Untuk bumi yang lestari

Surat dari Darmaga|25 Desember 2020

Hari Raya Ramah Lingkungan

Umat beragama merayakan hari besar dengan kegembiraan, yang kemudian jadi berlebihan. Perlu mengembalikan hakikat perayaan pada makna spiritual yang selaras dengan lingkungan.

HARI ini, umat Katolik dan Kristen merayakan Natal, peringatan hari kelahiran Yesus Kristus yang dikenal Isa Al-Masih dalam ajaran Islam. Seperti juga hari raya keagamaan, Natal (dalam kondisi normal) diperingati dengan penuh keagungan dan kegembiraan. 

Hal yang sama, misalnya, dilakukan oleh umat Islam saat merayakan Idul Fitri atau Idul Adha. Semangat untuk bergembira dan suka cita ini tentu tumbuh dari rasa syukur akan datangnya hari penting ini. Seiring dengan berjalannya waktu, ada begitu banyak tradisi yang kemudian menyertai perayaan ini. Bahkan tradisi ini bisa berbeda dari satu tempat ke tempat lain.

Sebagian tradisi dalam perayaan keagamaan (tidak khusus pada Natal) ini mencoba menerjemahkan kegembiraan dengan konsep yang kadang berbeda dari tujuan awal diperingatinya hari raya tersebut. Kegembiraan yang berlebih sering kali diterjemahkan dengan keberlebihan dan keberlimpahan yang hal itu semua berujung pada kemubaziran.

Dalam Islam, misalnya. Peringatan Idul Fitri sering dimaknai dengan baju baru, makanan berlimpah, dan tradisi pulang kampung. Semua kegiatan itu, sayangnya, mengeksploitasi energi secara berlebihan. Akibatnya, di saat puncak perayaan keagamaan jumlah sampah meningkat berkali lipat, demikian juga dengan emisi gas karbon. Mungkin hanya hari raya Nyepi yang dilaksanakan oleh umat Hindu Bali yang justru menurunkan pemakaian energi.

Masalahnya, keberlebihan dan keberlimpahan itu muncul bukan dari aktivitas keagamaannya, tapi dari tradisi yang menyertainya. Tidak hanya tradisi, kerap kali komersialisasi berperan sangat besar. Dalam perayaan keagamaan, termasuk Natal dan Idul Fitri, keinginan kita untuk berbelanja lebih tinggi dari hari biasanya. Dan yang kita belanjakan lebih banyak tidak berhubungan dengan upacara keagamaannya, tapi lebih pada tradisi.

Misalnya soal memakai baju baru saat hari raya. Hal ini tentu tidak muncul dari anjuran keagamaan. Ini adalah tradisi yang awalnya memiliki niat baik, yaitu ingin tampil istimewa di hari raya. Hanya saja belakangan kita tahu, perputaran ​fashion​ memiliki sumbangan terhadap kerusakan lingkungan. Demikian juga tradisi pulang kampung yang menggerakkan jutaan orang dalam satu waktu.

Contoh lain, soal makanan dan sampah. Di Indonesia, saat Ramadan, sampah makanan naik lebih dari 25% dibanding hari-hari biasa. Ini adalah paradoks yang menyedihkan, karena pada Ramadhan umat Islam justru diminta untuk menahan nafsu, termasuk nafsu makan.

Untuk menghindari paradoks seperti itu, kita sebenarnya cukup melakukan hal yang sederhana, yaitu mengembalikan makna spiritual dari perayaan keagamaan. Kita cukup mengembalikan makna kegembiraan, dari kegembiraan yang dibungkus oleh tradisi dan komersialisasi, menjadi kegembiraan yang khusyuk, tenang, dan spiritual.

Ada dua keuntungan yang kita dapat dengan melakukan hal ini. Pertama, kita akan mengembalikan perayaan keagamaan pada makna aslinya. Kedua, hal ini akan menjaga bumi lebih hijau dan tidak tereksploitasi.

Sarjana Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo

Bagikan

Komentar

Artikel Lain