Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|07 Mei 2021

Potensi Blue Carbon Indonesia

Karbon biru atau blue carbon Indonesia sangat melimpah. Nilainya bisa lebih dari Rp 4.000 triliun.

MANGROVE Indonesia dinobatkan sebagai tanaman penyelamat bumi dari kehancuran akibat krisis iklim. Vox, media di Amerika Serikat, memilih mangrove Indonesia sebagai tanaman penyelamat bumi bersama pohon kacang Brasil dan pohon afromosia dari Kongo. 

Mengapa mangrove menjadi penyelamat bumi? Sebagai sakti tanaman ini dalam mencegah krisis iklim?

Penelitian Universitas Lampung di Desa Margasari menemukan bahwa tegakan mangrove bisa menyerap karbon sebanyak 197,36 ton per hektare dan serasahnya 1,25 ton per hektare atau total 198,61 ton per hektare. Kemampuan mangrove menyerap karbon seperlima pohon trembesi per hektare.

Indonesia memiliki 3,2 juta hektare dan 3 juta hektare padang lamun—ekosistem perairan dangkal yang dihuni tanaman sejenis lamun anggota Alismatales. Dengan ekosistem seperti itu, mangrove dan lamun Indonesia diperkirakan menyimpan 17% cadangan karbon global.

Karbon di laut ini disebut blue carbon atau karbon biru, karbon yang terserap di atmosfer oleh ekosistem laut, penyerap 93% panas matahari. Daniel Murdiyarso, ahli karbon dari Center for International Forestry Research (CIFOR) dan IPB University, dalam “Executive Brief: State of The Art Blue Carbon di Indonesia” pada 5 Mei 2021, mengatakan potensi karbon mangrove bisa bernilai ekonomi tinggi.

Di era perdagangan karbon seperti sekarang, kata Daniel, nilai karbon mangrove bisa mencapai US$ 90.000 per hektare. Nilai tersebut tak hanya dari karbon, tapi juga dampak ekonomi lain seperti ekowisata, pencegah abrasi, dan industri perikanan lestari. Artinya, jika Indonesia bisa memelihara mangrove seluas 3,2 juta hektare, potensi ekonominya lebih dari Rp 4.000 triliun. 

Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono menambahkan bahwa indeks kesehatan perairan laut Indonesia berada pada angka 65, peringkat ke-137 dari 221. Dengan melihat potensi blue karbon, kata Trenggono, ia berharap peringkat kesehatan laut naik menjadi 73 pada 2024. 

Haruni Krisnawati, dari Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi KLHK menerangkan bahwa laju pertumbuhan mangrove yang tinggi (3,6 ± 1,1 miligram karbon per hektare per tahun membuat ia menjadi ekosistem kuat menyimpan karbon. Emisi yang terserap oleh daun, batang, dan ranting akan gugur dan terkubur dalam perairan sehingga karbon tak segera menguap ke atmosfer.

Itu kenapa mangrove disebut sebagai tanaman penyelamat bumi. Jika tak rusak, kemampuannya menahan emisi akan mencegah atmosfer kotor sehingga mampu menyerap panas karena gas rumah kaca tak menebal.

Masalahnya, kata Haruni, mangrove mendapat tantangan tak mudah karena ekspansi industri perikanan yang masif sehingga mengonversi lahan mangrove menjadi kawasan industri pertambakan. Pemanfaatan kayunya menjadi arang dan bahan baku kertas membuat mangrove ditebang sehingga melepaskan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.

Begitu juga dengan padang lamun. Rohani Ambo Rappe, guru besar Universitas Hasanuddin, menjelaskan bahwa kumpulan tumbuhan berbunga di bawah air laut itu menjadi penyerap karbon dari atmosfer sehingga menyediakan makanan berlimpah bagi ekosistem laut. Karena itu, mitigasi padang lamun tak hanya menghindarkan bencana krisis iklim, juga mendorong keragaman hayati laut.

Dengan potensinya dalam mitigasi krisis iklim, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dan Menteri Trenggono meminta para ahli menghitung lebih saksama potensi blue carbon sehingga terinventariasi dalam mitigasi krisis iklim dan terbedakan dari potensi ekosistem daratan. “Ini bisa menjadi bagian dari langkah kita mencapai NDC,” kata Siti, menyebut target penurunan emisi Indonesia.

Kedua menteri juga berharap penelitian tentang blue carbon lebih banyak sehingga menjadi acuan para pengambil keputusan dalam memanfaatkannya. Tak hanya bagi fungsi ekologi, tapi juga sekaligus potensi ekonomi bagi masyarakat.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Forest Digest (@forestdigest)

Selama ini, meski potensinya besar, karbon biru masih luput dari perbincangan publik, tak seperti karbon hutan daratan yang masuk dalam salah satu skema pengurangan emisi melalui pencegahan deforestasi dan degradasi lahan.

“Laut menyerap 93% panas matahari dibanding daratan sehingga mempengaruhi pola hujan, suhu, dan iklim regional,” kata Anastasia Rita Tisiana Dwi Kuswardani dari Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain