Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 14 April 2022

Pemutihan Terumbu Karang di Australia Meluas Hingga Tasmania  

Great Barrier Reef mengalami pemutihan massal keenam akibat kenaikan suhu air laut. Tamparan keras atas kebijakan iklim Australia

OTORITAS terumbu karang di Australia mengumumkan terjadinya pemutihan massal keenam di Great Barrier Reef. Survei udara pada Maret lalu menunjukkan hampir tidak ada terumbu karang yang lolos dari panas di bentangan 1.200 kilometer itu.

Temuan ini mengkhawatirkan. Sebab, pemutihan terjadi pada tahun ketika La Nina terjadi. La Nina, fenomena menurunnya suhu muka laut di bawah kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik tengah, seharusnya menjadi tahun pemulihan bagi terumbu karang di Great Barrier Reef. Sebelumnya, pemutihan massal pada 1998, 2002, 2016, 2017 dan 2020 terjadi saat fenomena El Nino.

Krisis iklim membuat suhu muka air laut dan terumbu karang yang seharusnya lebih dingin dari kondisi normal kini justru 1,50 Celsius lebih hangat daripada 150 tahun yang lalu.

“Peristiwa yang tak terduga akan segera terjadi,” kata Kepala Ilmuwan Otoritas Taman Laut Great Barrier Reed, Dr David Wachenfeld seperti dikutip The Guardian, pekan lalu. Pada Maret lalu, gelombang panas juga menghempas Antartika dan melelehkan lapisan es Conger yang luasnya dua kali kota Jakarta.

"Kita perlu melihat [peristiwa-peristiwa ini] seperti terumbu membunyikan bel alarm yang sangat keras tentang dampak perubahan iklim,” kata Wachenfeld. Dia berharap ada tindakan nyata secepat mungkin untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara global, “dan komitmen pemerintah yang berkelanjutan.”

Pemutihan ini merupakan tamparan keras bagi Australia, salah satu negara penghasil emisi terbesar dunia. Pada KTT COP 26 di Glasgow Skotlandia, kebijakan Australia dalam merespon perubahan iklim menempati posisi terakhir dari sejumlah negara. Indeks Kinerja Perubahan Iklim yang sama juga menempatkan Australia pada peringkat 54 dalam pemakaian energi dan 52 dalam energi terbarukan. Indeks itu merangkum 60 negara yang berkontribusi pada 92 persen emisi global. Tahun lalu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyatakan tidak akan berhenti mengekspor batubara selama permintaan masih ada.

"Kami membutuhkan tindakan segera. Kami sedang menonton pemutihan setiap tahun. Jejak spasial panas ini meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan,” kata Neal Cantin dari Institut Ilmu Kelautan Australia (AIMS). Pemutihan terjadi lebih cepat daripada prediksi 20 tahun yang lalu. Tingkat keparahan dan frekuensi pemutihan juga sangat mengkhawatirkan.

Kehilangan terumbu karang adalah mimpi buruk bagi ekosistem laut. Sebanyak lebih dari 25 persen spesies laut bergantung pada terumbu karang untuk bertahan hidup. Garis pantai juga akan menjadi lebih rentan terhadap banjir, badai dan angin topan. Lautan juga akan meninggalkan lebih banyak CO2 di atmosfer.

Dampak dari menghangatnya suhu air laut juga terjadi di perairan Tasmania timur. Spons laut di perairan itu mengalami pemutihan. Para ilmuwan memperingatkan penemuan itu bisa menjadi indikator perubahan iklim di sistem terumbu yang lebih dalam.

“Spons berperan menarik nutrisi dari air laut dan mengubahnya menjadi bahan yang memberi makan produksi terumbu,” kata Neville Barret, professor dari Institut Studi Kelautan dan Antartika Universitas Tasmania.

Temuan yang baru-baru ini dipublikasikan di jurnal Climate Change Ecology itu menunjukkan adanya peningkatan pemutihan dari waktu ke waktu. Suhu laut di lepas pantai timur Tasmania meningkat hampir empat kali lipat rata-rata global. Wilayah ini mengalami gelombang panas laut yang intens pada 2015-16 dan 2017-18.

Pemanasan suhu laut ini, kata Barret, bisa membuat spesies berpindah ke selatan, “Masalah terbesar adalah spesies endemik apa pun yang kita miliki di Tasmania sekarang, mereka tidak punya tempat untuk pergi saat keadaan memanas.” Pemutihan terumbu karang menunjukkan krisis iklim semakin parah karena ia merusak ekosistem penyerap 25% emisi global.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain