Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|25 Desember 2021

Konsep Baru Wanamina

Wanamina menjadi manajemen hutan pesisir yang lestari. Memadukan mangrove dan perikanan.

DALAM manajemen hutan ada yang dikenal dengan agroforestri atau wanatani yang memadukan budidaya pertanian dengan kehutanan. Di pesisir, namanya silvofisheri: pengelolaan hutan dipadukan dengan budidaya perikanan. Agar terasa lokal, namanya menjadi wanamina (wana = hutan; mina = ikan, pelabuhan). 

Konsep wanamina memadukan jasa ekosistem hutan, khususnya mangrove, untuk meningkatkan produktivitas budidaya perikanan. Di Indonesia sistem wanamina sudah jamak dan dipraktikkan di pelbagai wilayah pesisir.

Menurut Sri Rejeki, dosen budidaya perikanan Universitas Diponegoro, ada dua konsep wanamina: konsep lam dan konsep baru.

Konsep lama disebut Low External Input Sustainable Aquaculture (LEISA) yang mengandalkan yang rendah menghasilkan secara ekonomi maupun ekologi. Sementara konsep baru disebut sistem Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA) yang mengandalkan polikultur sehingga jasa ekosistemnya lebih tinggi.

Dengan jasa ekosistem wanamina polikultur, budidaya tambak juga akan menghasilkan ragam ikan sehingga potensi ekonominya juga meningkat.

Perbedaan konsep lama dan konsep baru wanamina ada pada ruang tumbuh mangrove sebagai tanaman hutan pesisir. Pada konsep lama, mangrove dibiarkan tumbuh di pematang tambak sehingga menghambat pertumbuhan budidaya tambak dikarenakan tajuk tajuknya akan menghalangi cahaya masuk ke dasar air yang membuat asupan O2 ke dalamnya sedikit.

Akibat oksigen minim, serasah mangrove yang jatuh ke dasar tambak tidak terurai dengan sempurna sehingga berpotensi menjadi racun bagi mahluk hidup air karena mengandung tanin. Dengan oksigen cukup, penyerapan karbon juga menjadi kuat sehingga mangrove yang mendapatkan fotositesis yang cukup menjadi ekosistem paling kuat menyerap dan menyimpan karbon.

Konsep lama wanamina, kata Sri dalam webinar Budidaya Tambak Ramah Lingkungan” pada 23 Desember 2021, membuat potensi tambak secara ekonomi juga sedikit. Mangrove yang tak ditata akan mempersempit ruang gerak satwa di bawahnya. “Bahkan menyulitkan pergantian air,” kata dia.

Dalam konsep baru, mangrove diatur tempat tumbuhnya sehingga ada ruang bagi proses fotosintesis yang cukup. Mangrove dibuat seperti tanaman pagar yang dapat mencegah daerah pesisir dari abrasi. Dengan car aini juga tersedia ruang untuk sedimentasi sehingga ekosistem mangrove terjaga kesuburannya.

Mangrove yang subur membawa dampak positif bagi biota air yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem di atasnya. Ekosistem mangrove yang baik juga akan menghasilkan pakan alami bagi mahluk hidup payau. Sementara racun yang mengancam mahluk hidup akan terserap oleh akar mangrove yang rakus pada logam berat lalu merilisnya menjadi zat dan gas yang bermanfaat bagi renik di sekitarnya. 

Mangrove yang sehat juga tak hanya akan meningkatkan pendapatan nelayan, sekaligus menjaga bumi secara keseluruhan. Situs Vox menobatkan mangrove Indonesia sebagai penyelamat planet dari krisis iklim karena kemampuan menyerap dan menyimpan karbonnya yang kuat dan banyak.

Dengan memahami peran mangrove sebagai penopang kesehatan tambak, seharusnya tak ada lagi deforestasi mangrove untuk usaha pertambakan. Secara alamiah mangrove justru membantu menyehatkan tambak yang ramah dan menguntungkan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain