Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|24 November 2021

Solusi Mengolah Sampah Medis

Sampah medis seperti masker baru terurai di alam setelah 450 tahun. Sekarang bisa diolah lewat Dumask. Apa itu?

PANDEMI Covid-19 tak hanya memakan ongkos ekonomi yang tinggi, juga menimbulkan ongkos ikutan berupa ancaman terhadap lingkungan. Salah satunya datang dari sampah medis yang sulit terurai di alam jika dibuang sembarangan.

Ketika kasus positif Covid-19 menurun di Indonesia, Eropa sedang berada di gelombang keempat. Kasus aktif Covid-19 naik drastis di Jerman, Austria, Denmark hingga Belanda.

Kunci mencegah gelombang baru Covid-19 di Indonesia, selain meluaskan vaksinasi, yang terpenting adalah mengetatkan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Problemnya, seiring penurunan infeksi dan pelonggaran pembatasan interaksi sosial, mobilitas kita  meningkat. Naiknya pergerakan manusia ini berimplikasi kepada pemakaian masker yang bertambah.

Menurut studi University of Southern Denmark yang dirilis Maret lalu pemakaian masker secara global mencapai 129 miliar per bulan, atau 3 juta masker per menit. Bisa jadi angka ini bertambah ketika mobilitas naik.

Miliaran masker bekas pakai ini menjadi sampah medis yang sulit terurai karena mengandung unsur mikroplastik, polypropylene, polyethylene, dan vinyl. Masker medis membutuhkan waktu 450 tahun untuk terurai di alam.

Selain itu, banyak yang kurang peduli dan membuang begitu saja masker bekas pakai. Penelitian LIPI di Teluk Jakarta menemukan limbah medis naik 5% pada 2019-2020. Kita bisa melihat masker bekas berceceran di jalan, taman, tempat parkir, bibir sungai, pantai, hingga laut.  Bahkan banyak satwa liar terjerat atau terkena masker bekas.

Sampah medis masker ini pun menjadi ancaman bagi lingkungan, seperti plastik. Lalu bagaimana kita mengelola masker bekas yang kita pakai?

Kementerian Kesehatan memberikan panduan sesuai Undang­Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

  • Kumpulkan masker bekas pakai, sebaiknya dikumpulkan dalam wadah khusus
  • Ubah bentuk, gunting talinya dan bagian tengah agar tak bisa lagi dipakai.
  • Disinfeksi, bisa dilakukan dengan cara direndam dalam larutan disinfektan/klorin/pemutih.
  • Buang ke tempah sampah domestik, bercampur dengan sampah lainnya.
  • Mencuci tangan, setelah membuangnya

Bila Anda lebih peduli dengan bumi, masker bekas pakai ini sebaiknya dipilah dari sampah domestik lain.

Setelah dikumpulkan dan mengubah bentuknya, simpan masker bekas dalam wadah khusus seperti kantong plastik, kotak plastik, atau amplop agar Anda bisa membuangnya di tempat penyimpanan sampah daur ulang. LIPI sedang membuat prototipe mesin daur ulang sampah medis memakai metode pemurnian.

Satu pengelola sampah medis adalah Dumask, akronim dari Dropbox-Used Mask. Dumask adalah proyek kolaborasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Sebelas Maret.

Dumask bertujuan khusus menyediakan jalur pembuangan masker dan sarung tangan bekas dari masyarakat umum yang diklaim ramah lingkungan. Proyek Dumask didanai oleh Program Penelitian Kolaborasi Indonesia (PPKI) yang dimulai pada Februari 2021.

Dropbox diletakkan di beberapa lokasi, jika boks sudah penuh petugas akan mengambil tempat penyimpanan sampah. Mereka lalu menghancurkannya dengan memanaskan sampah medis di ruangan bersuhu tinggi atau yang lebih dikenal dengan metode pirolisis.

Menurut Koordinator Dumask Indonesia, Ilham Zulfa Pradipta, sejak 5 April sudah terkumpul 237 kilogram masker bekas. Lokasi pengumpulan ada 16 titik di Yogyakarta dan dua titik di Solo. "Dari luar kota terkumpul sebanyak 144 kilogram," ujar Ilham kepada Forest Digest, Selasa 23 November 2021.

Masker-masker bekas ini dikirim dari luar kota via paket ke Yogyakarta. "Namun untuk sekarang dari luar kota kami setop dulu, karena terlalu banyak," lanjut Ilham.

Dumask sementara berfokus pada pengolahan sampah masker di Yogyakarta. Tim Dumask belum bisa menambah titik lokasi dropbox kecuali ada kerja sama dengan pemerintah atau perusahaan swasta.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar

Artikel Lain