Surat dari Darmaga | 28 Juli 2020

Jazz dan Hutan Kita

Catatan dari Darmaga Jungle Jazz 2013 Idang Rasjidi and his friends. Para musisi perlu berperan dalam mengingatkan pengelolaan hutan lestari.

Azis Khan

Peminat isu ekonomi lingkungan hidup dan sumber daya alam

DI Kampus Fakultas Kehutanan IPB University di Darmaga Bogor, Jawa Barat, tiap tiga tahun ada “Darmaga Jungle Jazz”. Saya pernah menontonnya pada 28 September 2013 malam dan membuat catatan ini. Ketika menengok lagi catatan lama ini, isinya masih relevan, terutama karena Substansinya masih relevan.

Musisi jazz Idang Rasjidi jadi semacam fasilitator sekaligus sutradara Darmaga Jungle Jazz tahun 2013 itu. Dibuka dengan nomor On Broadway karya George Benson, Mus Mujiono mulai menghangatkan suhu Darmaga yang mulai mendingin malam itu. Menyusul Sheena XFactor dengan dua lagu Beatles yang dimodifikasi dengan cita rasa jazz.

Lalu Yendri Blacan dengan lagu Arti Kehidupan – sebuah lagu ciptaan dan andalan Mus, kali ini dimainkan dengan cengkok melayu Sumatera yang dominan. Mus bergabung di lagu ini dan berimprovisasi meniru cengkok Melayu. Dan bisa!

Perhelatan jazz itu juga diperkaya dengan warna seriosa klasik dengan penampil Putu Sastrani dengan dua nomor, salah satunya Di Bawah Sinar Bulan Purnama karya Maladi, sebelum akhirnya Sheena kembali tampil menutup perhelatan dengan Misty karya Frank Sinatra.

Selama hampir tiga jam “Idang and his friends” mengolah emosi penonton. Idang tidak saja berhasil menunjukkan bahwa jazz bukan genre ekslusif, ia berhasil pula mengemas pesan “politik lingkungan” melalui musik.

Ia memperkaya pertunjukkan dengan menyelipkan sejumlah pengantar filsafat: tentang jazz, tentang kondisi negara, tentang hutan dan alam sekitar. Ia coba mengurai kondisi negara dengan analogi struktur fisik botanis sebatang pohon.

Rakyat itu, kata Idang, ibarat akar yang harus kuat untuk menopang batang, yakni bangsa. Cara menopangnya antara lain melalui peran kontrol yang kuat, agar pemerintah yang menjadi ranting-rantingnya, tetap produktif seperti daun yang menyejahterakan seluruh penduduknya, yakni keseluruhan pohon.

Analogi Idang ini menarik dan istimewa. Celetukan-celetukannya menyentil. Misalnya, Idang mengatakan, “plin-plan adalah cara paling aman saat ini”. Pesannya jelas. Idang jengkel dengan pemberantasan korupsi yang lambat, pembenahan yang lamban, termasuk menata lingkungan hidup.

Setelah menyentil situasi politik nasional, Idang masuk ke tataran praktis. Ia menantang penonton para mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan IPB, termasuk Dekan Fakultas Kehutanan IPB yang menonton, membuat Gerakan Menanam Sejuta Pohon. Idang berjanji akan membuat lagu khusus untuk gerakan ini. Secara gratis.

Sebuah tantangan yang tampak sederhana. Tantangan dan tawaran itu memerlukan pemikiran lebih lanjut, setidaknya dalam menata ulang motivasi, tujuan, orientasi dan tentu saja kesiapan untuk mengeksekusinya.

Tanpa pemikiran mendalam, kita akan terjebak dalam dua lubang sekaligus: membangun solusi tanpa masalah dan pendangkalan diskursus pembangunan kehutanan sebatas kegiatan tanam-menanam dalam pengertiannya yang sempit.

Meski begitu, eksekusi tantang itu biar menjadi pekerjaan rumah dekan dan para rimbawan. Pesan Idang di “Darmaga Jungle Jazz 2013” itu layak direnungkan karena punya esensi yang tidak kalah pamor dengan isu-isu global yang mewabah dengan segala jargonnya.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain