Surat dari Darmaga

Quran dan Lingkungan Menurut Seyyed Hossein Nasr

Jumat, 18 September 2020 17:05 WIB

Seyyed Hossein Nasr satu dari sedikit ulama Islam yang konsen pada isu lingkungan. Menurut dia, wahyu Quran tak hanya punya dimensi religius, tapi pandangan soal lingkungan.

Qaris Tajudin

Sarjana Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo

TULISAN pertama saya di Forest Digest membahas tentang sedikitnya ulama Islam yang membahas tentang lingkungan hidup. Banyak komentar atas tulisan tersebut. Sebagian besar pembaca merasakan hal yang sama dengan apa yang saya tulis. Beberapa di antaranya memberi kritik dan komentar agak pedas. Mereka mengatakan bahwa ada banyak ulama yang membahas tentang lingkungan hidup.

Tentu saja saya setuju dengan pernyataan tersebut. Di tulisan itu saya tidak mengatakan tidak ada ulama yang bicara tentang lingkungan hidup. Yang saya katakan adalah, ulama yang seperti itu tidak banyak. Di antara yang tidak banyak itu adalah Seyyed Hossein Nasr.

Nasr seorang ilmuwan asal Iran yang kemudian mendapatkan beasiswa untuk menyelesaikan kuliah di Massachusetts Institute of Technology (MIT) bidang Fisika. Di tahun 1954, dia adalah orang Iran pertama yang menyelesaikan kuliah di universitas teknologi terbaik di dunia itu. Hossein Nasr lalu banyak mempelajari filsafat dari berbagai universitas. Dia kini menjadi profesor kajian Islam di George Washington University.

Sejak awal Nasr telah tertarik pada isu lingkungan. Hal ini dia curahkan dalam bukunya yang populer The Encounter of Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. Buku ini terbit pada 1968, jauh sebelum kita kini ramai bicara soal kerusakan lingkungan.

Sebenarnya buku ini tidak khusus bicara tentang Islam dan lingkungan. Ini adalah perjalanan spiritual yang mengeksplorasi hubungan antara manusia dan lingkungan sebagaimana ada dalam ajaran Tao, Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam, terutama dalam ajaran sufi.

Nasr yakin, baik dalam Alquran maupun hadits (sabda Nabi SAW), ada banyak rujukan yang memerintahkan kita untuk melindungi alam semesta. Salah satu ayat Alquran yang sering dikutip soal lingkungan, menurutnya, adalah saat Tuhan meminta manusia menjadi khalifah yang berarti wakil, yakni pelindung dari ciptaan Tuhan.

Masalahnya yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Manusia seperti pagar makan tanaman. Bukannya menjaga alam, manusia malah merusaknya dengan dalih, ‘Kan kita makhluk paling mulia, kan kita menguasai alam’.

Itulah mengapa, dalam penelitiannya, Nasr melihat bahwa di sebagian besar negara muslim (termasuk negara-negara yang mengikrarkan diri sebagai negara berasaskan Islam), tugas perlindungan pada alam tidak dijalankan oleh pemerintah (negara) atau organisasi Islam.

Tugas ini justru dilaksanakan oleh individu dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Tentu ada sedikit perubahan dalam beberapa tahun terakhir saat beberapa organisasi Islam mulai turun di sini.

Meski ada sedikit perubahan positif akhir-akhir ini, pandangan umat Islam pada lingkungan masih sangat terbatas pada hal permukaan, seperti tidak menebang pohon atau buang sampah sembarangan.

Pandangan kita masih belum mendasar pada akidah dan cara berpikir. Itulah kenapa soal lingkungan belum menjadi fokus utama organisasi-organisasi itu, meski mereka sudah mulai mengangkatnya. Kalaupun ada gerakan penyelamatan lingkungan, itu lebih karena adanya krisis (misal krisis air) dibanding karena dorongan ketaatan agama.

Ada banyak pandangan menarik dari Hossein Nasr soal lingkungan dan Islam, termasuk bagaimana dia memandang banyak istilah atau terminologi dalam Islam yang selama ini kita lihat hanya memiliki dimensi religius, tapi dalam penjabaran Nasr, istilah-istilah itu juga memiliki makna lingkungan. Dalam tulisan-tulisan mendatang kita akan membedah satu per satu pandangan tersebut.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain