Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|19 Juli 2021

Kurban Nol Karbon

Emisi kurban Idul Adha datang dari metana peternakan, limbahnya, dan kantong plastik pembungkusnya. Perlu ada gerakan kurban nol karbon.

BESOK, 20 Juli 2021, umat Muslim merayakan kurban Idul Adha 1442 Hijriah dengan menyembelih kambing, sapi, atau unta. Di era modern, kurban bisa berdampak pada lingkungan karena emisi peternakan, limbah, dan kantong plastik pembungkusnya. Maka kurban nol karbon menjadi penting saat ini.

Idul Kurban merupakan peringatan pengorbanan Nabi Ibrahim menjalankan perintah Tuhan dengan menyembelih Nabi Ismail setiap 10 Zulhijah tahun Hijriah. Tuhan lalu mengganti Ismail dengan seekor domba.

Menurut Badan Pangan PBB (FAO), 26% lahan non-es terpakai untuk penggembalaan ternak dan 33% lahan pertanian untuk produksi pakan ternak. Akibatnya, peternakan menyumbang 7% total emisi global per tahun, melalui fermentasi enterik (fermentasi di tubuh hewan; biasanya kambing, sapi, domba, kerbau) dan pupuk kendang.

Tingkat pertumbuhan ternak ruminansia (kambing, sapi, domba, kerbau) sebesar 5,5% per tahun dengan emisi gas metana dari fermentasi enteriknya sebesar 5,35% atau 0,001 Gigaton per tahun. Artinya gas metana dari fermentasi ternak ruminansia Indonesia sebesar 0,025 Gigaton setara CO2 per tahun.

Dengan menyandarkan pada perhitungan US$ 933 per ton, Indonesia harus menyediakan anggaran US$ 0,93 miliar atau  Rp 13,3 triliun, 0,0008% dari PDB tahun 2020, untuk mengurangi metana per tahun.

Sementara menurut penelitian ini gas metana juga muncul dari limbah peternakan berkontribusi menyumbangkan gas metana di atmosfer sebesar 12%-41% dari total sektor pertanian.

Dalam pengemasan daging untuk distribusi adalah kantong plastik. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sebanyak kurang lebih 900 kantong plastik dihasilkan per 1 tempat kurban.

Jika satu desa rata-rata memiliki 10 RW, dan tiap RW memiliki satu lokasi pemotongan hewan kurban, ada sebanyak 9.000 kantong plastik terpakai membungkus daging hewan kurban. Sejumlah itu pula sampah plastik yang terproduksi. Sementara sampah plastik membahayakan lingkungan karena susah terurai di alam.

Sampah plastik menyumbang cukup banyak karbon dari mulai awal produksi. Jika penggunaan plastik tidak dikurangi, pada 2050 emisi yang dikeluarkan dari industri plastik mencapai 2,8 Giga ton setara CO2. Ini jumlah yang besar karena setara dengan prediksi total produksi emisi setahun seluruh Indonesia pada 2030.

Indonesia memproduksi 64 juta ton sampah setiap tahun. Dari jumlah itu sebanyak 15% adalah sampah plastik. Dan dari total sampah, menurut data KLHK, sebanyak 37% berakhir di laut. Dari prediksi LIPI, sampah adalah ancaman terbesar kerusakan ekosistem laut yang menyerap 23% seluruh emisi di bumi.

Maka mencari alternatif pengganti plastik menjadi krusial. Misalnya, memakai besek bambu, daun pisang, daun pandan, daun kelapa, daun jati.

Jika pemerintah daerah yang sudah melarang pemakaian kantong plastik menyertakan imbauan melalui peraturan dengan pemakaian pembungkus non plastik buat kurban, tak hanya mengurangi limbah, juga mendorong industri kerajinan tangan.

Apakah kurban bisa diganti dengan pengorbanan lain di masa pandemi? Misalnya dana untuk kurban dialihkan untuk membantu penanganan pasien covid-19.

Qaris Tajuddin, sarjana hadis lulusan Universitas Al Azhar, Mesir, berpendapat bahwa ibadah kurban tak bisa digantikan oleh yang lain. Secara hukum Islam, kata dia, kurban tak tergantikan. “Tapi dalam Islam ada skala prioritas,” ujar Qaris.

Hukum kurban adalah sunah atau tidak wajib. Sebaliknya, membantu orang lain yang kesulitan adalah wajib. “Jadi yang diutamakan, ya, membantu orang lain terlebih dahulu,” kata Qaris. “Meski begitu, bukan berarti membantu orang lain bisa menggantikan ibadah kurban.”

Maka untuk menjembatani keduanya, kurban nol karbon itu menjadi salah satu solusi. Tiap Muslim bisa menjalankan ibadah kurban Idul Adha tanpa merusak lingkungan dengan segala eksesnya. Maka kurban juga bisa sekaligus menolong orang lain secara tidak langsung melalui pengurangan emisi yang menjadi salah satu penyebab pandemi covid-19.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain