Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|29 Mei 2021

Infeksi Covid-19 Menumbuhkan Antibodi

Orang yang pernah positif covid-19 kemungkinan punya antibodi lebih kuat. Studi pada pasien covid yang sembuh.

DALAM satu setengah tahun virus corona covid-19 telah membunuh setidaknya 3,5 juta orang, meskipun majalah The Economist memperkirakan jumlah kematian riil 3-4 kali lipat dari data resmi. Melalui model matematika, majalah mingguan Inggris itu memperkirakan jumlah kematian akibat pandemi mencapai 10 juta orang. 

Hingga 29 Mei 2021, worldometers.info mencatat jumlah kasus positif covid-19 mencapai lebih dari 170 juta atau 2,2% populasi bumi. Artinya, jumlah mereka yang sembuh dari serangan virus ini lebih dari 98%. Kabar baik buat mereka yang sembuh dari infeksi virus ini: antibodi lebih kuat dan kemungkinan akan bertahan lama. 

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature coba menghitung kekebalan tubuh para pasien covid-19 yang berhasil sembuh. Para peneliti mengambil sampel sel antibodi di sumsum tulang belakang 77 orang yang terinfeksi covid dan mengalami gejala ringan.

Hasilnya, sel plasma sumsum tulang belakang bertahan setelah mereka dinyatakan negatif virus corona. Plasma tulang belakang merupakan sayu sel penentu antibodi. Ia bertahan sementara sel-sel berumur pendek tak tersisa karena kalah ketika bertempur dengan virus corona. SARS-Cov-2 selama masa infeksi.

Begitu virus masuk ke dalam tubuh manusia, sel-sel antibodi belum bereaksi selama satu hari. Mereka baru menggeliat di hari ke-3 dan 4. Akibatnya, tubuh bereaksi memunculkan gejala covid. Kondisi tubuh akan parah jika virus berhasil mengelabui sel antibodi dan memperbanyak diri.

Meski masuk melalui jalur pernapasan, virus corona bisa menyebar ke segala penjuru dan menyerang organ tubuh yang paling lemah. Percobaan para peneliti melalui organoid—organ mini yang diproduksi di laboratorium—menemukan bahwa virus corona bisa menginfeksi usus kecil, limpa, hati, ginjal, paru-paru bahkan otak. Karena itu gejala covid tak hanya sesak napas, juga mual dan diare.

Di paru-paru, virus corona menyerang alveoli, organ kecil yang menentukan gejala pneumonia. Meski para peneliti, termasuk di Indonesia, telah menemukan jumlah virus berkurang ketika alveoli diberi minyak kayu putih, para ahli belum menyimpulkan zat efektif untuk mencegah penggandaan virus dan menumbuhkan kekebalan.

Chloroquine dan remdesivir pernah dianggap sebagai obat manjur penangkal corona. Tapi zat dalam obat ini tak mampu bertahan menjaga antibodi dalam jangka lama. Percobaan para peneliti baru-baru ini menemukan bahwa zat dalam vaksin kemungkinan bisa melindungi antibodi untuk beberapa waktu.

Penelitian pada plasma tulang belakang 77 pasien covid yang telah pulih menunjukkan bahwa antibodi SARS-CoV-2 anjlok dalam empat bulan setelah infeksi. Penurunan sel ini melambat setelah bulan kelima. Ketika peneliti mengecek lagi keberadaannya pada bulan ke-11, sel itu masih bertahan dan bertambah banyak. 

Tujuh bulan setelah timbul gejala, sebagian besar peserta ini masih memiliki sel B memori yang mengenali SARS-CoV-2. Sebanyak 15 dari 18 sampel sumsum tulang, para ilmuwan menemukan populasi sel plasma tulang belakang sangat rendah tetapi masih bisa dideteksi.

Sel plasma sumsum tulang (merah marun). Sel-sel semacam itu, yang menghasilkan antibodi, bertahan selama berbulan-bulan di dalam tubuh orang yang telah pulih dari infeksi covid-19. Foto: Dr Gopal Murti/Science)

Para ahli menduga yang pembentukan sel plasma dipicu oleh infeksi virus corona 7-8 bulan sebelumnya. Tingkat sel ini stabil pada kelima orang yang memberikan sampel sumsum tulang lagi beberapa bulan kemudian.

Temuan ini merupakan pengamatan penting. Para peneliti sedang mengamati daya tahan antibodi ini untuk menyimpulkan seberapa lama antibodi meningkat akibat infeksi virus corona dengan gejala ringan. “Kami berada di awal permainan,” kata Rafi Ahmed, ahli imunologi di Emory University Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. “Kami belum melihat lima tahun atau sepuluh tahun setelah infeksi."

Rangsangan vaksin juga memicu produksi sel plasma yang sama. Tetapi para peneliti segera mengingatkan bahwa produksi antibodi yang terus-menerus, oleh vaksinasi atau infeksi, tidak menjamin kekebalan jangka panjang terhadap virus corona. 

Kemampuan beberapa varian SARS-CoV-2 menginfeksi lebih cepat dan ganas dalam menumpulkan antibodi menunjukkan bahwa imunisasi perlu terus dikembangkan untuk bersaing dengan pertumbuhan virus setelah infeksi.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain