Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 28 Mei 2022

Kandidat Baru Pohon Tertua di Dunia

Ilmuwan Chili meneliti pohon tertua di dunia yang diperkirakan berusia 5.484 tahun. Terancam manusia dan perubahan iklim.  

REKOR dunia Guiness untuk pohon tertua di dunia saat ini masih dipegang oleh Mathuselah, nama untuk individu pohon pinus (Pinus longaeva). Mathuselah yang tumbuh di White Mountains, California, Amerika Serikat, berusia 4.845 tahun pada 2020.

Rekor dunia Guiness ini sebentar lagi mungkin akan berganti. Ilmuwan Chili, Dr Jonathan Barichivich, meyakini bahwa Cemara Patagonian (Fitzroya cupressoides), yang juga dikenal sebagai Alerce milenario, kemungkinan akan menggeser rekor sebagai pohon tertua di dunia yang masih hidup karena ia kini diperkirakan berusia 5.484 tahun.

Maisa Rojas, Menteri Lingkungan Chili dan anggota IPCC, menyebut berita ini sebagai, “Temuan ilmiah yang menakjubkan,” seperti dikutip The Guardian. Saat ini Barichivich sedang berusaha membuktikan hipotesisnya.

Untuk menghitung usia pohon, biasanya para ilmuwan memakai dendrokronologi. Sebuah alat dimasukkan ke dalam inti batang untuk menghitung jumlah cincin pertumbuhannya.

Masalahnya, sebuah pohon acap terlalu lebar untuk alat ukuran standar. Selain itu, sering kali sebuah pohon memiliki inti yang busuk. Pilihan lain mengetahui usia pohon menggunakan lubang pada akar dan memberi penanggalan karbon. Tapi cara ini akan merusak akar, sehingga Barichivich akan memakainya sebagai teknik terakhir. “Tantangan ilmiahnya adalah memperkirakan usia tanpa terlalu mengganggu pohon," kata Barichivich seperti dikutip Newsweek

Barichivich lalu menggunakan inti lengkap pohon lain sejenis dan informasi faktor lingkungan serta variasi acak untuk memperkirakan usia pohon. Metode ini menghasilkan perkiraan usia cemara Patagonia 5.484 tahun, dengan kemungkinan 80% bahwa pohon tersebut telah hidup selama lebih dari 5.000 tahun. "Itu menakjubkan,” katanya seperti dikutip Science. Dia semula mengira pohon itu berumur sekitar 4.000 tahun.

Pohon cemara Patagonia yang dikenal dengan nama “kakek buyut” ini juga terancam  oleh pengunjung Taman Nasional Alerce Costero, tempat pohon ini berakar, karena lokasinya yang terbuka. Juga oleh perubahan iklim yang membuat lembah sejuk dan lembab ini mulai kering.

Pohon tertua di Eropa berada di Yunanii, pinus Bosnia (Pinus holdingreichii) yang berusia 1.075 tahun. Pohon ini dinamai Adonis, berdasarkan tokoh mitologi Yunani yang menggambarkan keremajaan abadi. Pohon ini diperkirakan mulai tumbuuh pada 941, ketika Viking menyerang garis pantai Eropa.

Di Asia, pohon yang diperkirakan paling tua tumbuh di Iran, yang dijadikan monumen nasional. Pohon cemara Abarkuh (Cupressus sempervirens) itu diperkirakan berusia 4.000 tahun. Pohon yang dikenal dengan nama Zoroastrian Sarv itu tingginya mencapai 25 meter dengan lingkar pohon 18 meter. Pohon ini sudah disebutkan dalam naskah-naskah dari abad 14.

Ada juga beberapa koloni klon— yang terdiri dari pohon identik secara genetik yang dihubungkan oleh sistem akar tunggal—yang jauh lebih tua. Misalnya, Pando, atau "raksasa gemetar", adalah koloni klon yang terdiri dari lebih dari 40.000 pohon aspen (Populus tremuloides) yang ada di hutan nasional Fishlake, Utah, Amerika Serikat. Koloni ini diperkirakan berusia 80.000 tahun.

Rekor dunia Guiness juga mencatat Old Tjikka, pohon spruce Norwegia (Picea abies) berusia 9.550 tahun sebagai individu tertua dari pohon klon. Old Tjikka diperkirakan pohon yang hidup dari koloni klon kuno yang ada di akarnya. Pohon ini terletak di egunungan Fulufjället di Swedia

Menurut ilmuwan Universitas Umeå, ada empat generasi sisa-sisa pohon cemara di situs tersebut, semuanya dengan susunan genetik yang sama. Pohon spruce bisa berkembang biak dengan akar menembus cabang untuk menghasilkan salinan yang tepat dari diri mereka sendiri. Jadi meskipun usia batang individu lebih muda, organisme ini mengkloning dirinya sendiri setidaknya selama 9.550 tahun.

Dengan melihat perbandingan-perbadingan data temuan ilmiah tersebut, cemara Patagonia di Chili menjadi kandidat terkuat pohon tertua di dunia.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain