Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|15 September 2021

Peran Anak Muda Membangun Hutan Kota

Kenaikan penduduk meningkatkan jumlah perkotaan. Perlu tindakan bersama membangun hutan kota berbasis masyarakat.

HUTAN tumbuh dengan keanekaragaman hayati yang memberikan berbagai manfaat bagi umat manusia. Kita menyebutnya jasa lingkungan atau jasa ekosistem. Namun, seiring kenaikan jumlah penduduk di bumi, aktivitas manusia yang mengubah penggunaan hutan dan lahan sepanjang waktu, menjadi perkotaan atau permukiman. Karena itu perlu lebih banyak hutan kota

Naiknya jumlah perkotaan akibat pertambahan penduduk dan kemajuan akan berdampak pada berkurangnya luas hutan. Karena itu, tidak hanya mengurangi manfaat yang diberikan hutan, aktivitas manusia juga berdampak negatif terhadap keanekaragaman hayati dunia dan iklim global.

Pada 2050, menurut Vasishth dalam Ecologizing our cities: A particular, process-function view of southern California, from within complexity (2015) sebanyak 80% umat manusia dari 9 miliar akan tinggal di kota. Karena itu sangat penting merancang dan membangun hutan kota di banyak negara dunia yang lebih berkelanjutan. Praktik silvikultur perlu dikembangkan lebih baik untuk hutan kota.

Menurut Estoque & Murayama (2012), hilangnya tutupan hutan menjadi penyebab utama menurunnya nilai jasa ekosistem. Namun, mereka juga menemukan bahwa selama tutupan hutan yang ada dilindungi dan dikonservasi dengan baik, naiknya laju penggunaan lahan perkotaan dan perubahan tutupan hutan tidak akan berdampak drastis pada nilai jasa ekosistem.

Ini berarti bahwa pembentukan dan pemeliharaan hutan di dalam kota merupakan investasi besar yang akan memberikan berbagai jasa ekosistem kepada masyarakat. Hutan kota dapat digunakan untuk memerangi isu-isu seperti efek suhu panas perkotaan dan kerawanan pangan.

Lebih jauh lagi, hutan kota dapat memperkaya kesejahteraan fisik dan mental masyarakat melalui efek positif “mandi hutan” (forest bathing). Masutomi et al. (2019) menguji efektivitas hutan kota berbasis masyarakat, yang didefinisikan sebagai tindakan sukarela penduduk menanam dan memelihara pohon di lingkungan mereka, dalam mitigasi menekan kenaikan suhu akibat perubahan iklim.

Studi mereka menyimpulkan bahwa hutan kota yang digerakkan oleh warga efektif mengurangi suhu udara perkotaan selama ada peningkatan yang cukup besar dalam hal kawasan hutan kota. Dapat disimpulkan bahwa selain dari pendekatan yang dipimpin oleh pemerintah yang membangun hutan kota, tindakan kolektif individu menanam dan memelihara pohon di lingkungan mereka juga memiliki dampak besar pada pengaturan iklim di wilayah mereka.

Dengan mempromosikan praktik hutan kota yang dipimpin oleh pemerintah dan digerakkan oleh masyarakat, akan ada insentif yang lebih besar bagi berbagai lembaga untuk meneliti dan mengembangkan praktik silvikultur untuk lingkungan perkotaan. Hal ini pada gilirannya akan mengarah pada lebih banyak kota hijau yang mampu menghidupi diri sendiri secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, pengembangan praktik silvikultur yang lebih baik di lingkungan perkotaan akan bermanfaat bagi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Namun, untuk bisa mendorong inovasi dan penelitian yang diperlukan di bidang ini, mesti lebih banyak orang memahami peran dan signifikansinya bagi generasi sekarang dan mendatang.

Selain mengajarkan konsep-konsep ini kepada masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan masalah dan tantangannya, publik juga harus melihat dan merasakan dampak positif hutan kota dalam kehidupan mereka. Lebih jauh lagi, membiarkan kaum muda untuk secara proaktif bertindak atas advokasi mereka akan mendorong dan memotivasi mereka untuk berbuat lebih banyak bagi lingkungan mereka.

Alih-alih hanya mengandalkan proyek pembangunan pemerintah, kaum muda bisa membentuk organisasi di lingkungan mereka yang bekerja bersama dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menerapkan kehutanan kota berbasis komunitas. Mereka bisa membuat berbagai petak kecil kawasan hutan kota di lingkungan mereka yang berfungsi sebagai hutan makanan mini dan ruang rekreasi.

Komunitas mereka bisa memiliki pilihan untuk mencari makanan atau bersantai di area ini. Selain itu secara kolektif hutan kota ini dapat mencakup area yang cukup besar yang mampu secara efektif mengurangi suhu udara perkotaan yang tinggi, juga meningkatkan efisiensi energi.

Karena semakin banyak orang memperoleh manfaat dari efek positif dari kawasan hutan kota, akan semakin banyak orang yang sadar dan mendukung pengembangan hutan kota, yang mencakup peningkatan praktik silvikultur di lingkungan urban.

Referensi:

Elmes, A., Rogan, J., Williams, C., Ratick, S., Nowak, D., & Martin, D. (2017). Effects of urban tree canopy loss on land surface temperature magnitude and timing. ISPRS Journal of Photogrammetry and Remote Sensing, 128, 338-353.

Estoque, R. C., & Murayama, Y. (2012). Examining the potential impact of land use/cover changes on the ecosystem services of Baguio city, the Philippines: a scenario-based analysis. Applied Geography, 35(1-2), 316-326.

Masutomi, Y., Sato, Y., Higuchi, A., Takami, A., & Nakajima, T. (2019). The effects of citizen-driven urban forestry on summer high air temperatures over the Tokyo metropolitan area. Journal of Agricultural Meteorology, 75(3), 144-152.

Vasishth, A. (2015). Ecologizing our cities: A particular, process-function view of southern California, from within complexity. Sustainability, 7(9), 11756-11776.

Von Gadow, K. (2002). Adapting silvicultural management systems to urban forests. Urban Forestry & Urban Greening, 1(2), 107-113.

*) Artikel ini merupakan juara kedua 2nd International Summer Course on Forestry and Environment: Tropical Forest Ecosystem Management and Innovations oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB pada 21-29 Agustus 2021. Judul asli: The Impact of Individual Actions for a United Goal. Juara pertama bisa dibaca di sini.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa University of the Philippines Los Banos of Forestry and Natural Resources

Bagikan

Komentar

Artikel Lain