Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|13 Maret 2020

Minimalisme: Konsep Baru Menjaga Lingkungan

Dalam agama Islam, minimalisme disebut zuhud. Hidup secukupnya tak hanya memberi kebahagiaan, tapi juga menjaga lingkungan.

DALAM beberapa tahun terakhir ini saya memilah sampah di rumah. Sampah organik, sisa makanan, dan tanaman, saya pendam di tong berlubang yang menjadi pupuk dalam beberapa bulan. Plastik, kardus, kertas, besi, saya berikan ke pengepul barang bekas. Sisanya, yang tidak bisa didaur ulang dan itu sangat sedikit, masuk ke tong sampah. Saya yakin apa yang saya lakukan akan berdampak baik pada lingkungan.

Seiring berjalannya waktu, kami menyadari ada hal kurang tepat dalam praktik kami. Sampah memang terpilah, tapi sampah yang harus didaur ulang masih menggunung. Memang sih, bisa diolah lagi, tapi bukankah itu cuma memperpanjang jalan sebelum akhirnya benar-benar sampai di TPA? Saat itu kami belum tahu di mana bolongnya.

Sampai suatu hari saya bertemu sepasang suami-istri yang memiliki jaringan restoran di Jakarta. Meski berhasil secara finansial, keduanya tampak sederhana. Saat mengobrol terungkap banyak hal dari kehidupan mereka yang dijalani dengan amat simpel. Mereka hanya memakai kaus untuk aktivitas sehari-hari, sengaja tak membeli mobil meski mampu, ke mana-mana naik angkutan umum, membeli sepatu yang paling awet agar tak perlu beli banyak-banyak, dan lain sebagainya. Rumah mereka juga tidak dipenuhi dengan barang. Mereka hidup dengan amat minimalis.

Keduanya lalu menganjurkan saya menonton film dan membaca buku Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus. Awalnya saya menonton ceramah mereka di Tedx Talk berjudul The Art of Letting Go. Setelah terpaku oleh video itu, saya membaca buku mereka, The Minimalism.

Joshua bercerita bahwa mereka berdua awalnya adalah dua orang yang sangat berhasil secara karier. Gaji tinggi, mobil mewah, lemari penuh dengan baju-baju keren, rumah besar yang kamar mandinya lebih banyak dari jumlah orangnya. Tiba-tiba ibunya meninggal, pernikahannya hancur. Ia kemudian mempertanyakan tentang fokus dalam hidupnya. Apa arti sukses?

Selama ini ia menyimbolkan kesuksesan bertumpu pada barang yang ia dapatkan. Kesuksesan adalah apa yang ia punya. Tapi, ternyata itu tidak mendatangkan kebahagiaan. Ia menyadari bahwa selama ini ia salah fokus. Perlahan ia mengurangi keterikatannya kepada benda-benda.

Setiap hari ia membuang atau mendonasikan benda yang dianggapnya tidak dia perlukan, atau yang tidak menambah value (nilai) dalam kehidupan. Bahkan ia mengganti mobil mewahnya dengan mobil bekas dan rumah besarnya dengan rumah sederhana. Barang di rumahnya juga amat terbatas.

Bersamaan dengan itu, ia merasa terbebaskan. Saat keterikatannya kepada benda berkurang, ia mengisi dengan hal lain. Ia memberi value lain pada dirinya. Aktif dalam kegiatan sosial, turun langsung untuk membantu banyak orang.

Tidak hanya benda yang ia buang, kebiasaan yang tidak memberi value juga dia buang. Ia hanya melakukan hal-hal yang bisa memberi tambahan nilai bagi tubuh dan jiwanya. Ia yang awalnya tidak pernah berolahraga (bahkan push-up satu kali pun ia tidak bisa) kini rajin berolahraga. Setiap hari.

Secara mengejutkan apa yang ia lakukan itu memberinya kebahagiaan baru.

Joshua dan Ryan tidak sendiri. Gerakan minimalisme sudah mulai banyak digemari di Barat dan Jepang. Mereka sadar bahwa ilusi kebahagiaan yang digambarkan oleh kapitalisme (membeli dan memiliki barang untuk bahagia) ternyata tidak berhasil.

Apa yang mereka lakukan ini sebenarnya bentuk lain dari konsep zuhd dalam sufi. Video dan buku itu tidak hanya mencengangkan saya, tapi juga membuka kesadaran akan bagaimana kezuhudan yang tampak kuno, lapuk, dan naif itu bisa dipraktikkan di kehidupan modern. Zuhud adalah “seni melepaskan diri dari kehidupan dunia”. Sebuah konsep sufi yang belakangan tidak dilirik lagi.

Zuhud berasal dari kata zuhd, yang berarti minimal. Jadi, secara tekstual, zuhud memang berarti minimalisme. Intinya adalah, bagaimana hidup dengan seminimal mungkin barang yang kita butuhkan. Bukan berdasarkan apa yang kita inginkan.

Inilah “bolong” yang selama ini saya cari-cari. Dalam konsep mengelola sampah kita mengenal reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang). Saya selama ini mempraktikkan kedua dan ketiga, tapi lupa pada yang pertama. Padahal, hal pertama inilah yang paling utama.

Zuhud bukan berarti hidup seperti gelandangan, seperti yang banyak disalahpahami orang, tapi hidup dengan secukupnya. Kita tidak membeli baju karena kita suka, tapi karena kita memang membutuhkannya. Hal inilah yang dipraktikkan oleh banyak para salafu-shalih. Sejumlah sahabat Nabi Muhammad SAW, seperti Utsman bin Affan, terkenal dengan kekayaannya, tapi dalam praktik kehidupannya mereka tidak bermewah-mewah.

Islam tidak membatasi kepemilikan, tapi ajaran agama ini menganjurkan hidup secukupnya. Hidup seperti ini akan membuat kita lebih menyadari karunia yang Allah berikan. Rasa syukur kita meningkat. Seperti halnya Joshua dan Ryan yang menyadari banyak hal yang dimiliki begitu ia membatasi apa yang ia miliki.

Yang terpenting kemudian adalah, hidup dalam zuhud atau minimalisme akan membuat kita lebih menjaga lingkungan dan berbagi bumi dengan makhluk lain. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa sumbangan terbesar kerusakan lingkungan datang dari over developed economy, sistem ekonomi modern yang terlalu berkembang.

Dalam tulisan lain kita akan membahas hal ini lebih dalam, tapi saat ini saya ingin mengatakan bahwa keputusan kita untuk tidak menyesaki rumah dengan benda-benda yang tidak kita perlukan, yang kita beli karena pengen saja, punya dampak panjang pada lingkungan.

Gambar oleh Ioannis Ioannidis dari Pixabay

Sarjana Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo

Bagikan

Komentar

Artikel Lain