Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|09 November 2021

Memanfaatkan La Niña

Indonesia memasuki musim La Niña. Punya dampak buruk tapi bisa dimanfaatkan.

BANJIR bandang di Kota Batu Malang, Jawa Timur, pada 4 November 2021 menunjukkan krisis iklim kian dekat. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir akibat penggundulan di daerah hulu. Hujan besar membuat bendungan alamiah jebol karena sekelilingnya tak memiliki vegetasi yang mengikat tanah.

Hujan besar terjadi karena La Niña, mendinginnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur hingga melewati batas normal. Akibatnya suhu lembap mengalir lebih deras ke arah tropis yang hangat. Intensitas hujan pun meningkat.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, La Niña akan terjadi hingga Februari 2022. BMKG memperingatkan pertanian dan perikanan akan terdampak oleh fenomena alamiah ini. Banjir dan hama penyakit akan menyerang pangan dan nelayan tak bisa melaut akibat laut pasang.

La Niña tahun ini kemungkinan sama dengan tahun lalu, yakni curah hujan tinggi di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Menurut BMKG, La Niña akan menaikkan curah hujan 20-70%. La Niña akan semakin parah karena periode itu adalah musim hujan di wilayah tropis.

Di luar dampak negatifnya, La Niña bisa dilihat secara positif, yakni melimpahnya pasokan air. Ini kesempatan bagus untuk melaksanakan rehabilitasi dan konservasi lahan dan air.

Dalam teori silvikultur, waktu yang tepat dan baik untuk menanam adalah pada saat musim hujan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bisa memanfaatkan momentum La Niña untuk program rehabilitasi hutan.

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) yang tersebar di 34 provinsi bisa menanam tanaman kehutanan secara serentak. Jika momentum ini lewat, biasanya rehabilitasi gagal karena dipaksakan.

Baik buruknya manajemen penanaman rehabilitasi hutan dan lahan akan terbaca dari pemanfaatan siklus alamiah ini. Setelah itu rehabilitasi mesti dipastikan agar hutan sampai pada fungsinya, yakni menciptakan iklim mikro dan jasa ekosistem yang lengkap.

Untuk mengatasi banjir bandang di Batu, Malang, BNPB menyarankan menanam vetiver. Ini jenis rumput keras dari Tamil yang akarnya mampu mengikat tanah hingga kedalaman 4 meter. Dengan akarnya yang panjang dan serabut ini vetiver bisa mencegah longsor.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Pernah bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Bagikan

Komentar

Artikel Lain