Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|14 Mei 2021

Alasan Lingkungan, Tesla Tolak Bitcoin

Elon Musk berhenti memakai bitcoin sebagai alat tukar pembelian mobil listrik. Bitcoin tak ramah lingkungan.

SECARA mengejutkan Elon Musk mengumumkan bahwa perusahaannya, Tesla, berhenti memakai bitcoin sebagai alat tukar pembelian mobil listrik.

“Tesla berhenti memakai bitcoin sebagai alat pembelian karena pemakaian energi fosil dalam penambangan dan transaksi, terutama batu bara, yang menjadi emisi terburuk dibanding emisi lain,” kata Elon Musik di akun Twitternya pada 13 Mei 2021.

Pengumuman Tesla itu membuat nilai tukar bitcoin anjlok 12% atau US$ 49.000, menurut web Coindesk. Pengukur lain menyebut turun 14% dan yang lainnya 20%. Tak hanya menolak bitcoin, Tesla juga tak lagi menjual bitcoin dalam transaksi di dunia maya.

Pandangan Elon Musk itu berubah dalam empat bulan. Pada Januari 2021, ia mencuit tagar #bitcoin dan mengatakan bahwa mata uang digital ini lebih baik dibanding mata uang fisik. Pada Maret ia juga mencuit bahwa Tesla menerima bitcoin untuk pembelian mobil listrik itu. Nilai bitcoin segera melambung. Pada 10 April 2021 nilainya mencapai Rp 862.625.754,10 per keping.

Meski tak lagi memakai bitcoin, Musk tetap meyakini bahwa mata uang digital sebagai masa depan transaksi. Alasan menghentikannya karena produksi emisi dalam transaksi yang membutuhkan listrik yang banyak.

Keputusan dan alasan Musk ini benar. Studi sejumlah peneliti Cina yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications edisi 6 April 2021 mengkonfirmasi kebutuhan energi dalam bitcoin.

Untuk mendapatkan bitcoin kita harus “menambangnya” cukup lama. Setelah mendapatkannya, transaksi digital juga membutuhkan energi listrik yang banyak dalam pemakaian komputer.

Untuk mendapatkan satu keping bitcoin kita perlu menambangnya secara digital beberapa tahun. Sementara penambangan bitcoin setahun membutuhkan emisi 130,5 juta ton setara CO2. Emisi sebanyak ini melampaui produksi emisi Qatar dan Republik Ceko. Secara global, produksi emisi bitcoin berada di urutan ke-12 dari produksi emisi semua negara.

Dengan menghitung tren perdagangan bitcoin (yang disebut blockchain), para peneliti memprediksi puncak pemakaiannya akan terjadi pada 2024. Di tahun itu jumlah energi yang terpakai untuk perdagangan bitcoin sebanyak 296,59 triliun watt jam (TWh). Energi sebanyak ini melebihi pemakaian listrik Italia dan Arab. 

Konsumsi energi dan produksi emisi bitcoin

Bitcoin menjadi tidak ramah lingkungan karena 63% sumber energi listrik global masih memakai bahan bakar tak terbarukan, seperti minyak bumi, gas, dan batu bara. Karena itu semakin banyak listrik yang kita konsumsi untuk menghidupkan benda digital akan semakin banyak produksi emisi karbon.

Jangankan bitcoin yang butuh listrik banyak, mengirim pesan “ya, terima kasih” melalui email saja menghasilkan emisi 0,000001 ton setara CO2. Secara global, kita membuat emisi 0,1% dari 51 miliar ton dari mengirim email tak berguna.

Revolusi internet membuat ekonomi digital menggelegar. Transaksi digital naik sehingga pertumbuhan ekonomi ikut terdongkrak. Kini nilai ekonomi digital mencapai US$ 11,5 triliun atau 15% dari produk domestik bruto global dengan kecepatan dua kali kecepatan pertumbuhan ekonomi konvensional sejak 2000.

Dengan kecenderungan dan nilainya yang besar, ekonomi digital akan semakin menopang pertumbuhan ekonomi dunia, seperti kata Elon Musk. Sementara dunia menghadapi krisis iklim yang menjadi ancaman laten tiap negara. Karena itu cara terbaik menjawab masalah ini adalah dengan memperbaiki sumber energinya di hulu.

Sepanjang energi listrik masih memakai energi fosil, aktivitas ekonomi akan meninggalkan jejak karbon yang akan menambah konsentrasi gas rumah kaca. Maka menyetop energi fosil dan beralih ke energi terbarukan, seperti angin dan matahari, adalah langkah menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Karena itu, mobil listrik yang ramah lingkungan juga belum menjadi solusi karena energi listriknya berasal dari batu bara. Mobil listrik akan menjadi moda ramah lingkungan jika energinya berasal dari energi terbarukan, seperti matahari atau angin.

Masalahnya, menghasilkan energi terbarukan selalu bukan prioritas tiap negara. Ada misinformasi yang berkembang bahwa menghasilkan energi terbarukan lebih mahal ketimbang memakai energi fosil. Cina baru bisa mengurangi 60% produksi karbonnya pada 2050. Mereka berjanji baru bisa nol emisi pada 2060. Indonesia lebih lama lagi, tahun 2070.

Sumber energi yang masih memakai batu bara membuat target nol emisi Indonesia melenceng 20 tahun dari Perjanjian Paris 2015. Pertumbuhan energi terbarukan begitu lambat. Energi terbarukan kini baru menyumbang 8,5% dari bauran energi. Tahun 2025 pemerintah punya target menaikkannya menjadi 23%, masih kalah jauh dibanding minyak bumi (25%) dan batu bara (30,3%).

Dengan komposisi seperti ini, alih-alih menopang kelestarian, transaksi digital seperti bitcoin yang menjadi solusi dalam ekonomi malah menjadi malapetaka karena produksi emisinya yang besar berasal dari energi tak terbarukan.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain