Laporan Utama | Oktober-Desember 2018

Derita Satwa Nusa Tenggara

Satwa endemik Nusa Tenggara Timur kian tergerus karena habitatnya yang hancur. Perlu dikelola dengan paradigma konservasi.

Oki Hidayat

Peneliti di Balai Penelitian Kehutanan Kupang, Nusa Tenggara Timur

BERADA di gugus Kepulauan Sunda Kecil, atau dalam dunia biogeografi lebih dikenal dengan sebutan Lesser Sunda Islands, Nusa Tenggara Timur menyimpan keanekaragaman hayati yang unik dan endemik. Kondisi fisik NTT berbeda secara signifikan dengan wilayah Indonesia lainnya, dengan iklim semi-arid yang gersang, kering serta periode hujan yang singkat, membuat wilayah ini kaya akan jenis satwa dan tumbuhan endemik. 

Pada 2017, ilmuwan menemukan jenis baru seperti Myzomela Rote dan Cikrak Daun Rote yang diumumkan pada 23 Oktober 2018. Selain itu masih ada beberapa kandidat jenis baru yang hingga kini masih dalam proses penelitian dan penelaahan lebih lanjut oleh para ahli, seperti jenis burung bondol hijau baru di Gunung Mutis, jenis burung Myzomela di Alor dan burung ponggok dari Rote. Semua jenis burung tersebut hingga kini masih belum terdeskripsikan. 

Kita lega karena biawak Komodo (Varanus komodoensis) yang menjadi ikon NTT, telah mendapat perhatian lebih sehingga keberadaannya relatif aman dari ancaman. Tapi, bagaimana dengan nasib hewan endemik NTT yang lain? 

NTT adalah rumah beberapa jenis hewan endemis, terutama reptil dan burung. Ular Sanca Timor (Malayophython timoriensis), Biawak Timor (Varanus timorensis), Biawak Rote (Varanus auffenbergi), kura-kura leher ular Rote (Chelodina mccordii) adalah sedikit dari hewan endemik itu. Sedangkan untuk kelompok burung, NTT memiliki berbagai jenis burung yang unik dan khas, seperti Julang Sumba (Aceros everetti) dan Myzomela Rote (Myzomela irianawidodoae). 

Hanya sebagian satwa endemik NTT yang mendapatkan perhatian dalam bentuk perlindungan hukum. Jumlahnya pun masih lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang belum dilindungi. Ada juga jenis dilindungi yang sangat memprihatinkan. Kura-kura leher ular Rote tak bernasib baik seperti Komodo. Habitat alaminya tak diketahui dan masih menjadi misteri. Pencarian satu dekade tak membuahkan hasil. Besar kemungkinan mereka telah punah. 

Perburuan tak terkontrol secara besar-besaran telah menurunkan populasinya secara drastis hingga tak ditemukan lagi. Sebagian besar habitatnya telah rusak, menyempit dan beralih jadi lahan pertanian. Saat ini hanya Danau Peto dan Danau Ledulu yang menjadi harapan, namun kondisinya juga sudah rusak. Ancaman invasive alien species (IAR), yaitu ikan gabus, menjadi predator anakan kura-kura. 

Tak ada pilihan lain, konservasi eks-situ melalui penangkaran merupakan strategi terakhir menyelamatkan kura-kura Rote dari kepunahan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah melakukannya. Kura-kura leher ular Rote telah berhasil ditangkarkan di Kupang sejak tahun 2013. Namun demikian, terbatasnya jumlah induk menjadi kendala serius dalam kekayaan materi genetik. 

Cara memperkaya adalah dengan cara mendatangkan induk yang tersebar di beberapa negara seperti Singapura, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa. Namun, biaya operasional yang tinggi serta tidak adanya mekanisme pendanaan untuk mendatangkan induk dari luar membuat langkah pelestarian semakin sulit dan jauh dari harapan. 

Ancaman Nyata

Sejak 2000 banyak operator birdwatching tour aktif mengunjungi NTT sebagai lokasi pengamatan burung. Potensi wisata alam berbasis keanekaragaman hayati yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar habitat burung. Namun potensi ini harus berhadapan dengan merebaknya penggunaan senapan angin dan perburuan ilegal burung endemik sebagai satwa peliharaan (burung berkicau). Jenis-jenis burung endemik yang banyak diperdagangkan berupa jenis burung berkicau (song birds) dan burung paruh bengkok (parrot) (Tabel 1).

Tabel 1. Jenis-jenis burung nusa tenggara yang diperdagangkan

Jenis

Nama latin

Sebaran

Perlindungan Internasional

Perlindungan Nasional

Anis Timor

Zoothera peronii peronii

Timor, Rote,

NT

-

Anis Nusa Tenggara

Zoothera dohertyi

Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, dan Timor

NT

-

Decu Timor

Saxicola gutturalis

Timor, Semau

LC

-

Sikatan Bakung

Cyornis hyacinthinus hyacinthinus

Timor, Semua, Rote

LC

-

Meliphaga Dada-lurik

Meliphaga reticulata

Timor, Semau

LC

PP No.7/1999

Myzomela Rote

 

Rote

-

Cikukua Timor

Philemon inornatus

Timor

LC

-

Kacamata Wallacea

Heleia wallacei

Sumbawa, Komodo, Rinca, Flores, Besar, Lomblen, Sumba

LC

Permen LHK No.92/2018

Kacamata Limau

Zosterops citrinellus

Sumba, Sawu, Timor, dan Rote

LC

-

Burung Madu-matari

Cinnyris solaris

Sumbawa, Komodo, Flores, Lomblen, Alor, Atauro, Timor, Semau, Rote, Wetar

LC

PP No.7/1999

Perkici Timor

Trichoglassus euteles

Timor, Lomblen, Pantar, Alor, Wetar, Moa, Kisar, Leti, Luang, Babar, Romang, Damar dan Teun Nila

LC, Appendiks II

Permen LHK No.92/2018

Perkici Oranye

Trichoglossus capistratus

Timor, Sumba, Wetar, Romang

NR, Appendiks II

Permen LHK No.92/2018

Perkici Flores

Trichoglossus weberi

Flores

NT, Appendiks II

Permen LHK No.92/2018

Perkici Iris

Psitteuteles iris

Timor, Wetar

NT, Appendiks II

Permen LHK No.92/2018

Nuri Raja-kembang

Aprosmictus jonquillaceus

Timor, Rote, Wetar

NT, Appendiks II

Permen LHK No.92/2018

Gelatik Timor

Lonchura fuscata

Timor, Rote, Semau

NT

-

Keterangan: NT (Near Threatened)/Hampir terancam, LC (Least Concern)/Resiko rendah, NR (Not Recognized)/Tidak diketahui versi IUCN; Appendiks II versi CITES

Sumber : Oki Hidayat (data tak dipublikasikan)

Penangkapan dan perdagangan burung-burung asli NTT cenderung meningkat. Jual beli burung kini tidak hanya dilakukan secara konvensional melalui pasar atau kios burung namun telah bertransformasi menjadi jual beli secara online melalui media sosial. Paling tidak saat ini ada enam grup jual beli burung di Facebook di sekitar NTT. Anggotanya aktif memperjualbelikan berbagai macam burung mulai dari burung asli NTT, burung eksotik NTT hingga burung eksotik Indonesia. 

Tiap tahun ratusan burung dari berbagai jenis ditangkap untuk diperjualbelikan. Tidak hanya burung dewasa, burung muda hingga anakannya pun juga ditangkap secara tak terkendali. Burung yang paling banyak ditangkap untuk diperjualbelikan adalah anis Timor, kacamata Wallacea, kacamata Limau dan perkici Timor. 

Pada periode tertentu khususnya pada masa perkembangbiakan, anakan burung akan banyak sekali dijual, khususnya di Kota Kupang. Contohnya anakan burung Anis Timor, jumlahnya dapat mencapai ratusan ekor pada bulan Desember hingga Maret. Selain burung endemik, penangkapan secara besar-besaran juga dilakukan terhadap berbagai jenis burung lainnya seperti Branjangan Jawa (Miafra javanica). 

Beberapa kali upaya penyelundupan jenis ini berhasil digagalkan oleh pihak kepolisian dan polisi kehutanan. Seperti yang terjadi pada 6 September 2018 lalu, sebanyak 526 ekor Branjangan Jawa dan 24 ekor Decu Belang yang akan dikirim ke Pulau Lombok dan Jawa, tertangkap karena terbukti tidak dilengkapi dengan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa – Dalam Negeri (Taman Nasional Matalawa, 2018).

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain