Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|28 April 2022

Kecemasan Lingkungan Akibat Krisis Iklim

Anak muda mencemaskan masa depan. Lingkungan rusak dan krisis iklim memicu eco anxiety.

DI Amerika, menurut berita, remaja di sana acap terserang eco-anxiety, kegelisahan lingkungan akibat krisis iklim. Mereka mencemaskan masa depan akibat lingkungan yang rusak. Jika tak ditangani segera, krisis iklim akan mengancam manusia dari pelbagai aspek. 

Menurut Medical News Today, eco-anxiety merupakan gangguan kecemasan kronis atau parah terkait dengan hubungan manusia dengan lingkungan. Gangguan ini biasanya melibatkan perasaan takut dan cemas akan malapetaka yang terjadi pada lingkungan. Meskipun berupa gangguan kecemasan, namun eco-anxiety tidak tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Efek langsung dari perubahan iklim, seperti kerusakan pada kelompok masyarakat, hilangnya makanan, dan berkurangnya keamanan pasokan medis, dapat menyebabkan kerusakan akut pada kesehatan mental masyarakat. Dampak bertahap dari kondisi perubahan iklim, termasuk naiknya permukaan air laut dan perubahan pola cuaca ekstrem, bahkan dapat menyebabkan gejala kesehatan mental kronis. 

Kondisi ini dapat meningkatkan gangguan stres, dan jika tidak dikelola dengan baik dapat mempengaruhi gangguan kesehatan serius, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan depresi. Bukan hanya itu, kecemasan lingkungan juga bisa mendorong pada gangguan mental kronis lain, seperti trauma dan syok, post-traumatic stress disorder, penyalahgunaan zat kimia, hingga perasaan ketakutan dan tidak berdaya.

Eco-anxiety terjadi akibat beberapa faktor, seperti pengalaman langsung menjadi korban bencana maupun risiko di masa depan tentang kondisi lingkungan yang semakin rusak dan menimbulkan berbagai bencana alam.

Berdasarkan penelitian, terbukti bahwa sebagian orang cenderung mengalami kecemasan kronis karena merasa tidak bisa mengendalikan masalah lingkungan, terutama perubahan iklim. Bagi sebagian orang, meningkatnya krisis lingkungan tidak hanya membuat frustrasi, menakutkan, dan mengejutkan, tetapi juga sumber kecemasan yang berkepanjangan dan melelahkan.

Sebagian yang lain juga mungkin merasa bersalah akan dampak kerusakan lingkungan yang dilakukan generasinya dan akan diturunkan pada generasi mendatang. Beberapa gejala eco-anxiety yang perlu dikenali: perasaan sedih, marah, frustrasi, atau tidak berdaya dan putus asa tentang kerusakan lingkungan memang wajar dialami oleh semua orang.

Tidak ada gejala pasti yang terjadi pada eco-anxiety atau kecemasan lingkungan. Jika gangguan kecemasan terjadi secara terus menerus hingga mengganggu produktivitas sehari- hari, maka perlu segera berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental untuk membantu mengatasi gangguan yang dirasakan. 

Beberapa cara mengatasi gangguan gejala eco-anxiety:

  • Mengambil tindakan nyata membantu keselamatan lingkungan, seperti menjadi sukarelawan untuk kegiatan lingkungan, menjalankan pola hidup berkelanjutan dengan mengurangi sampah dan mengolah sampah, hingga mengurangi konsumsi daging dan produk susu.
  • Mengedukasi diri dengan informasi yang akurat tentang perkembangan lingkungan dan kiat-kiat yang bisa dilakukan jika terjadi krisis.
  • Fokus pada ketahanan, yaitu orang yang merasa positif tentang kemampuannya dalam mengatasi stres dan cemas lebih baik daripada orang yang kurang percaya diri dengan keterampilan ketahanannya.
  • Membangun pola pikir yang optimis disertai dengan upaya nyata yang berdampak baik pada lingkungan.
  • Melakukan latihan fisik atau olahraga secara teratur untuk membantu mengelola perasaan stres dan cemas yang dialami.
  • Jika terlalu stres mendapatkan terpaan berbagai informasi negatif tentang lingkungan, istirahat sejenak dari interaksi media, baik media televisi, radio, hingga media sosial.
  • Berkonsultasi dengan dokter atau psikolog jika perasaan cemas semakin mengganggu dan mempengaruhi produktivitas sehari-hari.

Laporan Panel Lintas Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) terbaru juga memberikan informasi latar belakang dan pilihan kebijakan sehingga bisa digunakan oleh pengambil keputusan untuk membuat pilihan yang tepat guna memastikan bumi tetap layak huni pada masa depan. Semua jalan untuk mencegah bencana tersebut meliputi pengurangan emisi gas rumah kaca di sektor industri, transportasi, pertanian, energi dan perkotaan.

IPCC menyebutkan penggunaan bahan bakar fosil harus dikurangi signifikan, untuk batubara 90%, gas 25%, dan minyak 40% tahun 2050. Peluang untuk beralih ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan tenaga angina, saat ini semakin besar karena biaya teknologinya telah turun signifikan.

Untuk mengurangi emisi, laporan IPCC juga menekankan pentingnya mengurangi permintaan energi dengan mengubah gaya hidup. Langkah ini termasuk beralih ke pola makan sehat berbasis tanaman, mengurangi limbah makanan dan konsumsi berlebihan, mendukung produk tahan lama dan dapat diperbaiki, mematikan pemanas ruangan, bekerja jarak jauh serta berbagi mobil.

Namun upaya penurunan emisi saja belum cukup. Negara-negara yang sudah mencapai target nol emisi juga perlu menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Selain melalui teknologi penangkap karbon, upaya lain adalah memperluas hutan dan meningkatkan praktik pertanian ramah lingkungan. 

Wakil Ketua Kelompok Kerja I IPCC Edvin Adrian mengatakan laporan terbaru IPCC sudah memasukkan ekosistem alami dan menjaga keberagaman hayati sebagai bagian dari solusi untuk mengatasi perubahan iklim seharusnya menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan Indonesia. 

Indonesia harus mengambil aksi menjaga ekosistem baik di hutan maupun di laut untuk memitigasi emisi karbon. Peluang pendanaannya untuk sektor ini semakin besar. Demikian juga peluang pembangunan ramah lingkungan. Saran IPCC sederhana dan bisa dilakukan dengan kebijakan kuat dan dukung publik sehingga kecemasan lingkungan atau eco anxiety tidak meluas dan memanjang.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Pernah bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Bagikan

Komentar



Artikel Lain