Pojok Restorasi

Teknik Restorasi di Rawa Gambut

Selasa, 13 Oktober 2020 09:45 WIB

Gambut yang miskin hara dimanfaatkan masyarakat menjadi perkebunan dengan membuka parit. Cara yang bertentangan dengan sifat alami gambut ini perlu restorasi menyeluruh.

Aryo Winoto

Spesialis Hidrologi Katingan-Mentaya Project

MAYORITAS lahan gambut Indonesia berupa gambut pesisir yang tergolong ke dalam gambut omrogen dengan sumber air yang terbatas hanya dari curah hujan. Penyebabnya karena lokasi jenis gambut ini dibatasi tanggul sungai. Akumulasi biomassa pada daerah tersebut membuatnya wilayah gambut ini tak mendapatkan aliran air dari ekosistem lain.

Kita tahu, secara alami, gambut harus senantiasa basah. Jika ia tak cukup pasokan air, sebuah wilayah gambut akan rawan rusak dan menimbulkan kebakaran.

Pada gambut omrogen, karena air sedikit, unsur hara pada gambut ini juga rendah, sehingga masyarakat kesulitan mengolahnya. Akibatnya, gambut omrogen acap disebut lahan tidur. Sumber daya yang disediakan hanya hasil hutan berupa kayu atau untuk lokasi berburu. Untuk keperluan itu masyarakat membuat kanal atau parit untuk mengaksesnya.

Setelah ilmu pengetahuan berkembang, terutama pada bidang perkebunan dan pertanian, orang mulai menengok gambut untuk budidaya. Caranya dengan “mengubah” sifat alami gambut melalaui intervensi kanal dan parit, untuk menjangkau dan membuka lahannya.

Pembuatan parit atau kanal ini sangat berpengaruh terhadap neraca hidrologi di lahan gambut. Sebelum ada parit, gambut bisa menampung dan menahan air sepanjang tahun (saat kemarau dan penghujan). Keberadaan kanal membuat peran lahan gambut dalam suatu ekosistem berkurang. Juga menaikkan potensi kerawanan, berupa kebakaran, yang berpengaruh pada iklim global.

Maka gambut yang terintervensi manusia ini perlu upaya restorasi. Caranya dengan mempertimbangkan beberapa hal di bawah ini:

  1. Secara alami, neraca hidrologi gambut harus positif atau imbang. Karena itu kita harus melihat wilayahnya berdasarkan daerah aliran sungai (DAS) dan sub-DAS. Dari sini bisa kita ukur parameter yang berpengaruh terhadap wilayah tersebut.
  2. Selain faktor wilayah gambut berdasarkan DAS, restorasi hidrologi juga perlu memperhatikan kewilayahan berdasarkan resor. Penentuan resor bisa berdasarkan pada beberapa faktor, antara lain luas wilayah, batas administrasi, atau tingkat kerawanannya. Masalah di sebuah resor sangat bervariasi, dari sosial, ekonomi, kependudukan, lingkungan. Keberadaan parit mesti ditinjau dari aspek-aspek ini agar tak makin merugikan masyarakat. Di gambut, biasanya, parit berfungsi untuk transportasi, sumber air penduduk, sumber air ternak, meskipun ada juga parit yang sudah tak terpakai.
  3. Identifikasi parameter yang berpengaruh berdasarkan wilayah sub-DAS akan menentukan rekayasa dalam restorasi gambut. Sedangkan identifikasi permasalahan berdasarkan kewilayahan resor akan menentukan solusi agar selaras dengan kepentingan masyarakat itu, sekaligus memberdayakan mereka. 
  1. Rekayasa teknik mesti melihat fungsi parit terhadap masyarakat, sebagai berikut:
    • Jika parit masih memiliki peran yang vital, seperti sumber air dan transportasi, perlu ada perencanaan matang dan permodelan, fisik ataupun matematis. Ini tahap yang perlu waktu karena membutuhkan serial data sebelum membuat keputusan.
    • Jika parit sudah tidak memiliki fungsi atau manfaat kepada masyarakat, intervensinya bisa dengan langsung menguburnya.
    • Poin a akan menentukan tingkat kepercayaan masyarakat karena mereka masih bergantung pada parit tersebut. kepercayaan masyarakat sekitar krusial karena akan mempengaruhi kelancaran program restorasi gambut.
  2. Wilayah gambut berdasarkan sub-DAS resor harus berjalan secara beriringan. Rekayasa teknis tetap mengedepankan kebutuhan masyarakat:
  • Jika parit sebagai jalur transportasi, program restorasi mesti mempertahankannya agar fungsi tersebut tak membuat kebutuhan masyarakat terganggu.
  • Jika parit menjadi sumber air, program restorasi bisa memakai cara sederhana namun optimal seperti membuat dam kecil. Dari sini bisa dilanjutkan program sanitasi yang sekaligus bisa mencegah pembalakan liar yang acap memanfaatkan kenaikan muka air sebagai jalur transportasi pengangkutan kayu.

Restorasi tidak akan berjalan jika tidak memperhatikan masalah sosial. Sehebat apa pun rekayasa teknis dalam restorasi, jika menimbulkan masalah sosial di masyarakat, program tersebut tidak akan berjalan.

Sebuah program restorasi ataupun konservasi tidak bisa hanya melarang, karena masyarakat sekitar memiliki kebutuhan hidup, meski wilayah gambutnya berada di taman nasional. Di Indonesia banyak taman nasional yang berdampingan langsung dengan daerah wisata, sehingga perlu solusi lain, seperti menerapkan zonasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar.

Restorasi juga tidak bisa berjalan hanya di satu aspek saja, misalnya hanya memperhatikan urusan hidrologi. Restorasi memerlukan studi dan solusi komprehensif berdasarkan wilayah. Sebuah program restorasi harus menyentuh masalah secara menyeluruh, dari pengamanan wilayah akibat pembalakan liar, kebakaran, perburuan.

Terpenting dari itu semua, restorasi ekosistem di sektor pemulihan kawasan hutan adalah pemberdayaan masyarakat. Sejarah telah memberi pelajaran, intervensi hanya pada satu aspek dalam restorasi gambut hanya menciptakan masalah berikutnya yang lebih kompleks.

Artikel ini terbit atas kerja sama Forest Digest dan Katingan-Mentaya Project.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain