Laporan Utama | Juli-September 2018

Generasi Milenial Fahutan

Angkatan yang masuk ketika abad berganti. Kuliah memakai telepon seluler.

Rina Kristanti

Penjelajah bentang alam dan voluntir pelestarian lingkungan.

MAHASISWA Fakultas Kehutanan angkatan 37 itu spesial sekali. Angkatan ini atau dapat disebut sebagai E37 adalah generasi Y2K alias generasi milenial, generasi 2000 atau bagian dari baby bloom. Selain istimewa karena tepat masuk pada milenium baru, E37 juga lahir di masa-masa yang berbeda dengan angkatan lainnya. 

Angkatan 37 adalah angkatan pertama Institut Pertanian Bogor menjadi Badan Hukum Milik Negara. Akibat status ini ada perubahan pada sistem administrasi perguruan tinggi sehingga SPP naik sangat drastis. SPP dari Rp. 450.000 per semester menjadi Rp. 750.000. Benar-benar suatu ujian hidup.

Dampak signifikan dari kenaikan SPP ini adalah E37 banyak yang menjadi pencari beasiswa, mulai dari beasiswa prestasi hingga beasiswa kurang mampu. Selain itu banyak juga mahasiswa yang harus bolak-balik ke Dekanat Fahutan dan rektorat untuk mendapatkan penangguhan SPP. Jika tidak, bisa berakibat fatal berupa sanksi non aktif bagi para mahasiswa penunggak SPP.

Keistimewaan lainnya, Fahutan yang tadinya hanya memiliki tiga jurusan program sarjana yaitu Manajemen Hutan (MNH), Teknologi Hasil Hutan (THH) dan Konservasi Sumberdaya Hutan (KSH) mengembangkan satu jurusan baru yaitu Budidaya Hutan (BDH), yang sekarang lebih dikenal dengan Jurusan Silvikultur. Selain jurusan baru, E37 juga memiliki program studi baru untuk program Diploma yaitu Ekowisata (EKW) di bawah jurusan KSH. Sehingga kala itu E37 memiliki empat jurusan yaitu MNH untuk program sarjana dan Perlindungan Hutan (PH) dan Manajemen Hutan Produksi (MHP) untuk program diploma, THH, KSH untuk program sarjana, Konservasi Sumberdaya Hutan (KDH) dan Ekowisata (EKW) untuk program diploma dan BDH.     

Angkatan E37 menempuh kuliah di Kampus Darmaga. Kala itu Ruang DAR 1-4 masih bertengger di antara pohon-pohon Gmelina dan karet di batas antara gedung Fahutan dengan Fateta. Di dekat DAR juga masih ada mi ayam terenak dan murah. Lebih tepat, mi ayam menjadi enak karena murah. Saat ini ruangan DAR tinggal kenangan. Namun kenangan kami akan ospek, perkuliahan, kisah asmara serta berjuta asa dan harapan tentang masa depan anggota E37 kala itu tidak akan pernah ikut hilang dengan hilangnya Ruang DAR.

Angkatan 37 juga menjadi kelinci percobaan sistem Ospek baru. Namanya Bina Corps Rimbawan (BCR). Konsep yang diusung BCR adalah menyeimbangkan muatan fisik khas Ospek Fahutan dengan muatan diskusi atau kajian teoritis. Kegiatan BCR saat E37 menjadi peserta diadakan setelah masa TPB selesai dan generasi milenial ini mulai masuk ke lingkungan Fahutan. BCR adalah cara penyambutan yang sangat romantis oleh para senior, khususnya E35. Keseluruhan BCR dari perkenalan hingga penutupan kurang lebih memakan waktu hingga satu semester.

E37 dibagi menjadi beberapa AK (anak kelompok) dengan nama AK menggunakan nama-nama pohon. Nama AK tersebut menjadi kebanggaan, kecuali AK Sakit. Agenda BCR antara lain mengunjungi kos senior dengan acara perkenalan, ngobrol, curhat, bikin kopi buat hingga ngopi bareng serta minta tanda tangan berpuluh-puluh orang senior selama satu semester.

Kegiatan fisik pastinya tidak akan pernah lepas dari gemblengan senior Fahutan dalam BCR namun porsinya dibatasi. “”Elusan sayang di pipi, penugasan push-up dan lari, pemberian petuah dan kalimat-kalimat ganas serta cubit-cubit sangar tetap ada. Kami ingat bagaimana senior berorasi di depan kami ketika BCR. “Dosa kalian lebih besar dari dosa Soeharto,” katanya. Busyet.

Lama setelah orasi itu, ketika kami tanya kepada orator arti di balik kalimat itu, kakak senior ini hanya tertawa mesem-mesem. Dia pasti lupa ucapannya kala itu

Selain kegiatan-kegiatan tersebut juga diadakan kegiatan diskusi dan dialog kehutanan, pemberian motivasi kuliah, belajar bersama untuk menghafal jenis-jenis pohon (seperti kuliah Dendrologi), pembuatan herbarium juga mempelajari dasar-dasar ilmu kehutanan menjadi satu bagian kegiatan non fisik dalam BCR.

Mars Rimbawan dan Hawaian Forester menjadi lagu andalan selama BCR. Puncak kegiatan BCR E37 dilaksanakan di Gunung Walat. Peserta berangkat dan pulang menggunakan truk yang sudah disediakan oleh para senior. Kegiatan pada acara puncak selain pemberian motivasi, aktivitas fisik seperti outbond dan lintas alam yang diselingi dengan aksi makan jengkol mentah dan botram serta malam keakraban dan pentas seni menjadi bagian seru dalam pelaksanaan acara puncak BCR. Pada akhirnya E37 dinyatakan lulus BCR dan diterima dalam keluarga besar Fahutan. Alhamdulillah.

Jumlah mahasiswa E37 kurang lebih sekitar 630 orang. Jumlah yang banyak memang, karena dua jurusan dan program studi baru dibuka kala itu. Formasi mahasiswa dan mahasiswi berada di komposisi yang hampir seimbang. Sayangnya jumlah tersebut menjadi sangat berkurang pada kelulusan.

Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah banyaknya E37 yang drop-out pada tingkat persiapan (TPB). Banyak yang bilang bahwa TPB adalah masa kritis bagi mahasiswa IPB untuk bisa survive selama di kampus. Selain karena DO, banyak E37 yang mengundurkan diri karena merasa tidak cocok dengan jurusan yang telah dipilihnya dan akhirnya pindah kampus.

Mengundurkan diri juga dialami oleh mahasiswa E37 yang mendapat peringatan hampir DO karena indeks prestasi yang kurang dari 2 atau masa studi yang sudah kadaluwarsa. Fakultas Kehutanan Universitas Winayamukti di Jatinangor (saat ini diakuisisi oleh ITB) menjadi afiliasi paling dekat untuk mahasiswa yang mengalami kendala tersebut.

Pada program D3 banyak E37 yang melanjutkan ke program sarjana tapi tidak di IPB. Hal ini karena untuk bisa melanjutkan dari D3 ke S1, lulusan D3 harus memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun sebagai syarat mendaftar program ekstensi tersebut. Akhirnya, Universitas Nusa Bangsa menjadi salah satu pilihan dan tujuan bagi lulusan D3 E37 untuk mengambil program ekstensi. Pada proses penyelesaian studi, ada dua orang anggota E37 yang tidak bisa menyelesaikan studinya karena dipanggil oleh Tuhan YME. Almarhum Sabnoe MNH dan Adiguna PH meninggal dunia pada akhir-akhir perjuangan di Fahutan. Semoga pahala menuntut ilmu akan menolong Almarhum Sabnoe dan Adiguna kelak. Aamin.

