Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|19 Maret 2021

Pola Makan yang Ramah Lingkungan

Pola makan yang sehat dan ramah lingkungan akan mengurangi emisi bumi sehingga mencegah krisis iklim. Caranya: kurangi makan daging.

EMISI adalah jejak aktivitas mahluk hidup di bumi. Rata-rata produksi emisi global per kapita tahun 2017 sebesar 4,8 ton setara CO2. Indonesia masih berada di bawah rata-rata global dengan 2,28 ton per orang per tahun. Negara dengan jumlah emisi paling tinggi adalah Australia, dengan 17 ton per orang per tahun, disusul Amerika Serikat, dan Kanada.

Produksi emisi global dipengaruhi oleh pola makan, terutama makan protein hewani. Emisi global sebanyak 51 miliar ton setahun, sebanyak 80% terkait dengan pemenuhan pangan. Orang Amerika paling banyak makan daging dengan konsumsi 120 kilogram per tahun. Orang India yang vegetarian 4 kilogram per orang per tahun. Orang Indonesia lebih kecil lagi, 2,8 kilogram per orang per tahun. 

Dengan sumbangan yang besar terhadap produksi emisi, diet menjadi jalan lain menguranginya. Sejumlah peneliti Universitas Oxford Inggris coba menghubungkan pola makan nabati dengan produksi emisi. Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PNAS pada 2016, mereka menyimpulkan diet global dengan mengurangi makan daging akan memiliki tiga keuntungan: menekan angka kematian, mengurangi emisi, dan menaikkan pertumbuhan ekonomi.

Metode penelitiannya adalah membandingkan angka-angka produksi emisi dan konsumsi daging dengan proyeksi keduanya pada 2050. Tahun ini adalah tahun pencapaian target pengurangan emisi semua negara untuk menekan kenaikan suhu bumi di bawah 1,50 Celsius dibanding masa praindustri 1800-1850.

Ada dua pola diet yang mereka teliti: responden yang menerapkan pola diet global dan vegetarian. Pola diet global adalah mengurangi asupan gula di bawah 50 gram sehari, konsumsi daging merah maksimal 43 gram sehari, dan total asupan energi 2.200-2.300 kilo kalori sehari.

Konsumsi daging merah secara global naik 58% dalam 20 tahun terakhir mendekati 360 juta ton setahun. Padahal pertumbuhan populasi saja hanya 54%. Kini ada 7,8 miliar manusia yang nongkrong di planet bumi.

Hasil penelitian itu lumayan mengejutkan. Jika dunia mengurangi makan daging sesuai pola diet global saja, akan menghindarkan 5,1 juta kematian setahun. Karena menerapkan pola vegetarian secara global tidak mungkin, dalam hitungan peneliti diet global akan menurunkan 6-10% tingkat kematian akibat penyakit jantung, obesitas, dan stroke. 

Bagaimana pengaruhnya terhadap emisi? Amat signifikan. Jika tak ada pola diet global, jumlah emisi gas rumah kaca yang dipicu oleh konsumsi akan naik 33% pada 2050 menjadi 11,4 miliar ton. Dengan melakukan diet melalui pengurangan konsumsi daging merah emisi bisa ditekan 29-70%.

Sementara nilai ekonomi dari pengurangan konsumsi daging juga melonjak. Para peneliti memperkirakan biaya kesehatan yang akan terpakai menangani pelbagai penyakit mematikan mencapai US$ 1-31 triliun atau setara 13% produk domestik bruto secara global. Jantung, stroke, dan obesitas adalah tiga penyakit yang berkaitan dengan konsumsi daging paling mematikan di dunia.

Penjelasan mengapa daging amat berkorelasi dengan produksi emisi karena peternakan memakan lahan tak sedikit. Artinya, luas hutan yang terpakai akan makin banyak sehingga penyerapan emisi karbon makin sedikit. Peternakan juga menghasilkan gas metana, gas yang 25 kali lebih berbahaya dibanding karbon dioksida.

Emisi yang menguap itu kemudian berkumpul di atmosfer, memantulkan kembali panas matahari dan emisi bumi kembali ke planet ini. Akibatnya, suhu bumi naik secara perlahan. Tahun lalu jumlah gas rumah kaca di atmosfer mencapai 414,3 part per million yang menaikkan suhu hingga 0,90 Celsius, kenaikan tertinggi sepanjang sejarah.

Dunia sedang berkhidmat pada target menurunkan emisi pada 2050-2100 tak melebihi 2C. Caranya dengan menurunkan emisi. Menurut para peneliti Universitas Oxford Inggris itu salah caranya adalah dengan mengubah pola makan, khususnya mengurangi konsumsi daging merah.

Agaknya seruan ini bertolak belakang dengan rencana pemerintah banyak negara. Indonesia sedang berusaha menaikkan konsumsi daging per kapita untuk menyamai konsumsi daging negara ASEAN. Sebab, konsumsi protein Indonesia masih 8%, bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 30%. Karena itu, alih-alih mengurangi konsumsi daging merah, Indonesia justru sedang coba menaikkan konsumsi. Bahkan dengan daging impor.

Menurut para peneliti Oxford, negara berkembang justru diuntungkan dengan pengurangan konsumsi daging karena emisi berkurang hingga 76%. Mana yang akan kita pilih? Seharusnya teknologi bisa mendorong ke arah itu: menciptakan protein setara hewani melalui nabati sehingga tak harus menyembelih hewan dan mendirikan peternakan besar.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain