Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|20 September 2021

Melatih Sapi Kencing untuk Mencegah Krisis Iklim

Kencing sapi menjadi salah satu penyebab krisis iklim. Cara mencegahnya: latih sapi tak kencing sembarangan.

SALAH satu gas rumah kaca yang menjadi penyebab krisis iklim adalah nitrat oksida (N2O). Daya rusak gas ini terhadap atmosfer bumi sebanyak 310 kali lipat dibanding karbon dioksida. N2O berasal dari kencing hewan, terutama sapi. Sehingga agar ia tak menjadi gas rumah kaca, kencing sapi perlu diolah agar tak menyebabkan krisis iklim. 

Gas N2O merupakan hasil akhir proses kimia bakteri di dalam tanah dengan amonia. Amonia merupakan hasil reaksi kimia antara enzim dalam kotoran dengan kencing sapi yang mengandung banyak nitrogen. Maka, sebelum proses itu terjadi, para sapi mesti mencegahnya agar kencing mereka tak berubah menjadi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global. 

Pemanasan global atau kenaikan suhu bumi terjadi akibat atmosfer kehilangan daya serap terhadap emisi dari bumi dan panas matahari. Emisi bumi salah satunya gas-gas rumah kaca yang tak terserap oleh ekosistem planet ini. Atmosfer yang kehilangan daya serap memantulkan emisi tersebut kembali ke bumi sehingga suhu bumi naik pelan-pelan. Puncaknya jika kenaikan suhu melewati 20 Celsius dibanding masa praindustri 1800-1850.

Berangkat dari proses itu, para ilmuwan coba membuat solusi mencegah kencing sapi berubah menjadi gas rumah kaca. Caranya, melatih sapi tak kencing sembarangan sehingga para peternak bisa mengolahnya sebelum proses kimia berlanjut mengubah nitrogen dan urea dalam kencing sapi menjadi gas rumah kaca. 

Adalah Jan Langbein dari Institut Fredrich-Loweffler di Jerman dan sejumlah peneliti lain yang memiliki ide melatih sapi kencing di jamban dalam publikasi di jurnal Current Biology edisi 13 September 2021. Dari 16 sapi yang dilatih kencing di jamban, 11 ekor dianggap berhasil karena bisa kencing di jamban setelah tiga hari pelatihan secara intensif.

Sapi adalah hewan yang cerdas. Seperti anak anjing yang bisa diajari melompat dan menuruti perintah manusia, sapi tergolong hewan yang intuitif pada pelatihan. Menurut para peneliti, sapi yang dilatih 77% memakai waktu kencing mereka di jamban yang tersedia.

Pelatihannya meliputi tiga tahap. Anak sapi dikurung dalam kendang yang dilengkapi jamban. Jika mereka kencing di sana, peneliti memberi mereka makan tebu atau jelai yang dihancurkan. Ini semacam hadiah bagi anak sapi yang menuruti perintah dalam pelatihan kencing di jamban.

Bagi sapi yang kencing di jamban, Lorong penghubung ke jamban dari kendang diperpanjang. Sehingga para sapi bisa bergerak lebih leluasa. Skema hadiah makanan jelai iris tetap berlaku. Sapi yang kencing di lorong mendapat hukuman dengan disemprot air. “Kami menunjukkan bahwa sapi dapat mengontrol refleks berkemih mereka dan memakai jamban untuk buang air kecil,” tulis para peneliti.

Cara ini juga memungkinkan latihan ingatan para sapi untuk jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih lama. Para peneliti optimistis metode ini bisa diterapkan untuk hewan selain sapi. Mereka yakin otak hewan sama dengan otak bayi yang bisa dilatih dan menjadi terbiasa kencing di jamban, meski mereka tak bisa mengontrol kencing sebelum mendapatkan kebiasaan yang terus-menerus.

Tantangan para peneliti adalah membiasakan sapi juga buang air besar di jamban. Sebab, tak hanya kencing, feses sapi juga mengandung nitrogen yang menjadi sumber gas rumah kaca jika bercampur dengan bakteri tanah. Jika percobaan ini berhasil, feses dan kencing sapi bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain sebelum menguapkan gas ke udara.

Masalahnya, metode ini mungkin bisa dilakukan untuk skala penelitian. Meski hal-hal kecil apa pun akan berguna dalam mencegah krisis iklim, metode ini perlu dilakukan bersama seluruh peternak. Melatih sapi dan membangun jamban membutuhkan biaya dan waktu yang panjang.

Mencegah pelbagai gas rumah kaca mengotori atmosfer adalah cara terbaik mencegah krisis iklim. Inovasi menjadi penting dalam mitigasi ini. Melatih sapi kencing akan menyelamatkan bumi dari pemanasan global, betapa pun sulit dan rumit.

Pertanian dan peternakan, yang mengonversi hutan, menyumbang 7% produksi emisi global sebanyak 51 miliar ton setara CO2. Tingkat pertumbuhan ternak ruminansia (kambing, sapi, domba, kerbau) sebesar 5,5% per tahun dengan emisi gas metana dari fermentasi enterik sebesar 5,35% atau 0,001 Gigaton per tahun. 

Artinya gas metana dari fermentasi ternak ruminansia Indonesia sebesar 0,025 Gigaton setara CO2 per tahun. Jika feses dan kencing sapi serta ternak lain bisa diatur untuk dimanfaatkan ulang, peternakan kemungkinan makin kecil pengaruhnya sebagai satu sebab krisis iklim.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain