Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|22 April 2021

Cara Sederhana Mengurangi Sampah

Tiap orang harus mulai berpikir tak membuat sampah. Slogannya bukan buang sampah pada tempatnya, tapi buang sampah sejak dalam pikiran.

DI era krisis iklim seharusnya tiap orang sudah tak lagi membuat sampah. Setiap orang harus menghilangkan sampah sejak dalam pikiran. Jika akan melakukan aktivitas, mereka yang menyadari bahwa sampah menjadi salah satu problem krisis iklim, akan selalu bertanya: apakah aktivitas itu melahirkan sampah? 

Jika ya, seberapa banyak? Apakah sampah itu gampang diurai? Apakah ada cara lain menghindarinya? Apakah ada cara lain menguranginya hingga sekecil mungkin. Beberapa pemikiran ini muncul dalam zoominar Hari Bum 22 April 2021 oleh Forest Digest bersama Katingan-Mentaya Project.

Dengan berpikir tak membuat sampah sejak dalam pikiran, problem krisis iklim akibat aktivitas tiap individu akan berkurang. Dari 64 juta ton sampah yang dibuat seluruh orang Indonesia setahun, 50-60% berupa sampah rumah tangga yang sebetulnya bisa diurai, hanya 15% sampah plastik yang sulit diurai alam.

Karena itu, jika tiap orang Indonesia mengompos sampah organik yang mereka buang—dari makanan, sisa membersihkan taman—masalah sampah akan selesai 50%. “Gerakan kompos ini kunci dalam menanggulangi masalah sampah saat ini,” kata Ujang Solihin Sidik, Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dengan dikompos, sampah organik orang Indonesia tak terangkut ke tempat pembuangan akhir yang bertemu dengan sampah rumah tangga lain dan akhirnya menumpuk dan menguapkan gas metana. Gas metana adalah jenis gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat menyebabkan pemanasan global dibanding karbon dioksida.

Dengan mengacu pada perhitungan bahwa 1 kilogram sampah organik menghasilkan 235 liter gas metana (CH4) atau 109 kilogram, 60% atau 38,4 juta ton sampah organik orang Indonesia menghembuskan 4,2 juta ton gas metana ke udara atau 105 juta ton setara CO2. “Kalau semua dikompos tak ada lagi metana ke udara,” kata Ujang. “Komposter adalah langkah nyata cinta bumi.”

Kompos adalah teknik sederhana menguraikan kembali sampah organik ke alam. Komponen sampah yang tak hancur bisa dipakai untuk pupuk atau menggemburkan tanah kembali. Komposter membuat siklus sampah tidak memasukkan unsur baru ke dalamnya sehingga suatu saat sampah tersebut akan hilang.

Menurut penelitian Endes N. Dahlan, pengajar di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, kemampuan pohon beringin (Ficus benyamina) menyerap CO2 sebanyak 535,9 kilogram per tahun. Artinya, jika 1 kilogram sampah organik menghasilkan gas metana 109 kilogram, dan metana menyebabkan pemanasan global 25 kali lebih kuat dibanding CO2, 1 kilogram sampah organik menghasilkan 2,7 ton setara CO2 yang harus diserap 5 pohon beringin. Sebaliknya, jika Anda mengompos 1 kilogram sampah organik sama dengan menanam 5 pohon beringin.

Selain sampah organik ada 15% sampah plastik yang menjadi momok Indonesia. Dari jumlah tersebut sebanyak 36% dibuang ke sungai lalu bermuara di laut menginvasi ruang hewan dan tumbuhan perairan. Sampah plastik juga menguraikan mikroplastik yang akan termakan oleh hewan laut dan kembali ke tubuh manusia ketika memakan proteinnya.

Cara mencegah plastik tak mencemari udara adalah dengan mengolahnya menjadi barang berharga. Seperti yang dilakukan dua anak muda ketika mendirikan Rebricks. Ovy Sabrina dan Tan Novita bisa mengolah sampah plastik yang susah didaur ulang menjadi batako dan konblok (profil mereka bisa dibaca di edisi terbaru Forest Digest di sini).

Dengan digunakan kembali maka sampah plastik yang amat berbahaya bagi lingkungan dan manusia akan termanfaatkan, tak masuk ke dalam siklus alam yang mencederainya. 

Atau yang dilakukan oleh Katingan-Mentaya Project. Perusahaan restorasi ini bekerja memulihkan hutan rusak dengan menanam dan menjaga konsesi seluas 157.000 hektare. Masalahnya, penanaman pohon acap membutuhkan polybagatau kantong anakan pohon sebelum dilepaskan ke alam. Plastik ini tentu saja tak mudah diurai. 

Dengan pendekatan kepada masyarakat, KMP menemukan kearifan lokal masyarakat Kalimantan Tengah membuat pengganti polybag dengan purun, rumput endemik kawasan ekosistem gambut. Masyarakat Kalimantan Tengah biasa memakainya untuk kantong belanja dengan mengubahnya jadi anyaman. “Kalau gitu tinggal diubah saja ukurannya sebesar polybag,” kata Dwi Puji Lestari, peneliti di KMP.

Biobag anakan pohon dari purun (Foto: Dok. KMP)

Walhasil, karena tak ingin mencederai kerja keras mereka memulihkan hutan dan menjaga kawasan, KMP tak lagi memakai polybag dan memakai anyaman purun untuk anakan pohon. Selain menghidupkan ekonomi masyarakat, mereka juga tak ikut mengotori lingkungan dengan sampah plastik. 

Harganya memang relatif mahal. Satu kantong purun harganya Rp 1.000, lima kali lipat dari polybag plastik. “Tidak masalah karena ongkos lingkungan karena plastik pasti lebih besar dari lima kali lipat,” kata Puji. KMP sedang mengembangkan purun agar lebih tahan lama agar tak hancur sebelum bibit pohon bisa dikembangbiakkan di alam.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain