Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|06 Mei 2022

Peran Fitoplankton Bagi Bumi

Fitoplankton bisa mengubah air laut. Mereka berperan memberi oksigen dan menyerap karbon global.

TIM peneliti IPB University yang dipimpin Profesor Hefni Effendi menyebutkan bahwa warna air laut Teluk Bima yang berubah cokelat seperti kopi-susu kental pada akhir April 2022 karena fitoplankton. Ledakan jumlahnya yang melebihi ambang batas membuat warna air laut berubah menyesuaikan pigmen dominan plankton jenis Bacillariophyceae. Apa itu fitoplankton?

Fitoplankton adalah salah satu jenis plankton yang dapat menghasilkan makanan sendiri atau bersifat autotrof. Berbeda dengan zooplankton (jenis lain plankton), fitoplankton dapat dikategorikan “tumbuhan” yang merupakan produsen primer terbanyak di ekosistem perairan.

Fitoplankton menghasilkan oksigen. Jika di darat makhluk hidup mendapatkan oksigen dari proses fotosintesis yang dilakukan tumbuhan, di air makhluk hidup mendapatkan oksigen dari tumbuhan air dan fitoplankton.

Sebagai produsen primer, peran fitoplankton atau biasa dikenal dengan nama alga atau ganggang sangat besar dalam rantai makanan ekosistem perairan. Secara klasifikasi, fitoplankton masuk ke dalam kingdom protista yang mirip tumbuhan.

Ciri-ciri protista mirip tumbuhan antara lain bersel satu (uniseluler) jika berbentuk benang atau banyak sel jika berbentuk lembaran. Sel yang telah memiliki membran inti (eukariot) memiliki klorofil dan reproduksi mereka secara aseksual (membelah diri), seksual, atau vegetatif.

Ada lima jenis fitoplankton berdasarkan pigmen yang dominan menyusun selnya yaitu alga biru (fikosianin), hijau (klorofil), cokelat (fikosantin), keemasan (fikoertirin), dan alga kuning (xantofil). Alga hijau paling banyak hidup di air tawar. Sementara alga merah, cokelat dan keemasan hidup di ekosistem laut.

Karena menempati urutan terbawah dalam ekosistem, fitoplankton menjadi bioindikator suatu lingkungan. Jika lingkungan sehat, jumlah fitoplankton seimbang. Sementara jika lingkungan rusak, fitoplankton terganggu.

Fitoplankton di Teluk Bima merupakan jenis diatom (alga cokelat keemasan) mengalami ledakan pertumbuhan pesat. Ketika mereka masuk fase kematian warna tersebut membentuk lapisan cokelat di permukaan air karena seperti jelly.

Keberadaan mereka yang mengambang akan menghambat oksigen masuk ke perairan. “Itu kenapa ikan-ikan mati,” kata Hefni Effendi, pakar lingkungan IPB University.

Fitoplankton berkaitan erat dengan siklus karbon. Sebagai organisme autotrof, fitoplankton menyerap karbon sebagai energi untuk membentuk senyawa karbohidrat. Karena diserap, karbon berpindah dari air (dihasilkan dari pernapasan makhluk air) ke tubuh fitoplankton sehingga bisa dikatakan fitoplankton dapat menyimpan biomassa karbon.

Meski ukurannya kecil, akumulasi fitoplankton memiliki peran besar terhadap penyerapan karbon global. Berdasarkan penelitian di jurnal Oceana, yang ditulis Firdaus dan Wijayanti, akumulasi fitoplankton secara global mampu menyerap sebesar 4-5 juta gram karbon.

Kemampuannya menyerap karbon itu membuat fitoplankton memiliki tanggung jawab besar menangkap karbon dalam aliran karbon di atmosfer ke hidrosfer. Proses aliran itu disebut sekuestrasi karbon (penyerapan karbon dan disimpan dalam waktu lama) yang merupakan bagian sistem alam yaitu pompa karbon biologi.

Pompa karbon biologi dibagi menjadi dua mekanisme, yaitu partikulat karbon organik dengan aliran vertikal dan pompa karbonate. Potensi penyerapan karbon dari fitoplankton masih dalam kajian karena penyerapan karbon dari ekosistem laut belum dihitung secara akurat sebagai mitigasi perubahan iklim.

Daur proses penyerapan karbon fitoplankton itu menghasilkan sampah berupa metana yang menjadi sumber pangan bagi bakteri metanotrof. Pesaing utama dalam rantai makanan itu adalah zooplankton, hewan renik di bawah air, yang lahap memakan metana. Maka jika metanotrof melimpah, jumlah zooplankton cenderung turun.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain