Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|13 Mei 2021

Misinformasi Krisis Iklim di Facebook

Sebuah organisasi aktivis pengawas misinformasi dan disinformasi krisis iklim meminta Facebook lebih awas pada konten pembelokan isu perubahan iklim.

DENGAN 2,8 miliar akun aktif per bulan dan 4,37 miliar konten yang tersebar per hari, Facebook menjadi platform media sosial terbesar di planet ini. Praktis, perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg ini menjadi penentu informasi yang menjadi pemahaman manusia di seluruh dunia.

Sayangnya, kekuatan yang besar itu tak diimbangi dengan pengecekan berlapis atas informasi yang tersebar di platform ini. Kesimpulan riset Stop Funding Heat, organisasi aktivis penentang disinformasi krisis iklim, dirilis pada 12 Mei 2021 secara online berjudul “On the Back Burner: How Facebook’s Inaction on Misinformation Fuels the Global Climate Crisis”.

Stop Funding Heat menemukan bahwa iklan para penyangkal krisis iklim berseliweran tanpa terdeteksi oleh mesin penangkal hoaks Facebook. Lembaga ini bahkan menyimpulkan, “Algoritma Facebook memicu disinformasi krisis iklim (tersebar lebih cepat).”

Sebelum menjelaskan temuannya, Stop Funding Heat (secara harfiah bisa diartikan ‘Hentikan Membiayai Pemanasan Global’) menjelaskan pengertian misinformasi dan disinformasi. 

Mengacu pada pengertian John Cook, peneliti komunikasi iklim dari George Mason University Amerika Serikat, bahwa misinformasi adalah informasi yang terlepas dari konteks yang disebarkan tanpa tujuan menipu. Sementara disinformasi adalah informasi keliru yang disebarkan sejak awal dengan tujuan menipu.

Contoh misinformasi: perusahaan batu bara menyumbang pertumbuhan ekonomi. Pernyataan ini menghilangkan konteks karena pertumbuhan ekonomi di sana adalah pertumbuhan ekonomi yang tak lestari. Dalam pertumbuhan ekonomi yang didorong industri ekstraktif selalu menyisakan sampah pertumbuhan yang lebih mahal dari kemajuan ekonomi itu sendiri: polusi, kematian, penyakit.

Contoh disinformasi: CO2 baik bagi bumi karena membantu pohon tumbuh sehingga karbon dioksida bukan penyebab pemanasan global. Pohon tumbuh tak hanya ditopang karbon dioksida. Pohon tumbuh karena proses fotosintesis, yang di dalamnya ada reaksi dengan H2O. Sementara H2O (air) sangat terpengaruh oleh suhu bumi. Dan suhu bumi dipengaruhi oleh konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, paling banyak diisi karbon dioksida.

Ada banyak jenis misinformasi dan disinformasi, yang mempermainkan logika ditopang oleh ideologi atau keyakinan. Para penentang perubahan iklim biasanya menyangkal bukti ilmiah dengan keyakinan. Misalnya, krisis iklim tidak nyata karena suhu berubah setiap pagi. Membandingkan dua hal ini keliru karena suhu pagi adalah cuaca, sementara pemanasan global adalah keadaan iklim berdasarkan akumulasi suhu bumi dalam periode waktu tertentu yang diukur secara ilmiah.

InfluenceMap menemukan sebanyak 51 iklan di Facebook pada periode Januari-Juni 2020 yang berisi pernyataan bahwa manusia bukan penyebab pemanasan global. Total biaya untuk iklan tersebut sebesar US$ 42.000 atau Rp 610 juta. Selama periode itu iklan tersebut memapar (impresi) 8 juta akun. Dari 51 iklan itu hanya 1 yang dihentikan penayangannya oleh Facebook.

Stop Fund Heat juga menemukan dua iklan dari dua kelompok penyangkal krisis iklim yang bolak-balik tayang di laman Facebook selama 2020-2021. Iklan tersebut tayang di Facebook tanpa diketahui penyokong dananya karena entitas perusahaan tak bisa diakses oleh publik.

Dalam kesimpulannya, Stop Funding Heat menyatakan selain belum mendefinisikan misnformasi krisis iklim, Facebook tidak memiliki kebijakan menangkalnya. Program Pemeriksaan Fakta Pihak Ketiga hanya memeriksa 6 informasi salah tentang perubahan iklim setiap bulan.

“Ini seperti Facebook bermain biola saat planet terbakar,” kata Sean Buchan, peneliti dan penulis laporan On the Back Burner. “Perusahaan perlu menunjukkan keselarasan dengan pernyataan publik mereka tentang perubahan iklim, dan menganggap serius ancaman terhadap COP26.”

Isu tentang misinformasi krisis iklim di Facebook telah mencuat sejak tahun lalu. Sejumlah organisasi menyatakan memboikot Facebook dengan tanda pagar yang menyerukan stop mendapatkan keuntungan dari misinformasi.

Dalam sebuah pernyataannya, Mark Zuckerberg mengatakan bahwa Facebook mendukung kebebasan berpendapat sehingga mengakui semua opini dari pemakai platform ini. Dengan pandangan seperti itu, iklan yang menyatakan “CO2 baik bagi bumi” digolongkan ke dalam konten “opini” oleh algoritma Facebook.

Menurut Andy Stone, Direktur Komunikasi Kebijakan Facebook, seperti dikutip New York Times, sejak 2016 perusahaannya melipatgandakan pengecek fakta. “Jika seseorang mengepos pernyataan berbasis fakta palsu,” kata dia, “tim cek fakta kami akan bekerja memverifikasinya. Mereka akan menilai apakah pernyataan itu berkedok opini berbasis fakta palsu atau tidak.”

Masalahnya, menurut New York Times, pengawasan tiap konten membutuhkan waktu sepekan. Selama pengawasan itu, Facebook tak menandainya jika ada konten mengandung misinformasi.

Cara Menangkal

Untuk menangkal misinformasi, disinformasi, bahkan mal-informasi, kita bisa memakai cara para jurnalis menulis berita: penasaran, ragu, bahkan curiga pada setiap informasi. Dengan ragu bahkan curiga, kita akan selalu terdorong mencari sumber informasi tersebut sebelum mempercayainya, apalagi menyebarkannya.

Jika hendak menyebarkan sebuah informasi, perlu kita tanya kepada diri sendiri: apakah saya yakin informasi ini benar? Apakah sumbernya kredibel? Apakah penerima informasi tak jadi bingung? Apakah informasi ini tak menimbulkan polarisasi? Dengan pertanyaan-pertanyaan ini, kebebasan berpendapat yang diinginkan Mark Zuckerberg akan lebih bertanggung jawab.

Begitu juga dengan konten di Facebook tentang krisis iklim. Kini ada banyak jurnal yang bisa diakses secara gratis dan sumber kredibel lain yang mambahas dan menganalisis krisis iklim. Dengan cara itu, kita akan lebih berhati-hati dalam mengonsumsi berita, termasuk ketika terpapar iklan di media sosial.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain