Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|08 Desember 2021

Terumbu Karang Makin Kritis

Terumbu karang bisa punah setengah abad lagi akibat krisis iklim. Perlu menekan laju pemanasan global dan menghentikan penangkapan ikan besar-besaran.

KONDISI terumbu karang di dunia makin kritis akibat krisis iklim. Dalam studi terbaru yang dipublikasikan Nature Sustainability edisi 6 Desember 2021, terumbu karang di sebelah barat Samudera Hindia bisa punah dalam 50 tahun mendatang akibat pemanasan global dan penangkapan ikan yang masif.

Dari Seychelles hingga Delagoa di perairan Mozambik dan Afrika Selatan, terumbu karang diperkirakan lenyap pada 2070. Hancurnya terumbu karang mengakibatkan hilangnya keragaman hayati dan sumber makanan bagi ratusan ribu manusia.

Studi tersebut mengamati terumbu karang di sepuluh negara di wilayah barat Samudera Hindia. Para peneliti menggunakan kerangka kerja International Union for the Conservation of Nature’s (IUCN) dengan meneliti data tumbuhan dan ikan yang terancam punah.

Dalam penelitian tersebut terungkap semakin banyak terumbu karang yang mengalami pemutihan (bleaching) akibat suhu air yang menghangat. Yang terparah adalah terumbu karang di timur dan selatan Madagaskar, lalu di kepulauan Komoro dan Maskarene, statusnya terancam punah.

Di Seychelles dan sepanjang pantai Afrika timur rusak karena penangkapan ikan yang berlebihan, terutama ikan-ikan predator. Akibat dari eksploitasi ini ekosistem terganggu hingga mendorong ganggang yang menutupi terumbu karang.

Menurut David Obura dari IUCN, yang memimpin studi ini, terumbu karang global terus menurun. Ancaman paling nyata dari perubahan iklim.

"Kami memprediksi 50 tahun lagi bisa punah meski kita mencapai target mempertahankan kenaikan suhu tak lebih dari 1,5 derajat Celsius," kata David seperti dikutip Guardian.

David mengatakan apa yang kita dilakukan dalam 10 tahun mendatang menentukan nasib terumbu karang. Selain memangkas emisi untuk mengurangi laju kenaikan suhu, penangkapan ikan juga harus dikurangi.

Terumbu karang memiliki banyak fungsi, antara lain melindungi pantai dari naiknya permukaan air laut dan habitat ikan seperti ikan kerapu dan ikan ekor kuning. Manfaat lainnya wisata bahari yang membawa efek ekonomi. 

Sejak 1950, terumbu karang di dunia terkikis karena suhu yang menghangat, penangkapan ikan yang masif, polusi dan perdagangan. Penurunan ekosistem yang merupakan tempat ikan kecil ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan semakin panasnya suhu.

Termasuk di Indonesia, hasil observasi Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Laut (PKSPL) IPB University pada awal Desember 2021 menunjukkan terumbu karang di Pulau Mandangin, Sampang, Madura juga kritis.

Hanya tersisa maksimal 7% karang yang hidup. Ada indikasi kuat bahwa kerusakan ini terjadi karena faktor antropogenik, bukan secara alamiah.

Muis, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) menyatakan bahwa kerusakan terumbu karang di pulau ini terjadi sejak 1989. Dampak adanya pengambilan karang secara besar-besaran untuk kepentingan komersial.

“Masyarakat mengambil karang-karang hidup dan dijual untuk menjadi hiasan di akuarium," kata Muis dikutip dari situs IPB University, Selasa 7 Desember 2021. 

Praktik ini berakhir pada sekitar 2000-an ketika ada pelaku pengambilan karang ditangkap petugas. Namun praktik pengambilan karang tetap berjalan tapi untuk keperluan konstruksi bangunan.

PKSPL IPB University bersama Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) dan masyarakat Pulau Mandangin lalu menginisiasi rehabilitasi ekosistem terumbu karang. Kegiatan ini dimulai dengan peletakan perdana module transplant di sekitar Pantai Candin.

Selain itu, muncul kelompok pemerhati terumbu karang sebagai pelaksana dan pengelola, pembuatan modul penempelan fragment dalam metode transplantasi karang, pengumpulan fragmen karang serta pengecekan lokasi.

Jenis modul yang dibuat adalah modul beton yang juga dapat berfungsi sebagai rumah ikan. Sedangkan jenis karang yang akan ditransplantasi adalah jenis karang Acropora sp. yang memiliki permukaan halus dan padat dengan bentuk yang beragam.

Novit Rikardi, peneliti terumbu karang PKSPL IPB University menegaskan tujuan utama inisiasi ini ingin menyadarkan masyarakat pentingnya menjaga dan memelihara ekosistem terumbu karang. 

“Upaya ini merupakan bagian dari dukungan PKSPL-IPB University mendukung 2030 Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya SDG 14: life below water,” katanya.

Program tujuan pembangunan berkelanjutan menyesuaikan dengan mitigasi krisis iklim. Menyelamatkan kondisi terumbu karang salah satu cara mencegahnya karena laut adalah penyerap 23% emisi global.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar

Artikel Lain