Laporan Utama | Juli-September 2018

Warna-Warna Puber Kedua

Angkatan ini sedang berada dalam puncak karier memimpin organisasi tempat mereka bekerja. Selalu serius.

Gagan Gandara

Rimbawan IPB

FREDERIC Laloux (2014) dalam bukunya Reinventing Organization membagi tahapan kesadaran manusia dalam berkelompok kepada beberapa tahapan yang digambarkan dalam tahapan spektrum warna, dari mulai inframerah, ungu, merah, amber (sawo matang), jingga, hijau, teal (hijau biru) dan pirus, di mana semakin tinggi tingkatan spektrum warna maka semakin tinggi dan modern tingkat kesadaran manusia dalam berkelompok dan berorganisasi. 

Berdasarkan pendapat Laloux, seorang rimbawan sejatinya harus mengerti perbedaan dirinya dengan pohon. Rimbawan sebagai segerombolan manusia mengalami evolusi dalam bentuk tahapan-tahapan, di mana perpindahan antar satu tahapan ke tahapan berikutnya terjadi secara tiba-tiba. Sedangkan pohon tidak mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya, melainkan tumbuh secara terus-menerus. Sehingga sejatinya rimbawan itu berevolusi mirip dengan metamorfosis kupu-kupu yang mengalami tahapan dari mulai ulat, kepompong sampai menjadi kupu-kupu. Atau rimbawan itu sejatinya lebih mirip kecebong yang berubah dari mulai telur, kecebong sampai menjadi kodok. Rimbawan tidak seperti kampret (sub-ordo Microchiroptera) yang terus tumbuh sampai menjadi kelelawar besar dengan sayap lebar yang terbang mencari mangsa dan makanan di malam hari, yang tidak mengenal tahapan kehidupan.

Arboretum
Mahasiswa angkatan 29 Fakultas Kehutanan IPB, masuk IPB pada tahun 1992 menamakan dirinya Arboretum. Di mana menurut Online Etymology Dictionary - Douglas Harper, arboretum adalah “a place grown with trees” tempat yang ditumbuhi dengan pohon-pohon, konsep arboretum awalnya merupakan “tree garden” yang dipopulerkan sejak tahun 1838. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arboretum adalah tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan. Arboretum saat ini diketuai Hendra “inyong” Wijaya, salah satu pejabat di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Ia telah ditetapkan menjadi ketua angkatan selama-lamanya.

Angkatan 29 Fakultas Kehutanan IPB (E29) termasuk dalam generasi X yang saat ini dalam tahapan golden age dalam karier pekerjaan dan sedang menikmati masa-masa puber kedua. Dibesarkan oleh orang tua generasi Baby Boomer dan membesarkan anak generasi milenial dan post-milenial menjadikan E29 berkarakter unik, luas pengetahuan dan pergaulan, hidup di zaman Orde Baru dan Reformasi, menyaksikan dan mengalami perkembangan teknologi informasi yang pesat, dan termasuk generasi yang lulus kuliah pada saat-saat menjelang krisis moneter 1997/98 dan peralihan zaman dari orde baru ke orde reformasi.

Namun E29 merupakan angkatan yang beruntung karena selama tahun 1997-1998 Departemen Kehutanan saat itu membuka lowongan pekerjaan yang cukup banyak, sehingga E29 mayoritas bekerja di Departemen Kehutanan yang tersebar hampir di semua provinsi di Indonesia. Ada juga yang bekerja dan sukses di Kementerian lain, di pemerintah daerah, perusahaan BUMN, NGO dan perusahaan swasta yang berusaha berkontribusi dengan membawa perubahan positif pada bidang yang digelutinya saat ini.

Tribe Militias

E29 memasuki Kampus Fahutan Darmaga para paruh kedua 1993 yang dibina secara langsung oleh E28 sampai dengan E23. Meminjam teori Laloux di atas, E29 termasuk pada spektrum warna hijau, yang bercirikan “relationships above outcomes”, mengedepankan hubungan antar anggota sebagai hal yang paling utama, kekompakan adalah keharusan, doktrin care & respect adalah nomor satu yang ditanamkan oleh para senior menjadi sangat melekat, yang tidak bisa dilupakan dalam kehidupan.  

E29 saat yang lain bisa masuk pada spektrum warna merah yang berbahaya, yang berkarakter highly reactive, short term focus, thrives in chaotic environments. Sehingga pada saat tingkat II dan tingkat III, E29 sudah mirip kelompok berkarakter Tribe Militias yang dipimpin oleh powerful chiefdoms. Penguasa Kampus Darmaga dan Baranangsiang, Bara dan Bateng tidak ada yang ditakutkan oleh yang namanya mahasiswa IPB siapa pun itu.

Hal ini ditunjukkan dengankontes” martial art di kampus Baranangsiang dengan para penguasa Taman Satari yang berbuntut pengadangan di Kawasan Jembatan Merah oleh sekelompok preman terminal Merdeka, yang berbuntut penahanan mahasiswa E29, Kang Edi “Gemblung” Suryanto di Polwil Bogor. Kejadian yang menghebohkan tersebut, akhirnya harus melibatkan Pembantu Dekan III , Pak Tohari dan dibantu dosen kewiraan Pak Fatkul saat itu untuk negosiasi dengan pihak Polwil Bogor dan menjemput Edi Gemblung.

 “Alhamdulillah tidak sempat menginap, karena jam 12 malam “dibebaskan” dan kembali ke kampus Fahutan Darmaga yang disambut dengan penuh sukacita bak pahlawan pulang dari medan tempur,” kata Krisna, salah satu E29, yang aktif di resimen mahasiswa.

Sebagai tribe militias dibuktikan pula dengan banyaknya  kasus in-breeding yang terjadi di kalangan E29, hal ini menunjukkan pula bahwa para senior agak segan memacari dan memperistri dan mempersuami E29. Tidak kurang dari 8 pasangan in-breeding antar E29 terjadi, dan tidak terhitung banyaknya yang jadian dan kemudian putus di tengah jalan yang kebanyakan akibat LDR - long distance relationship.

Banyak kasus juga E29 putus dengan para senior yang memacarinya. Namun E29 sebenarnya berisi rimbawan-rimbawan serius yang segan membuang-buang waktu hanya dengan haha-hehe tanpa ada manfaatnya, baik di grup Whatsapp maupun pada saat ketemu darat. Sampai-sampai perlu dibuat dua group Whatsapp untuk mengakomodasi mereka yang masih suka haha-hehe bercanda ngalor-ngidul dan membahas hal-hal yang ringan, sederhana dan menghibur.

Teal Spectrum

Richard L. Daft (2009) dalam bukunya Organization Theory and Design, menyatakan bahwa organisasi adalah entitas sosial yang diarahkan untuk mencapai tujuan yang dibuat sebagai suatu sistem yang terstruktur, terkoordinasi dan terhubung dengan lingkungan luar. E29 saat ini sebagai entitas kelompok dengan karakter the former of Tribe militias tidak termasuk pada organisasi sesuai definisi di atas, melainkan lebih tepatnya segerombolan rimbawan dan rimbawan salon yang memiliki identitas yang sama sebagai alumni dan anggota Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB.

Harapannya seiring dengan berjalannya waktu dapat masuk pada spektrum Teal dimana bercirikan mampu melakukan self management (maklum sudah kepala empat), organization is seen as a living entity, with its own creative potential and evolutionary purpose (organisasi merupakan bagian dari kehidupan yang memiliki potensi kreatif untuk tujuan perubahan), kepemimpinan terdistribusi, dengan kebenaran dan tujuan sebagai motivator utama dan dijadikan sebagai acuan.

E29 saat ini tengah berpraktik sebagai pemimpin, sebagai Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Kepala Taman Nasional, Direktur NGO, Peneliti, Dosen, Pejabat di beberapa kementerian dan Badan Negara, maupun berkarya menjadi General Manager dan direktur di perusahaan BUMN maupun swasta. Menjadi pemimpin memang sangat berat karena ada aturan umum bahwa tingkat kesadaran suatu organisasi tidak dapat melebihi tingkat kesadaran pemimpinnya.

Bagaimana mungkin dapat menjadikan suatu organisasi mencapai pada level yang paling tinggi apabila tingkat kesadaran pemimpinnya masih rendah. Hidup sebagai sebuah perjalanan yang akan mengungkap berbagai rahasia, bukan semata-mata untuk mencapai sebuah tujuan dan rute yang telah direncanakan sebelumnya. Acuan internal yang tumbuh peka menjadi sifat sejati dan bekerja sesuai dengan panggilan. Menggapai kehidupan yang sehat dan sukses. Fokus pada kekuatan, bukan pada kegagalan dan apa yang salah. Tidak ada kesalahan dalam proses, yang ada hanya kesempatan untuk belajar. Mendahulukan kebijaksanaan di luar rasionalitas. Mengintegrasikan mind-body-soul. Persisten.

Mengupayakan keutuhan dengan diri, orang lain, kehidupan, alam. Itulah tahapan kesadaran spektrum Teal yang sedang dituju oleh Arboretum, E29. Mudah-mudahan dengan HAPKA XVII kali ini, semua alumni Fahutan IPB khususnya E29 menemukan spektrum kesadaran diri dan kelompoknya untuk kebaikan dirinya, kelompoknya dan masyarakat sekitarnya.

*) Tulisan ini semoga menambah semangat Kang Edi Gemblung untuk senantiasa berjuang memberikan yang terbaik untuk keluarga dan sesama. Aamiin.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.