Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga| 28 Maret 2022

Kerusakan Lingkungan Akibat Kesalahan Berpikir

Kerusakan lingkungan bisa terjadi akibat kesalahan berpikir. Perlu integrasi epistemologis. Apa itu?

THOMAS Alva Edison, penemu listrik dari Amerika itu, pernah mengatakan bahwa hanya “Lima persen orang yang berpikir; sepuluh persen orang berpikir mereka telah berpikir; dan delapan puluh lima persen lebih baik mati daripada berpikir”. Lima persen itu pun bisa terjebak pada kesalahan berpikir.

Sebagai penemu fonograf, kamera film, dan versi awal bola lampu listrik, Edison memulai kariernya dengan menjual permen, koran, dan sayuran di atas kereta api dari Port Huron ke Detroit pada usia 13. Dari pekerjaannya itu ia mendapat untung US$ 50 per pekan. Uangnya sebagian besar ia pakai membeli peralatan untuk eksperimen listrik dan kimia. Hobi dan ketekunan berpikir itu yang menjadikannya sebagai penemu sesuatu yang bermanfaat bagi peradaban dunia.

Edison juga mengatakan: “Tujuan utama saya dalam hidup adalah menghasilkan cukup uang untuk menciptakan lebih banyak penemuan. Merpati adalah lambang saya. Saya ingin menyelamatkan dan memajukan kehidupan manusia, bukan menghancurkannya. Saya bangga tidak pernah menemukan senjata untuk membunuh….” 

Saya tertarik dengan ucapan Edison itu, karena tak hanya berisi semangat bekerja untuk menghasilkan manfaat dan uang, juga mengandung nilai-nilai moral untuk memajukan kehidupan manusia dan bukan menghancurkannya. Untuk itu, ia berharap setiap orang selalu berpikir, bukan seolah-olah berpikir.

Kita sering merasa sudah benar berpikir ketika membahas berbagai hal. Kita acap luput introspeksi apakah cara pikir kita itu memiliki keseimbangan antara tujuan material dan tujuan nilai. Cara pikir yang tak menggali kedalaman hanya akan menghasilkan percakapan dan percaturan yang bukan hanya tertinggal, juga kehilangan esensi dan tujuan berpikir.

Mungkin kita tidak merasa bahwa lingkungan hidup yang rusak dan tercemar, oleh sebab apa pun, sumbernya adalah kesalahan cara berpikir. Ia amat terpengaruh oleh ilmu pengetahuan, kebudayaan, kepercayaan, bahkan—sering kali—oleh agama.

Buku “Epistemological Integration: Essensials of an Islamic methodology” yang ditulis Fathi Hasan Malkawi (2014) mungkin bisa memberi gambaran bagaimana cara berpikir yang benar. Ia menggabungkan epistemologi dan metodologi, baik secara teoritis maupun implementasinya.

Selain menjelaskan “metode” dan “metodologi” maupun konsep turunannya, buku berbahasa Arab yang diinggriskan oleh  Nancy Roberts dari The International Institute of Islamic Thought Amerika Serikat itu menyampaikan konsep yang terkait secara epistemologi seperti kesadaran metodologis, ketidakmampuan metodologis, metodologi pemikiran, metodologi penelitian, metodologi perilaku, sumber-sumber metodologi, perangkat metodologi, prinsip metodologi, integrasi epistemologi, maupun model integrasi epistemologi.

Kerangka argumen Malkawi sederhana. Dunia yang kita kenal dan tinggali sudah diatur—dengan bahasa agama—oleh Tuhan. Elemen pemikiran—baik dalam isi maupun proses—yang didasarkan pada nilai-nilai berkembang dari proses pemikiran untuk mencapai maksud dan tujuan. Pertanyaannya, dari mana datangnya pikiran?

Pikiran berkembang dengan cara tidak independen dan tidak mengalir bebas. Ia produk budaya dan dominasi cara berpikir manusia. Pemikiran hari ini, kata Malkawi, sebagian besar diatur oleh sistem persepsi sekuler, baik dalam sains, filsafat, ilmu sosial atau humaniora yang mengabaikan referensi tentang Tuhan.

Salah satu elemen penting dalam argumen Malkawi adalah pemeriksaan posisi manusia di dunia, baik dari segi pandangan kesejahteraan dan kesadaran keberadaan manusia, yang tidak hanya sebagai satu kesatuan, juga sebagai bagian dari kolektif lebih besar, unit sosial atau ummah. Ia menyebut bahwa wahyu Tuhan yang paling luhur tak terekspresi dalam seni atau arsitektur, tapi dalam spiritualitas dan pemikiran.

Integrasi epistemologi dalam konsep Malkawi mengasumsikan bahwa kita siap berpikir dan bertindak “melampaui” pendekatan pengajaran ilmu-ilmu hukum agama. Tak heran jika bobot pedagogis melibatkan doktrin, ritus ibadah, dan praktik seperti di masa lalu. Padahal apa yang diwahyukan oleh agama perlu diajarkan dengan cara menghubungkannya dengan realitas masa kini dan tugas-tugas yang dihadapi manusia dalam konteks masa kini.

Tentu saja, “melampaui” itu tidak mengandung pengertian mengabaikan. “Melampaui” adalah bergerak dari masa lalu dan masa kini ke proses kreatif membangun masa depan baru.

Saya mengajukan pertanyaan sederhana kepada beberapa teman: apakah kualitas sungai yang melintasi dua atau tiga kabupaten terjaga baik dalam sepuluh tahun terakhir? Umumnya mereka ragu-ragu menjawab. 

Peradaban, pemikiran, dan tindakan materialistis ilmu pengetahuan, telah membawa kita ke perjalanan merusak lingkungan yang dampaknya tak bisa kembali. Memulihkan kerusakan lingkungan hidup membutuhkan lompatan kreatif yang membentuk kembali peradaban. 

Saya selalu mendefinisikan peradaban untuk menggambarkan situasi ketika kebenaran bersumber dari ilmu pengetahuan dan hukum-hukum agama sesuai dengan konteks di lapangan. Malkawi menyebutnya dengan integrasi epistemologis.

Begitu integrasi epistemologis terjadi, kita mungkin akan memodernisasi pemahaman dan tindakan dari kebenaran ilmu pengetahuan, yang mengandung konsep agama dan religiositas. Jika ini terjadi, kita bisa membalik kelakar Alva Edison bahwa 85% adalah mereka yang berpikir. Hanya 5% yang bersedia mati jika harus berpikir.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Guru Besar Kebijakan Kehutanan pada Fakultas Kehutanan dan Lingkungan serta fellow pada Center for Transdiciplinary and Sustainability Sciences, IPB.

Bagikan

Komentar



Artikel Lain