Laporan Utama | Juli-September 2018

Angkatan Pra-Rimbawan

Menjadi panitia Ospek dua fakultas selain mahasiswa Kehutanan. Karena kekurangan air di asrama banyak yang terkena “kupret”.

D. Ruchjadi Prawiraatmadja

Angkatan 2 (1964)

BERBEDA dengan angkatan-angkatan lain yang memilih nama-nama angkatan yang khas atau lucu, Angkatan 1964 atau angkatan 2 memilih nama ‘Prambains’ yang merupakan singkatan Pra Rimbawan Institut Pertanian Bogor (IPB). Nama itu dipilih karena mempunyai nilai sejarah yaitu sebagai rimbawan pertama yang dilahirkan IPB. 

IPB berdiri tahun 1963 yang merupakan pemisahan lima fakultas dari Universitas Indonesia, yaitu Fakultas Pertanian, Kehutanan, Perikanan, Peternakan, dan Kedokteran Hewan. Para mahasiswa IPB ini mulai berkiprah pada tahun 1964 antara lain dengan mengadakan Masa Prabhakti Mahasiswa atau Mapram, yang kini disebut Orientasi Pengenalan Kampus atau Ospek.

Pada tahun 1965, IPB membentuk fakultas baru yaitu Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian (Fateta). Karena belum ada mahasiswa senior maka Mapram diserahkan kepada Fakultas Kehutanan. Jadilah, untuk pertama kalinya, mahasiswa Fakultas Kehutanan menggembleng mahasiswa baru di dua fakultas tersebut.

Mahasiswa yang diterima di Fakultas Kehutanan sebanyak 70 orang, dua di antaranya wanita. Jumlah perempuan tersebut lumayan banyak karena sebelumnya paling hanya satu atau tidak ada sama sekali. Dalam perjalanannya kedua mahasiswi tersebut berjodoh dengan mahasiswa seangkatannya. Mungkin karena mahasiswa tidak rela diambil angkatan lain.

Pada tahun 1965 terjadi Gerakan 30 September atau yang dikenal G30S. Keadaan negara cukup kacau, kuliah vakum selama setahun. Demikian juga banyak mahasiswa terlibat yang terpaksa harus dikeluarkan termasuk beberapa mahasiswa Fakultas Kehutanan. Keadaan ini juga menyebabkan tidak adanya penerimaan mahasiswa baru tahun 1966 dan bertambah lamanya masa kuliah.

Angkatan ’64 adalah angkatan pertama yang dititipi mahasiswa yang berafiliasi dengan Fakultas IPB yaitu lima mahasiswa tingkat III dari Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kelima mahasiswa tersebut adalah Ridwan Hasan, Hermani, Riwung Tumon, Fachruddin dan Soepatmo Harsono Benu. Kesemuanya berhasil menyelesaikan S1 di Fahutan IPB.

Dari ±70 (tujuh puluh), mahasiswa yang berhasil menyelesaikan kuliahnya sebanyak 42 (empat puluh dua) orang, selebihnya berhenti di tengah jalan dengan pelbagai alasan: dikeluarkan karena terlibat G30S, pindah ke universitas lain, dan lain-lain. Lama pendidikan umumnya paling cepat enam tahun. Dengan terjadinya G30S, kuliah bertambah satu tahun, maka jadilah minimal tujuh tahun untuk bisa menyelesaikan kuliahnya. Belum lagi kendala menyelesaikan skripsi yang tidak ada batas penyelesaian. Maka banyak mahasiswa yang terlambat dalam penyelesaian akhirnya.

Kehutanan saat itu di bawah Direktorat Jenderal Kehutanan Departemen Pertanian. Lulusan Sarjana Kehutanan masih sedikit sehingga semua lulusan Fakultas Kehutanan masih bisa ditampung di Direktorat Jenderal Kehutanan. Namun, uniknya, lulusan Angkatan 1964 relatif banyak memilih Badan Penelitian dan Pengembangan dan dosen. Sebanyak sembilan orang menjadi peneliti atau dosen, yang memilih ke Direktorat Jenderal Kehutanan ada 18 orang, sisanya Perum Perhutani empat orang, PT Inhutani satu orang, dan Guru SMA satu orang.

Dari 42 yang lulus, saat ini tinggal 23 orang dengan umur rata-rata di atas 72 tahun, sedangkan sisanya sebanyak 19 orang secara bergantian dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. Dari 23 orang tersebut 13 di antaranya berdomisili  di Bogor.

Pada saat pertama kali asrama Sylvasari digunakan  tahun 1968, listrik menyala dibatasi sampai jam 12 malam. Kadang-kadang bray pet, akibatnya sering terjadi asrama kekurangan air. Masalah timbul apabila ada panggilan “ke belakang”. Nah bisa dibayangkan, kan, bagaimana melakukannya dalam gelap gulit hutan karet ini.

Pagi-pagi kalau persediaan air habis, berduyun-duyun mahasiswa bergantian mandi ‘air nyusu’ di bawah pohon karet depan kiri asrama. Akibatnya karena terlalu sering memakai ‘air murni’ tersebut banyak anak asrama terkena penyakit gatal-gatal sekitar selangkangan alias “kupret”.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.