Kisah unik E37 yaitu saat pertandingan olahraga lintas fakultas ketika tim basket putri E37 bertanding melawan tim dari fakultas lain. Salah satu pemain E37 sangat antusias menembak bola ke dalam keranjang. Saking antusiasnya dia lupa kalau yang dia tembak adalah ring timnya sendiri. Kisah akhirnya pasti dapat ditebak yaitu terciptalah tembakan bunuh diri dan menyebabkan E37 harus rela kehilangan skor.

Angkatan E37 juga menjadi saksi sejarah perkembangan teknologi milenial. Pada awal tahun 2000-an teknologi telepon seluler masih menjadi barang eksklusif. Harga nomor perdana bisa mencapai 250 ribu rupiah tanpa pulsa dan nominal isi pulsa masih sangat mahal yaitu minimal 50 ribu rupiah. Komunikasi yang lazim digunakan saat itu adalah telepon umum di warung telemomunikasi (wartel) terutama untuk menelepon orang tua dan meminta transferan (karena wesel sudah tak umum buat kami).

Teknologi polifoni merupakan penemuan yang sangat berharga pada era E37 baru menjadi mahasiswa. Nada dering polifoni sangat bermanfaat untuk menjadi penghilang kantuk di tengah-tengah jadwal kuliah siang khususnya bagi yang lupa menyalakan mode senyap di telepon selularnya.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Surat

    Forest Digest Berusia 4 Tahun

    Forest Digest ingin mencoba hadir menjernihkan duduk soal agar kita punya perspektif yang sama dalam memperlakukan lingkungan dan merawat planet ini agar tetap nyaman kita ditinggali. Untuk bumi yang lestari.

  • Laporan Utama

    Cuitan Seribu Burung Kolibri

    Lebih dari satu tahun mereka turun ke jalan menuntut perubahan sistem mengelola sumber daya alam. Terinspirasi oleh Greta Thunberg dari Swedia, mereka menyerukan dunia lebih peduli pada nasib bumi. Tidak hanya rajin berdemonstrasi, para remaja ini juga melobi para pengambil keputusan di pemerintahan dan parlemen. Mereka tidak gentar meskipun sering dicaci dan menjadi sasaran kekerasan fisik maupun virtual. Mengapa anak-anak muda yang hidup di negara rendah polusi lebih cemas dengan masa depan bumi akibat pemanasan global? Laporan dari jantung markas gerakan mereka di Belgia, Swiss, dan Swedia.

  • Kabar Baru

    Sekretariat Bersama untuk Reforma Agraria

    Pemerintah membentuk sekretariat bersama WWF Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat reforma agraria dan perhutanan sosial.

  • Kabar Baru

    Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

    Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

  • Surat dari Darmaga

    Cara Menumbuhkan Inovasi di Birokrasi

    Birokrasi kita lambat dalam membuat inovasi karena terjebak pada hal-hal teknis yang dikepung banyak aturan. Perlu terobosan yang kreatif.

  • Surat dari Darmaga

    Satu Menu Ekoturisme

    Membandingkan pengelolaan Taman Nasional Banff di Kanada dengan Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera. Banyak persamaan, tak sedikit perbedaan.

  • Surat dari Darmaga

    Secangkir Kopi Ekoturisme

    Seperti secangkir kopi yang enak, menggarap ekoturisme butuh proses yang panjang. Dari bahan berkualitas baik hingga barista dan manajer kafe yang cekatan.

  • Kabar Baru

    Perempuan Adat yang Terdesak

    Alih fungsi lahan adat membuat perempuan adat kehilangan pekerjaan berbasis lahan. Akibat kurang perlindungan.

  • Kabar Baru

    Cetak Sawah di Rawa Gambut. Untuk Apa?

    Menanam tanaman pangan di rawa gambut selain tak cocok juga berbahaya bagi lingkungan. Perlu ditimbang ulang.

  • Sudut Pandang

    Problem Sawah di Rawa Gambut

    Memaksakan menanam padi di rawa gambut, selain riskan gagal, pemerintah juga terus-menerus terkena bias beras dalam ketahanan pangan.