Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|23 Agustus 2021

Mengolah Sampah Sejak dari Sekolah

Mahasiswa IPB University mengajari siswa SMKN 1 Cibadak mengubah sampah kulit lemon jadi minyak asiri. Bagian dari pengabdian masyarakat.

LIMBAH organik menjadi problem serius Indonesia. Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dari 64 juta ton setahun, sampah organik di Indonesia mencapai kurang lebih 36 juta ton pada 2020. Dari jumlah itu sisa makanan mencapai 30,8%.

Indonesia sudah menerapkan pengelolaan sampah melalui 3R: gunakan kembali (reuse), kurangi (reduce), dan daur ulang (recycle). Masalahnya, 3R perlu menjadi kebiasaan karena memandang sampah perlu sebuah budaya baru. Dalam konsep minimalisme, bahkan kita dianjurkan tak membuat sampah sejak dalam pikiran. Maka konsep ini tak mengadopsi “buanglah sampah ke tempatnya”, tapi “jangan buat sampah”.

Sebagai mahluk hidup, kita tentu tak bisa menghindari membuat sampah. Menekannya atau menguranginya adalah hal paling mungkin, meski bisa juga kita nol sampah dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapainya, budaya dan kebiasaan dalah kuncinya.

Dengan dasar itu, sejumlah mahasiswa IPB University mendatangi Sekolah Menengah Kejuruan 1 Cibadak di Sukabumi, Jawa Barat, untuk mempromosikan 3R. Melalui kegiatan Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) tahun 2021, sejumlah mahasiswa lintas fakultas membuat program pelatihan mengolah limbah alam menjadi produk kreatif bernilai jual tinggi.

Nama programnya Create Idea and Talent Program atau Program Cinta. Dipimpin Etrin Herabadi Sunjaya, mahasiswa Departemen Manajemen Hutan IPB (DMNH IPB) semester 7, anggota tim cukup beragam. Tiga orang berasal dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB semester 7 dan satu orang dari Fakultas Ekologi Manusia semester 5.

Saya salah satu anggotanya. Lalu ada Abdur Rohman Awwab, mahasiswa Manajemen Hutan semester 7, Hizbullah Arkaan, mahasiswa Hasil Hutan semester 7), dan Woro Dwi Kusumaningrum, mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen semester 5). 

Program Cinta memiliki beberapa rangkaian pelatihan pengolahan limbah alam mulai dari pelatihan kerajinan tangan dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan limbah alam, pelatihan pembuatan eco enzyme dan minyak atsiri dari kulit lemon. Pelatihan diadakan dengan mengombinasikan daring dan luring dengan memperhatikan protokol kesehatan, di masa pandemi covid-19.

Hal lain yang melatarbelakangi tebentuknya program ini yaitu semakin tingginya angka pengangguran Indonesia khususnya dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Angka pengangguran di Indonesia menjadi permasalahan yang menarik perhatian orang banyak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran Indonesia tahun 2020 meningkat sebesar 1,84%. Salah satu provinsi dengan jumlah pengangguran tertinggi adalah Jawa Barat. Pada Agustus 2020, jumlahnya 10,34%. Jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, sebanyak 2.326.599 orang merupakan lulusan sekolah menengah kejuruan.

SMKN 1 Cibadak sebagai mitra pelatihan memiliki permasalahan yang sama dalam pengolahan limbah dan menghasilkan lulusan yang siap kerja. Pada 2010-2013, lulusan SMK Negeri 1 Cibadak memiliki keahlian agribisnis. Jumlah lulusan yang berwirausaha sangat sedikit dibandingkan lulusan yang bekerja atau melanjutkan studi.

Masalah lain adanya kesenjangan keterampilan sesuai dengan bidang kerja. Karena itu Program Cinat juga memberikan pelatihan kewirausahaan.

Salah satu pelatihannya adalah membuat minyak asiri dari kulit lemon California. Para siswa SMA antusias mengikuti pelajaran ini karena untuk pertama kalinya mereka bisa menyuling kulit lemon menjadi minyak asiri. Mereka juga bisa menjualnya sebanyak enam botol kepada para guru seharga Rp 50.000 per botol.

Para guru juga antusias melihat karya usaha para murid. Mereka bahkan berencana mengundang orang tua siswa untuk bersama melihat proses produksi pelbagai kerajinan dan pembuatan minyak asiri. Para guru juga mendorong siswa memasarkan produk mereka secara online melalui situs-situs penjualan barang.

Karena berhasil, kepala sekolah mengatakan akan memasukan program ini ke salah satu mata ajaran tentang “teaching factory”. Rencana tersebut juga mendapatkan dukungan dari LSM lingkungan, DeTara Foundation, agar pelatihan bisa dipraktikkan lebih luas, terutama fokus pada pengelolaan sampah organik. 

Pelatihan juga akan dibuat rutin sebagai acara tahunan ke banyak sekolah lain, tidak hanya sebatas di masa pembatasan sosial pandemi covid-19. Karena itu para mahasiswa IPB University telah menyusul modul pelatihan yang bisa diunduh di sini, termasuk video pelatihan mengolah sampah organik di akun Instagram @pkmpm_cintaprogram.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain