besar-besaran di perairan Indonesia saat hiu-hiu itu sebagian besar hamil mengancam kelestarian satwa laut ini. Salah satu cara untuk memastikan satwa ini tetap lestari sebenarnya dengan memberikan edukasi dan pendekatan sosio-kultur-ekonomi kepada masyarakat pesisir.

Thresher Shark Indonesia, misalnya, mengalihkan 9 dari 16 nelayan penangkap hiu tikus di Desa Lewalu dan Desa Ampera menjadi penangkap ikan tuna, ikan merah dan kerapu dengan bantuan 5 kapal fiber dan 2 mesin kapal. “Ada juga yang memilih pengembangan model usaha lain, seperti ayam petelur dan kios,” kata Dewi.

Konservasi juga bisa dilakukan dengan pariwisata berwawasan lingkungan. Seperti yang dilakukan di Malapascua, Filipina. Malapascua adalah sebuah pulau di Filipina yang terletak di Laut Visayan. Secara administratif, ini adalah bagian dari semenanjung Logon, Daanbantayan, Cebu. Pulau yang hanya memiliki delapan dusun ini luasnya sekitar 2,5 kilometer persegi. Tapi penduduk setempat hidup berkat ekoturisme bernilai US$ 13 juta (sekitar Rp 180 miliar).

Populasi hiu tikus yang kini terancam punah pun bisa tetap lestari dengan pengelolaan yang ramah lingkungan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penulis lepas

Bagikan

Komentar



Artikel Lain