Surat dari Darmaga | 07 Febuari 2020

Mengapa Tak Banyak Ustaz Berceramah Soal Lingkungan?

Tak banyak ustaz atau penceramah agama menyinggung soal pentingnya menjaga lingkungan. Padahal ada begitu banyak ayat yang melarang kita berbuat kerusakan di muka bumi, merusak laut dan daratan, atau berbuat kerusakan di ladang-ladang pertanian.

Qaris Tajudin

Sarjana Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo

DI hari Jumat seperti sekarang ini saya sering berharap ada khatib yang berbicara tentang lingkungan hidup. Tidak perlu bicara yang jauh-jauh tentang pemanasan global, cukup bicara tentang sampah plastik dan bagaimana dampaknya pada lingkungan. Itu saja sudah cukup. Misalnya, bagaimana gelas plastik air mineral yang kita bagikan di berkat pengajian itu akan punya dampak panjang pada lingkungan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah mendengar khotbah Jumat (atau ceramah agama) seperti itu. Kalau pun ada, hanya disinggung sedikit sebagai pelengkap khotbah. Agak mengherankan kenapa soal lingkungan hidup, yang kerusakannya dirasakan oleh orang satu bumi ini tidak menjadi perhatian para penceramah agama? Kenapa isu raksasa yang mengancam kehidupan kita di bumi ini tidak menjadi agenda penting bagi kaum beriman?

Saya memang tidak pernah membuat atau membaca riset tentang kepedulian para ustaz soal ini, tapi dari semua khotbah Jumat, kultum setelah salat, atau ceramah di televisi yang saya dengar, jarang sekali hal ini diangkat.

Indonesia—sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar—merupakan salah satu penyumbang terbesar sampah plastik dunia. Itu belum termasuk kerusakan lingkungan lain, seperti pembakaran dan pembabatan hutan.

Mungkin, karena soal lingkungan hidup dan pemanasan global bukan perhatian utama kita. Mungkin karena kita menganggap bahwa Tuhan tidak menggarisbawahi hal ini, dan karenanya kalah penting dibanding hal lain.

Benarkah begitu?

Benarkah soal lingkungan hidup di bumi ini bukan topik penting bagi agama?

Saya justru melihat sebaliknya. Masalah lingkungan hidup adalah salah satu concern utama agama. Bahkan menjaga kelangsungan kehidupan di bumi adalah tujuan kita diciptakan. Hal itulah yang diungkapkan oleh Allah SWT saat ingin menciptakan manusia dan memberitahukan rencana itu kepada para malaikat.

Hal ini tertuang di surat Al-Baqarah ayat 30: “Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada malaikat : ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah.” (Al-Baqarah: 30).

Ayat ini kerap salah dimengerti dan dianggap sebagai dalil akan wajibnya khilafah atau negara Islam. Secara terminologi, khalifah sendiri sebenarnya bukan berarti pemimpin, tapi wakil.  Wakil siapa? Wakil Tuhan. Jadi, Allah memberitahukan kepada malaikat bahwa Ia ingin menciptakan wakil-Nya di muka bumi.

Malaikat saat itu juga ketakutan atau khawatir, wakil Tuhan itu nantinya akan menumpahkan darah dan berbuat kerusakan. Kenapa? Karena sepertinya malaikat juga sadar bahwa makhluk yang diberi kewenangan begitu besar akan cenderung untuk menyalahgunakannya. 

Itu kalau khalifah diartikan sebagai pemimpin di muka bumi yang mendapat kewenangan dari Tuhan.

Kita harus memperhatikan kata Tuhan di ayat 30 itu. Sebagaimana di surat An-Naas, tuhan dalam terminologi Al-Quran ada tiga: Ilah (Tuhan yang disembah), Malik (Tuhan yang menguasai), dan Rabb (Tuhan yang menumbuhkan dan menciptakan). Di ayat 30 surat Al-Baqarah itu, Allah tidak memakai kata ilah atau malik, tapi Rabb.

Artinya, kita tidak diminta menjadi wakil dari kekuasaan Tuhan (bukan sebagai pemimpin) apalagi wakil dari Tuhan yang disembah, karena dalam Islam tidak ada perwakilan penyembahan. Memakai kata Rabb karena kita diminta menjadi wakil dari Tuhan yang menumbuhkan alam semesta. Karenanya, tugas utama khalifah adalah memelihara dan menumbuhkan kelestarian di muka bumi.

Ini klop dan sejalan dengan konsep Islam sebagai rahmatan lil-alamin, cinta kasih untuk seluruh alam. Konsep ini hanya bisa dijalankan oleh khalifah atau wakil Tuhan yang selalu mengembangkan kelestarian di muka bumi.

Ini juga sejalan dengan perkataan Rasul: “Aku ini diutus hanya untuk menyempurnakan moral.”

Dengan moral dan cinta, tugas khalifah (sebagai pelestari dan pengayom kelestarian alam) bisa dilakukan.

Karenanya, agak aneh jika seorang mengaku muslim, ingin memperjuangkan khilafah, tapi senang menebar kebencian (bukannya cinta kasih). Aneh kalau orang bicara moral (bahkan ingin ada polisi moral), tapi tidak menjaga kelestarian lingkungan, buang sampah sembarangan, mendukung penggundulan hutan.

Dengan memahami tujuan penciptaan seperti itu, maka bisa dimengerti mengapa begitu banyak ayat yang melarang kita berbuat kerusakan di muka bumi, larangan melakukan kerusakan di laut dan daratan, atau di ladang-ladang pertanian. Selama ini ayat-ayat itu ditafsirkan sebagai larangan berbuat kerusakan moral, bukan lingkungan. Ini ada benarnya, tapi itu merupakan makna kedua yang didapat dari ta’wil. Adapun makna pertama yang tertangkap langsung oleh nalar kita adalah kerusakan dalam arti yang sesungguhnya.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.