Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|31 Mei 2021

3 Syarat BRIN Berhasil Sebagai Lembaga Riset

BRIN telah menjadi lembaga riset yang langsung bertanggung jawab kepada presiden. Tiga syarat jika ingin berhasil menciptakan riset yang menjawab masalah di masyarakat.

PADA 5 Mei 2021, Presiden Joko Widodo secara resmi memisahkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dari Kementerian Riset dan Teknologi. Melalui Peraturan Presiden Nomor 33/2021, Presiden menjadikan BRIN sebagai wadah tunggal penelitian dan inovasi yang menyatukan lembaga-lembaga riset di Indonesia. Karena itu BRIN adalah lembaga negara nonkementerian yang mewadahi para peneliti.

Seorang peneliti, kata petuah-petuah bijak, harus berpikir terbuka dan kritis. Selalu memperbarui pengetahuan adalah tuntutan alamiah mereka. Mengikuti literatur terbaru, menghadiri konferensi atau bertukar pikiran dengan rekan kerja di bidang yang relevan merupakan cara-cara menjalankan petuah bijak tersebut.

Selain itu, seorang peneliti harus banyak akal dan inventif untuk mengubah pertanyaan dan hipotetis ilmiah menjadi protokol yang bisa direalisasikan. Demikianlah petuah-petuah bijak, antara lain, dari Christodoulos Stefanadis (2006) dalam “Characteristics of the good researcher: Innate talent or acquired skills?.

Sifat-sifat peneliti seperti itu mungkin belum cukup. Kemampuan analitis—belajar, mengamati, kemudian menempatkan pembelajaran dan observasinya itu bersama-sama menjadi kesimpulan yang bermakna—amat perlu. Dengan analitik, kemampuan menghubungkan titik-titik tak bersambung menjadi gambar besar yang mudah dicerna masyarakat juga menjadi tuntutan seorang peneliti.

Cerita Irfan Syed (2019) dalam “12 Personal attributes of a successful researcher” layak kita simak. Ia mencontohkan Archimedes (287-212 SM). Insinyur dari Syracuse ini membenamkan dirinya ke dalam bak mandi ketika pening memikirkan permintaan Raja Herion II apakah mahkotanya benar-benar dilapisi perak.

Ketika tubuhnya masuk air ia melihat air tumpah dari bak. Seketika Archimedes bangkit lalu berlari bertelanjang bulat menemui istrinya seraya berteriak, “Eureka, Eureka!”. Sejak itu Archimedes menemukan formula untuk mengetahui keaslian perak mahkota dengan menenggelamkannya ke dalam air. Kelak formula dari peristiwa kebetulan ini berkembang menjadi Hukum Archimedes. 

Demikianlah sebuah inovasi bermula. Para peneliti melihat sesuatu dengan perspektif baru atau melihat sesuatu dengan sepasang mata baru. Ini adalah batu loncatan dari banyak penemuan. Menurut Syed, ketika Newton melihat apel yang jatuh dari pohonnya—sebagai peristiwa duniawi yang sangat biasa bagi kebanyakan orang—menuntun ilmuwan Inggris ini merumuskan tiga hukum gerak.

Seorang peneliti inovatif tahu bahwa penemuan besar berikutnya bisa berasal dari mana saja. Mereka hanya perlu terlibat di dalamnya. Ilmuwan Tiongkok Tu Youyou, yang memenangi Nobel Kedokteran pada 2015 untuk terapi inovatifnya bagi penyembuhan malaria, menemukan inovasinya bukan dari hasil rekayasa di zaman baru, melainkan dari teks Tiongkok kuno tentang tumbuhan.

Sifat personal peneliti berikutnya, menurut Syed, adalah kemampuan adaptasi. Zabta Khan Shinwari, Ketua Departemen Bioteknologi di Universitas Quaid-i-Azam di Islamabad, Pakistan, cukup ahli dalam hal kemampuan beradaptasi. Meskipun ia memiliki gelar PhD dalam bidang sistematika molekuler, ia memutuskan menjelajahi bidang bioteknologi yang berkembang pesat pada pertengahan 1990-an.

Kemudian, begitu ia bersentuhan dengan masalah-masalah dalam risetnya, ia menyimpulkan bahwa aspek etis sama pentingnya dengan penemuan ilmiah. Karena itu, ia memutuskan mempelajari bioetika, sebuah keputusan yang pada akhirnya membawanya memenangi Penghargaan Avicenna UNESCO 2015 untuk bidang etika dalam sains. 

Semua peneliti diharapkan memiliki tujuan dan tidak pernah meninggalkan tujuannya itu dengan cara fokus pada pemecahan masalah. “Inilah yang membedakan peneliti sukses”, kata Linqi Zhang, Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Dasar dan Pusat Penelitian Aids Komprehensif di Universitas Tsinghua di Beijing, Cina.

Zhang percaya bahwa pemikiran yang fokus akan membantu para peneliti berkonsentrasi pada pemecahan masalah. “Ketika [orang lain] menemui gunung yang terlalu tinggi,” katanya. “Mereka akan mengambil jalan memutar. Peneliti yang berhasil akan menemukan solusi, tidak peduli berapa lama waktu yang ia butuhkan.” Itu berarti para peneliti harus mampu terus melihat gambar dan tujuan lebih besar dari penelitiannya, melalui semua awal yang bisa salah, jalan buntu, penolakan dan revisi, tetapi mereka tahu di mana akan berada di akhir semuanya itu.

Dalam wawancara dengan Tempo di edisi 30 Mei 2021, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menyatakan beberapa hal mengenai masa depan riset di Indonesia. Dengan menaungi beberapa lembaga riset seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), BRIN menaungi jumlah pegawai sangat besar: 10.000 staf dan 6.000 peneliti.

Menurut Laksana perubahan akan terjadi dalam beberapa hal. Pertama, perubahan proses bisnis untuk menyatukan sumber daya, infrastruktur, dan anggaran yang menyebar di banyak lembaga riset. Ini masalah paling fundamental lembaga riset kita.

Kedua, BRIN akan menjadi organisasi riset nonstruktural dengan basis fungsional agar para peneliti fokus pada riset saja. Ketiga, kepala lembaga riset ditentukan melalui mekanisme pemilihan secara terbuka.

Keempat, menarik sebanyak mungkin talenta peneliti dengan proporsi 70%, daripada peran infrastruktur yang hanya 20% dan sisanya 10% dalam fungsi anggaran. Kelima, industri dibebaskan masuk ke dalam riset, kemudian berbagi paten. Keenam, memperbaiki manajemen riset, antara lain dengan mengembangkan anggaran eksternal dalam riset. 

Tampak ada harapan baru dari penjelasan itu. Peneliti di Indonesia akan bisa memenuhi sifat-sifat alamiah peneliti yang telah diutarakan di awal tulisan ini. Kita berharap akan ada hasil-hasil riset yang mampu memberi solusi alternatif dan lebih mungkin menyelesaikan masalah nyata di lapangan. Untuk mencapainya perlu dipastikan beberapa hal berikut ini:

Pertama, ruang konsolidasi. Sejauh ini basis fungsional peneliti hanya berjalan dengan baik ketika mereka mempunyai ruang di dalam bisnis proses penelitian untuk mengekspresikan kebebasan melihat permasalahan serta kebebasan menentukan pendekatan apa yang paling sesuai.

Untuk itu, “ruang” tersebut bisa pula berupa konsolidasi berbagai latar-belakang peneliti yang memungkinkan melihat suatu persoalan dari berbagai perspektif dan disiplin. Rendahnya atau terbatasnya pengetahuan peneliti mengenai fakta lapangan—yang bisa disebabkan oleh manajemen riset dengan pola mono-disiplin—sering kali terjebak pada kesalahan menentukan masalah.

Kedua, afirmasi masyarakat kecil. Masuknya industri secara langsung atau tidak langsung ke dalam riset melalui dana penelitian mempunyai potensi benturan nilai-nilai. Hasil penelitian, baik berupa produk, teknologi, solusi manajemen, dan bentuk lainnya, tidak bersifat netral. Kondisi Indonesia yang umumnya masih berjalan timpang antara akses masyarakat lokal dan industri besar terhadap sumber daya alam, informasi maupun infrastruktur ekonomi, memerlukan kebijakan afirmasi yang berpihak kepada masyarakat lokal tersebut.

Ketiga, kebebasan peneliti. Peran hasil riset dari ilmu-ilmu sosial, politik maupun institusi di Indonesia sangat krusial, tetapi masih banyak yang terhambat. Berbagai hasil riset itu, seperti mengenai korupsi dengan pendekatan hukum maupun pendekatan jaringan sosial, persoalan birokrasi, maupun berbagai transaksi perizinan dan perdagangan, umumnya sulit mendapat pendanaan dari pemerintah.

Hal itu menyiratkan adanya konflik kepentingan, bahwa riset yang menyangkut kinerja pemerintah cenderung tak diinginkan aparaturnya, padahal di sini ada persoalan besar dan mendasar. Dalam hal ini, manajemen riset sering kali dibuat untuk maksud membelenggu kemandirian berpikir peneliti.

Ketiga hal ini sangat penting dipertimbangkan dalam membentuk kelembagaan maupun manajemen riset. Tidak seperti lembaga pada umumnya yang kinerjanya ditentukan oleh peran pemimpinnya, kinerja lembaga riset lebih ditentukan oleh kemandirian penelitinya.

Masalahnya kondisi peneliti acap ironis karena rentan terhadap tekanan kelembagaan internal maupun belenggu manajemen riset yang dengan sengaja dibentuk untuk mengerangkeng mereka.

Guru Besar Kebijakan Kehutanan pada Fakultas Kehutanan dan Lingkungan serta fellow pada Center for Transdiciplinary and Sustainability Sciences, IPB.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain