Untuk bumi yang lestari

Pojok Restorasi|20 Juli 2021

Jenis Pohon yang Cocok untuk Rehabilitasi

Rehabilitasi lahan sangat penting untuk mencegah banjir dan longsor. Perlu jenis pohon yang cocok untuk rehabilitasi lahan agar manfaatnya maksimal.

JULI hingga Oktober biasanya musim kemarau. Kekeringan terjadi di mana-mana. Debit air sungai berkurang. Saatnya kita memikirkan bahwa air tak bertahan lama di dalam tanah karena tak ada lagi yang mengikatnya, yakni akar pohon. Masalahnya, jenis pohon apa yang cocok untuk rehabilitasi lahan? 

Banjir atau kekeringan adalah fenomena alam yang menunjukkan simpanan air tak seimbang. Kemampuan tanah menyimpan air (infiltrasi) di hulu kurang dan minim dibanding dengan besarnya dan kecepatannya aliran permukaan (run off) pada saat musim hujan.

Idealnya infltrasi air ke dalam tanah lebih besar kapasitasnya dibandingkan dengan aliran air yang di permukaan. Artinya, air diikat oleh akar-akar pohon yang akan berguna ketika kemarau. Maka semakin banyak pohon, semakin bagus punya cadangan airnya. Makin luas tutupan hutannya, makin rapat pohon serta makin berlapis strata tajuknya, makin banyak pula air hujan yang masuk ke dalam tanah

Dalam pendekatan wilayah daerah aliran sungai (DAS), sebuah wilayah dikatakan seimbang apabila rasio debit air maksimum (musim hujan) dan debit air minimum kurang dari 40. Rasio lebih dari 40 menandakan bahwa DAS tersebut bermasalah. Makin besar angka rasionya makin kritis kondisi sungai tersebut.

Bagi DAS kritis, solusinya adalah menanam pohon sebanyak mungkin. Apa saja pohon yang cocok untuk tiap kontur DAS yang beda-beda?

Jumlah dan jenis pohon tergantung dari agroklimat dan fungsi kawasannya. Dalam kawasan hutan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) pohon berdaun lebar adalah jenis yang cocok. Jarak tanamnya mesti rapat.

Untuk areal di luar kawasan hutan, namun masih berfungsi sebagai kawasan lindung, jenis yang cocok adalah pohon MPTS atau multiguna (multi porposes trees spesies) yang bermanfaat ganda secara hidrologis dan ekonomis. Biasanya pohon buah-buahan, atau kemiri, aren, sagu, sukun, nipah.

Untuk daerah dengan topografi curam dan sangat curam jenis pohon sebaiknya monokultur, sedangkan untuk lahan landai dan datar, jenis pohonnya campuran tanaman semusim dan tanaman pangan dalam bentuk agroforestri . 

Sedangkan pada kawasan budidaya dan permukiman jenis pohon sesuai kebutuhan. Perum Perhutani menerapkan sistem penanaman pohon dengan pola agroforestri yang cukup ideal. Jati menjadi tanaman pokok dan di selanya kemlandingan (Leucaena galuca).

Kombinasi ini bertujuan mempertahankan kesuburan tanah dan mencegah erosi. Sementara tanaman sekat bakar biasanya jenis-jenis kayu rimba seperti, mahoni (Swietenia mahagoni atau Swietenia macrophyla). Paling luar adalah tanaman pagar, biasanya jenis Caesalpinia sapan.

Ketinggian lahan juga mempengaruhi jenis pemilihan pohon dalam rehabilitasi maupun reforestasi. Pohon Pinus merkusii cocok hidup pada ketinggian 400-2.000 meter dari permukaan laut. Untuk daerah dengan kondisi kering dengan bulan basah yang sedikit jenis pohon yang cocok adalah pohon dengan akar dalam dan berdaun jarum (fungsinya mengurangi penguapan pada musim kemarau), seperti jenis Eucaliptus.

Untuk daerah perkotaan jenis pohon yang cocok yang memiliki fungsi sebagai peneduh dan penyerap emisi serta indah secara estetika. Singapura memakai angsana dan trembesi, dua jenis pohon yang paling besar menyerap emisi karbon dan polusi.

Sementara untuk daerah perdesaan jenis pohon yang cocok adalah pohon cepat tumbuh (fast growing spesies) dengan daur yang pendek dan cepat laku dijual seperti Albizia falcataria yang biasa ditemukan di provinsi Jawa Barat.

Dari mana bibit pohon untuk rehabilitasi? Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di tiap provinsi membangun Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL). Biasanya banyak aneka bibit pohon untuk pelbagai keperluan. Tahun ini KLHK bahkan membangun persemaian berskala besar di Rumpin, Bogor, Jawa Barat.

Persemaian itu mampu memproduksi bibit kurang lebih 16 juta. Persemaian Rumpin berada di areal seluas 128 hektare. Selain di Rumpin, persemaian juga akan dibangun di Kalimantan Timur seluas 120 hektare untuk mendukung Ibu Kota Negara yang baru, serta di sekitar kawasan pariwisata Danau Toba, Sumatera Utara (37,25 hektare), Labuan Bajo, NTT (30 hektare), Mandalika, NTB (32,25 hektare), dan Likupang, Sulawesi Utara (30,33 hektare).

Manfaat penanaman pohon tidak bisa kita rasakan langsung dalam waktu dekat namun dalam jangka lama akan berguna mengendalikan banjir dan tanah longsor. Karena itu menentukan jenis pohon yang cocok untuk rehabilitasi lahan tiap daerah menjadi penting agar manfaatnya maksimal.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Pernah bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Bagikan

Komentar

Artikel Lain