Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|06 Mei 2022

Penyebab Laut Cokelat Teluk Bima

Mengapa air laut Teluk Bima berwarna cokelat? Temuan peneliti IPB.

SEBUAH video yang viral di media sosial menunjukkan Teluk Bima di Nusa Tenggara Barat seperti lautan kopi susu pada 27 April 2022. Bukan biru alut, air teluk itu cokelat dan hitam. Banyak yang menduga air cokelat itu adalah limbah minyak Pertamina. Benarkah?

Berubahnya air laut Teluk Bima menjadi cokelat itu membuat banyak ikan mati mendadak sehingga nelayan enggan melaut. Untuk memastikan perubahan warna air laut Teluk Bima itu sejumlah peneliti IPB University terjun menelisiknya dengan meneliti sampel air laut Teluk Bima yang diambil pada 29 April 2022. Menurut mereka, air cokelat itu adalah pigmen fitoplankton.

Fitoplankton adalah makhluk hidup mikro dalam ekosistem perairan dengan peran sangat penting bagi bumi. Sama seperti tumbuhan di darat, fitoplankton merupakan makhluk autotrof atau dapat menghasilkan oksigen dari proses fotosintesis untuk kebutuhan makhluk hidup air. Jumlahnya yang miliaran itu juga bisa membantu penyerapan karbon yang cukup besar.

Pakar lingkungan IPB Hefni Effendi, yang memimpin identifikasi itu, mengatakan bahwa kelimpahan fitoplankton atau blooming itu terjadi di kelas Bacillariophyceae. Hefni meneliti air sampel Teluk Bima bersama ahli kualitas air Mursalin Aan, dosen ilmu manajemen perairan Reza Zulmi, dan peneliti lingkungan hidup Luluk DW Handayani.

Bacillariophyceae adalah fitoplankton jenis diatom yang masuk ke dalam kelompok alga cokelat keemasan. Warna itu berasal dari kandungan pigmen warna kuning yang dominan daripada pigmen warna hijau di tubuhnya. Warna tersebut membuat laut Teluk Bima pun berwarna cokelat.

Jumlah alga Bacillariophyceae di Teluk Bima diperkirakan sebanyak 10-100 miliar per liter air. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2021, kandungan fitoplankton itu melebihi baku mutu air yang mensyaratkan ambang batas fitoplankton 1.000 sel per mililiter atau 1 juta sel per liter.

Hefni Effendi menerangkan bahwa konsentrasi unsur hara nitrogen, fosfor, dan silikat yang berlebihan di laut bisa memicu pertumbuhan pesat fitoplankton ini. Berdasarkan fase hidup plankton, setelah berkembang secara eksponensial selama 3- 5 hari, mereka akan memasuki fase pertumbuhan stabil lalu berlanjut ke fase kematian.

“Ketika fitoplankton yang kelimpahannya sangat tinggi ini mati secara bersamaan, mereka akan mengapung di permukaan laut membentuk lapisan cokelat serupa jelly,” ujarnya seperti dikutip laman IPB University.

Karena lapisan itu, kondisi lingkungan air menjadi berubah dari aerob (ada oksigen) menjadi anaerob (tanpa oksigen). Kondisi itu diakibatkan oleh proses pembusukan alga yang membutuhkan oksigen dalam jumlah besar sehingga oksigen yang tersedia di dalam air berkurang drastis. “Maka ikan mati secara mendadak,” katanya.

Fenomena blooming plankton terjadi secara berkala di lautan. Kelimpahan fitoplankton juga pernah terjadi di Kepulauan Seribu pada 15 Oktober 2020. Jumlah tertinggi fitoplankton di sini mencapai 58 miliar sel. Namun, tampak mata kelimpahan fitoplankton di Teluk Bima terlihat lebih parah.

Menurut Hefni, fitoplankton di Kepulauan Seribu tidak terlihat parah karena area perairannya lebih terbuka dibanding perairan Teluk Bima. Karena itu blooming plankton tidak terkonsentrasi, tersebar, sehingga kelimpahan per luas permukaan laut menjadi lebih kecil. “Lapisan cokelat di Teluk Bima merupakan material biologis berupa biomassa fitoplankton Bacillariophyceae yang mengalami ledakan pertumbuhan pesat (blooming), yang sudah mati dan mengapung di permukaan laut,” kata Hefni.

Menurut dia, blooming diduga terjadi karena kombinasi antara fenomena alam (iklim dan oseanografi) dan kemungkinan adanya pengayaan unsur hara (eutrofikasi) perairan dari sumber yang tidak tentu (non point sources). Fitoplankton Bacillariophyceae bukan penghasil racun (algae toxin), namun ledakan dalam jumlah besar tetap berefek kepada proses ekologi dan sosial, yakni keresahan masyarakat, kekurangan oksigen, dan menurunnya estetika perairan.

Untuk menguak lebih lanjut fenomena kausalitas ledakan fitoplankton di Teluk Bima, Hefni mengatakan perlu telaah lanjutan, terutama yang berkaitan dengan sumber penyebab blooming dan stimulator unsur hara yang tiba-tiba tinggi di air.

“Apakah ada fenomena pembalikan massa air (up welling) karena perubahan suhu dan perubahan musim dari hujan ke kemarau?” kata Hefni. “Atau adakah sumber antropogenik di laut dan darat yang mengakibatkan peningkatan unsur hara di laut, khususnya di Teluk Bima?”

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain